Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Motivasi

November: Tidak Mudah dan Dimudahkan

Gambar: Pixabay Motivasi-  Momen terindah dalam hidup saya adalah ketika mampu melewati beberapa kesempatan dengan penuh tanggung jawab meski kadang dituai oleh banyak cibiran dari orang-orang di sekitar. Hidup di tengah keberlainan itu indah dan sudah tentu unik. Siap menerima lalu introspeksi diri agar menjadi lebih dewasa dalam tindakan, itu adalah kuncinya. Menerima semuanya, itu boleh-boleh saja tetapi tidak semua harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata dalam berinteraksi. Bahaya akan datang jika ada kejanggalan yang terjadi di sana. Selain pujian, dirimu juga akan dihimpit oleh riuhnya tepukan tangan. Telingamu akan memerah dan dipenuhi kebisingan yang sumbang dan tak bermutu. Semoga tak hilang arah setelahnya.  Ada banyak orang yang dengan sangat mudah mengukur kita dari cara kita menerima dan memberi. Mudah sekali memberi nilai kepada orang lain tetapi untuk diri sendiri, apakah siap untuk dinilai? November hampir usai. Perjalanan masih panjang dan pencarian bel...

Oktober dan Pertemuan-pertemuan

Oleh: Fian N Daun sudah pasti gugur ketika waktunya untuk menikmati hidup sudah berakhir tetapi bukan berarti ia tak perlu dikenang lagi. Sebab, ia adalah cerminan tabah dari manusia, yang selalu siaga meski diterpa angin, sepoi maupun kencang. Seperti hidup manusia itu sendiri. Bertahan di tengah keadaan yang kadang memunculkan banyak sekali tanda tanya, apakah hidupku akan berakhir sampai di sini? Atau akan terus berlanjut agar bisa melewati sisa badai ini?  Oktober tahun ini, untuk aku, adalah badai itu sendiri. Bukan karena terpaksa aku mengatakan ini tetapi fakta yang berbicara, tanpa harus ada data yang akurat, aku sudah dan bahkan sedang mengalami ini. Aku juga adalah daun, yang selalu dimainkan angin tanpa arah. Dalam sabar yang terukur, aku bersyukur masih dipercayai semesta untuk bertahan entah sampai kapan.  Pertemuan-pertemuan sederhana tanpa rencana, yang tak harus aku sertakan di sini, adalah kesempatan yang sungguh amat baik untuk aku. Aku didorong untuk selangk...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Tentang Jodoh, Mari Belajar dari Denny Sumargo

  Denny Sumargo dan Olivia Allan (Merdeka.com)  Pernah saya temukan ungkapan yang menyatakan demikian, ada orang mau menikah karena melihat orang sedang ramai-ramainya menikah. Jujur, sebetulnya tidak salah juga dengan ungkapan tersebut dan tidak benar juga bahwa ungkapan itu benar. Semua, pasti punya pertimbangan. Apakah setelah menikah, salah satu di antaranya akan menjadi bucin untuk pasangnya, itu haknya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sana. Tapi, warga +62 kadang lupa diri dan sok care dengan kehidupan orang lain, padahal faktanya, hidupnya sendiri bagai perahu tanpa kemudi di tengah lautan luas. Saya, misalnya.  Hahahah, kenapa sampai begitu? Ok kembali kepada topik pembicaraan tentang jodoh. Menurut KBBI, jodoh itu adalah sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang. Atau, orang yang cocok menjadi suami-istri.  Di sini jelas, sesuatu yang cocok. Artinya, kecocokan itu tidak ditemukan dalam waktu yang singkat. Butuh perjalanan panjang untuk sampai pa...

Bagaimana Bisa Aku Membuka Hati Setelah Sakit Hati Bertubi-tubi?

Ilustrasi: Pixabay Saya coba menulis ini ketika termotivasi oleh sebuah cuitan status Facebook dari salah satu teman di Facebook. Status atau lebih tepatnya caption atau keterangan pada fotonya. Teman saya itu perempuan. Dan keterangan foto itu seperti pada judul tulisan ini.  Saya, hampir setiap kesempatan ber-hahhahihi di Facebook, selalu saja saya temukan beraneka ragam cuitan dalam bentuk caption atau celoteh panjang dan pendek dalam bentuk tulisan atau status di beranda Facebook. Itu yang saya temukan pada teman yang satu ini.  Teman saya ini sedang berbicara jujur kepada pengguna Facebook atas apa yang sedang dialaminya. Saya meyakini bahwa dirinya sedang dalam keadaan dilema, seperti lirik sebuah lagu yang sedang asyik di telinga, antara nyaman dan cinta. Ketika berada pada titik ini, nyaman dan cinta itu sirna. Dua-duanya meninggalkan jejak luka yang paling basah. Bagaimana tidak, setelah sekian musim dan sekian purnama berganti, yang (mungkin) ia nikmati adalah kecewa...

Jarak

Ilustrasi dan teks: Fian N   Pada kesempatan ini, saya akan berceloteh tentang jarak dengan kapasitas sebagai penikmat pagi yang sesekali suka menulis. Jika Anda membaptis saya dengan sebutan apa, itu terserah Anda. Tinggal, apakah saya menerima itu atau tidak. Itu, seperti jarak, yang membutuhkan perjuangan untuk dan agar bisa sampai pada perjumpaan. Lantas Anda akan bertanya, mengapa harus ada jarak? Bukankah jarak itu menyiksa?   Karena jarak mengajarkan kita bagaimana cara bertemu yang baik dalam doa.  Ya, saya bisa katakan demikian. Itu menurut saya. Sebab, hanya dengan jarak, saya dan Anda sedang mati-matian berusaha untuk segera bertemu. Jika tanpa, jarak, maka yang hadir di sana adalah sebuah situasi di mana dua insan merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu diperjuangkan.  Coba Anda bayangkan saja. Cukup bayangkan saja jika tak ada jarak. Coba Anda bayangkan bagaimana jarak itu menyiksa Anda?  Hanya karena jarak, Anda tahu bagaimana rindu itu beker...

Masa Lalu

Ilustrasi: Pixabay Saat saya menulis ini, sebenarnya yang Anda baca adalah sebuah kejujuran yang tidak utuh. Anda terjebak dalam dimensi waktu yang akut.  Melihat sesuatu dari kaca mata terserah, tak ada rasa ingin tahu yang lebih dan minimnya kreativitas dalam bertanya. Itu dugaan saya saja, soalnya saya belum melahirkan pernyataan untuk Anda segera bertanya sampai akhirnya membantah. Sebab, yang akan Anda baca, itu yang sudah pernah Anda alami tapi kadang, Anda pura-pura lupa. Bisa saja Anda menjawabnya, tidak pernah, itu hak Anda. Tugas saya satu, mengingatkan Anda dan tentu mengingatkan diri saya sendiri.  Jika Anda tidak merasa perlu untuk diingatkan, silakan tinggalkan tulisan ini dan jangan lanjut membaca. Sebab, bakal sakit hati sudah ada di depan mata. Bisa saja buat Anda menangis dan menghidupkan kembali memori masa lalu Anda. Kalau masih tidak percaya, silakan lanjut membaca tulisan receh ini sampai selesai.  Ah, saya salah bahwa tulisan ini tidak akan pernah s...

Tangan

Ilustrasi: Pixabay Jangan berharap bisa menerima jika tidak pernah memberi. Jangan berharap bisa memberi jika tidak pernah menabur, Fian N.  Di tangan ini, semua itu bermula, entah itu memberi atau menerima. Di tangan ini pula, aku pernah menerima beraneka kesedihan yang kau bawakan setelah petualangan malang kau dengannya. Dari tangan inilah aku belajar bagaimana melepaskan yang tak pantas aku genggam meski telah melewati beberapa musim kenyamanan. Dan, hanya tangan keterbukaan yang bisa ikhlaskan semua itu meski luka kian menganga. Enak Juga Baca ini: Mulut Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

Mulut

Ilustrasi: inilah.com Aku punya satu mulut dan dari satu mulut itu banyak melahirkan kemungkinan yang tak satu pun bisa menjadi sesuatu yang memungkinkan. Dan benar, dari mulut yang satu itu, aku sering dan bahkan berulang kali melakukan sebuah muslihat terstruktur. Sadar atau tidak, hal itu terjadi pada diriku. Dari mulut yang satu, janji diciptakan, di lain pihak siap diingkari. Dari mulut yang sama, kebaikan saya tawarkan, tapi ada dusta yang mengekor. Hampir satu warna atau jujur dan muslihat jalan berbarengan. Mulutku menimbulkan banyak kecurigaan. Kata yang diumbar menjadi penilaian yang serentak menjadi tolok ukur dari pihak pendengar. Di balik kata-kata manis, sering dan bahkan aku rancang sebuah strategi untuk menjatuhkan pihak lain. Dari mulut inilah, aku memiliki banyak kesempatan untuk melahirkan kepercayaan dari pihak lain yang kelak juga akan dicacimaki dan tidak dipercayai lagi. Oleh karena itu, mulutku bukan hanya menjadi harimau tetapi bisa menjadi bumeran...

Untuk Saya

Gambar: Dokpri Maafkan saya jika sering meludahi diri saya sendiri. Maaf jika saya gagal menjadi yang terbaik, selalu memberikan harapan palsu, pergi dan tinggalkan luka yang masih basah. Maaf, jika saya selalu memenuhi diri dengan kebohongan, yang berakhir hilangnya kepercayaan. Luka-luka selalu saya hadiahkan hampir setiap hati, hari. Sampai-sampai saya merasa tak pantas untuk hidup bagi orang lain. Sampai di sini, jika kelak Anda menemukan saya dalam tulisan ini, maafkan saya atas ketidaksempurnaan diri saya ini. Hanya ini yang saya punya. Tak ada yang lebih, semua ada dalam keterbatasan. Saya menulis ini dengan penuh kesadaran sebagai seorang manusia. Jika ada kejanggalan yang Anda temukan, maka jangan heran, sebab inilah saya. Jika di dunia nyata ini kita tidak sempat bersua, maka kita akan bersua di dunia yang lain, setelah kehidupan ini. Dan untuk saya, tulisan ini kupersembahkan. Enak juga baca ini: Siapakah Saya (?) Fian N lahir di antara kabut dan tanah b...

Saya, Maunya Apa?

Ilustrasi: Pixabay Setiap mengawali pagi, apakah kita sadar bahwa ada udara yang keluar-masuk melalui hidung dan mulut? Sesaat setelah itu, kita tersadarkan oleh rasa syukur yang mengalir di seluruh sekujur tubuh setelah puas dari pulas. Merapikan tempat tidur adalah kebiasaan yang kadang membosankan. Seperti doa, juga demikian, ada rasa bosan jika segala pinta tak segera dikabulkan. Minum air putih dan hal-hal sederhana lainnya, kadang disepelekan, mungkin tidak layak dibagikan melalui tulisan, misalnya seperti tulisan yang sedang Anda baca saat ini. Tidak apa-apa, sebab hanya ini yang bisa saya bagikan dari hasil olah-pikir setelah membaca buku dan beberapa fenomena yang terjadi di sekitar, tidak ada yang lebih apalagi istimewa. Dan jika, yang Anda cari hanyalah hal-hal yang luar biasa, ya, itu kembali kepada pribadi Anda masing-masing. Sebab, sejujurnya, saya mau sampaikan, bahwa hanya melalui hal-hal yang sederhana, kita tahu bagaimana caranya mencintai tanpa kenal: yan...

Sering Disakiti, Tapi Masih Juga Bertahan

Ilustrasi: Pixabay Akhir-akhir ini, jujur saya sering mendapatkan cerita dari mereka yang merasa paling patah hati. Ya, dengan sabar, saya mendengarkan curhatan itu. Dengar dan tidak berbuat apa-apa dan sesekali meresponnya dengan penuh keyakinan. Baca Juga: Semua Pilihan Punya Risiko Ini tentang cinta, tapi saya tidak pandai berbicara tentang cinta. Saya mencintai dan dicintai, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya cinta bekerja. Ini yang buat saya tidak paham dan bahkan lebih tidak paham lagi bagaimana misteri cinta itu melingkupi manusia. Sampai akhirnya, saya pun masih belum paham model hubungan cinta kita pada saat ini. Ada yang mati-matian dan rela disakiti asalkan tetap ada bersama. Ada yang sudah tahu sering dimanfaatkan pun masih ada yang ingin bertahan. Ada yang terang-terangan dikekang tapi masih saja betah dalam pelukan kemunafikan. Saya sendiri juga tidak bisa membedakan antara cinta, kasih dan sayang. Tapi, ketika ketiga unsur dalam hubungan ini ada tapi ...

Semua Pilihan Punya Risiko

Ilustrasi: Pixabay Hidup ni enak jika kita menikmatinya dengan tidak enak-enak saja. Sebab, hidup yang datar tanpa ada sesuatu yang meninggalkan kesan, makasih sia-sialah Anda hidup. Kita, Anda dan saya, ketika melakoni hidup ini tentu harus bisa bahkan sebisa mungkin untuk bisa jalani semua tawaran yang ditawarkan semesta kepada kita. Memilih dan memilah lalu menentukan cara hidup mana yang harus dihidupi dan dijalani. Namun semua itu, tidaklah mudah. Memang enak, tapi tidak seenaknya. Baca Juga:  Tentang Luka: Kita Semua Pernah Sama halnya ketika kita sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang di dalamnya ada paku dan lalu. Setelah memaku, kadang ada yang tidak sesuai. Ingin mencabutnya lagi tapi akan ada bekas di sana. Dua pilihan yang penuh risiko. Dan, tibalah pada sebuah kesempatan, kita dihadapkan pada dua perasaan yang bergejolak begitu hebat. Ada keraguan untuk memilih dan menentukan mana yang harus didahului. Tapi, semua punya risiko. Jalan satu-satunya adalah be...

Hidup Ini Baik-baik Saja, Hanya Kita yang Terserah

Ilustrasi: Pixabay Apa kabar hari ini? Apakah lebih baik dari kemarin atau biasa-biasa saja dan tidak ada yang berubah? Atau mungkin tidak merasakan sesuatu yang berubah? Baca Juga:  Bagaimana Caranya Menerima Masa Lalu? Hidup kadang menawarkan kita beragam pertanyaan sampai kita lupa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Kadang kita asyik dengan dunia sendiri dan lupa dengan sesama yang ada di sekitar. Yang merindukan senyuman, tawa, candaan, salaman, senyum, dan sapa. Namun, lebih banyak dari setiap kita yang memilih untuk seperti orang barat pada umumnya, menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Tidak mencampuri urusan orang lain apalagi sampai duduk nimbrung dan asyik gosip dari cerita yang satu ke cerita yang lain. Keadaan sosial seperti inilah yang menjadi pemantik kebencian, dengki, dan iri hati. Tidak heran jika perang mulut sering terjadi. Anak-anak dididik dalam asuhan yang penuh permasalahan. Anak-anak tumbuh dalam kehidupan yang penuh dengan...

Bagaimana Caranya Menerima Masa Lalu?

Ilustrasi: Pixabay Saya sering menerima curahan hati dari beberapa orang yang merasa paling patah hati. Ada curahan hati yang penuh dengan tangisan dan keseriusan dan ada yang hanya coba-coba berbagi kisah orang lain pada diri saya. Saya tidak kaget tapi saya selalu bertanya-tanya, kenapa harus saya yang mereka percayakan untuk dengar curahan hati yang penuh rahasia itu? Bukannya rahasia tidak boleh diceritakan kepada orang lain? Baca Juga:  T entang Luka: Kita Semua Pe rnah Seperti dan sama halnya masa lalu. Setiap kita tentu memiliki masa lalu. Bagaimana kita menerima masa lalu? Kadang seseorang mencari sosok pribadi yang bisa menjadi teman hidup yang bisa saling menerima, salah satunya masa lalu. Tetapi, menemukan pasangan hidup tidaklah mudah. Ada banyak kriteria yang kita tetapkan. Kita tidak bisa bilang tidak. Namun, dari semua itu, kita tentunya memiliki kriteria yang berbeda antara satu dengan yang lain. Mata saya melihat perempuan akan berbeda dengan matamu ...

Tentang Luka: Kita Semua Pernah

Ilustrasi: Pixabay Bangun pagi, masih seperti kemarin tetapi yang berubah hanya posisi tidur saja. Dan, saya mulai sadar bahwa setiap bangun pagi, saya merasakan bahwa saya sementara bernafas. Di setiap tarikan dan hembusan nafas adalah doa dan syukur yang tak pernah uzur. Seperti luka ia selalu subur bahkan tumbuh tabah di sana. Baca Juga: Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka Menyoal luka, kita semua pernah. Tetapi tidak semua kita alami itu dengan cara yang sama. Ada yang unik tetapi sangat menyakitkan. Namun, ada di antara kita yang ingin terus ada dalam luka-luka itu. Ingin pergi tetapi selalu takut akan mulut-mulut sampah yang penuh kebuasan dan menjijikan! Akan ada yang mengatakan bahwa kita bukan pribadi yang baik. Karena ketakutan itu, kita sering diam dan ada terus dalam luka. Pernah saya menemukan sebuah tulisan, tapi saya lupa siapa penulisnya. Dia mengatakan demikian, semua orang punya hak berbicara tentang kita. Tetapi kita juga punya hak untuk tidak mende...

Boy Candra Bilang ‘Cinta Paling Rumit’ itu seperti Basa-basi di Bawah Ini

Ilustrasi: Pixabay Sebelum saya membagikan apa yang ingin saya bagikan perihal membangun hubungan antara kedua insan yang sedang dan saling membina hubungan, terlebih dahulu saya ingin katakan, bahwa saya bukan motivator apalagi pawang cinta, jujur, itu bukan saya. Saya hanya mau bilang begini kalau tidak senang dengan tulisan ini, silakan tinggalkan tidak perlu melanjutkannya sampai akhir. Tetapi jika Anda penasaran, silakan tuntaskan saja bacaan ini dan setelah itu silakan caci maki saya. Sederhana, kan? ini semua gegara kesukaan saya berceloteh melalui tulisan. namun, jika Anda menemukan kalau saya sok menggurui, maafkanlah saya dengan cara caci maki saja saya, seeprti yang sudah saya katakan di atas. Baca Juga:  Persetubuhan dalam Cerita yang tak Jadi Ok, kita mulai. Dari mana? Kalau dari mata turun ke hati, bisa? Pertama, saya sering ditanya dan akhirnya diminta untuk menjawab. Pertanyaannya seperti ini, “Kak, bagaimana cara mempertahankan hubungan kalau ada rasa c...

Bahagia itu tidak Sesederhana yang Dipikirkan

Gambar: Dokpri (Ini ekspresi apa?)  Kesedihan bisa aku lenyapkan, tetapi ketidaksabaran untuk segera menggapai kebahagiaan tidaklah mudah untuk disingkirkan. (Simon de Beauvoir)  Bicara bahagia tak ubahnya kita bicara tentang cinta dan benci. Sulit diraba tapi mudah dirasakan akibatnya. Bergerak seperti rayap. Diam-diam tetapi akibatnya, terdapat keropos pada kayu yang dirayap. Seperti itulah bahagia. Tetapi, tidak semudah yang dipikirkan. Butuh perjuangan dan kemauan, jika hanya perjuangan tetapi tidak memiliki daya juang, maka hanya berakhir sia-sia. Kesia-kesiaan itu terkadang melahirkan banyak sakit pada hati dan depresi yang berkepanjangan. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam ketidaksanggupan bangkit dan terjebak dalam keterpurukan. Baca Juga :  Ketika Semua Tak Ada Di sini: Hanya Ada Kita Berdua Kita melihat dan menemukan orang tertawa dan senyum, ada juga yang menangis di tengah keramaian tawa. Di saat-saat seperti itu, tidak semua tawa, senyum da...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...