Skip to main content

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi: Pixabay

Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu.

Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar.
Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi. 

Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan.

Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru.

Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tanpa kami pasrah.

Sekali lagi, saya hanya bisa mendengar apa yang diceritakannya. Dia tak meminta saya untuk memberikan jawaban. Ia meminta saya hanya untuk menjadi pendengar. Saya benar-benar diam dan jadi pendengar.

Kami sama-sama baru pertama kali melakukan hal semacam itu. Adegan ranjang yang pemula. Darah dan keringat serta bau sperma menguar ke seluruh kamar. Kami puas. Saya memungut pakaian di lantai dan menuju kamar mandi. Dia memilih tidur. Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, dia mengikuti saya. Kami bercinta sekali lagi di dalam kamar mandi.

Saya masih menjadi pendengar. Dan, Tiba-tiba dia menangis. Lalu memeluk saya. Jujur, ini pelukan hangat dan penuh kepasrahan. Tapi saya tidak menangis. Saya hanya menepuk pundaknya tanpa mengelus. Saya takut untuk memeluk dirinya juga. Dia melepaskan pelukan. Lalu lanjut berkisah.

Dia memilih pergi meninggalkan saya setelah puas bercinta dan menikmati darah yang tercecer di ujung kelaminnya. Dia pergi dengan alasan, saya tidak nyaman dengan hubungan kita saat ini. Kata dia waktu itu. Saya pun diam. Dan hanya bisa menangis. Apakah saya terlalu lemah untuk semua itu? Dia memilih pergi setelah keperawananku direnggut dalam seketika. Apakah ini murni kesalahan saya atau dirinya. Apakah kami sama-sama mengagumi kesalahan?

Saya terus menangis. Dia pergi sesuka hati. Apakah saya adalah rumah untuk segala nafsu berpulang? Apakah saya adalah pelabuhan yang hanya untuk digagahi para buruh kapal?

Dia semakin serius berkisah. Saya semakin serius mendengar yang dikisahkan. Saya masih menjadi pendengar ulung dengan terus bersabar, memberikan perhatian penuh terhadap setiap kisahnya.

Saya takut. Saya takut, apakah ada lelaki yang mau menerima lukaku? Apakah ada lelaki yang siap menerima segala keberdosaanku? Semoga ketakutan saya ini tidak menjadi sebuah kenyataan. Dan semoga mimpi saya agar diterima oleh lelaki pada suatu hari nanti, kelak menjadi kenyataan.

Pada bagian ini, saya ingin menjawab dan memberikan sebuah saran kepada ia. Tapi, cepat-cepat ia melarang saya. Tugas saya adalah mendengar. Jika saya menjawab, semua akan berakhir. Ya, sekali lagi, saya memilih menjadi pendengar.

Tapi, sebelum dia benar-benar pergi, kami sempat melakukan adegan ranjang dua bahkan sampai tiga kali. Saya menuruti apa yang dia inginkan. Karena saya yakin bahwa dia benar-benar serius dengan saya. Saya berikan kesempatan untuk dia meski ada keraguan yang tersulut di dalam dada ini. Saya menahan segala gejolak penolakan pada saat itu. Tapi, saya sepertinya sedang menjadi 'budak' nafsunya.

Saya yang semula diam-diam saja, sedikit mulai kesal. Dan sambil bertanya, apakah semua lelaki adalah bangsat? Saya tidak bersuara. Saya berbisik dalam hati. Dia melanjutkan kisahnya. Sebab, saya juga pernah melakukan hal serupa. Menyesal, ya. Tapi itu sudah terjadi dan berharap agar pintu taubat masih terbuka untuk saya yang kini menjadi pendengar.

Apakah saya harus bersedih sesudah ini? Saya rapuh, lemah, tanpa arah. Menangis dan begitu saja setiap hari. Rasanya setiap hari itu adalah kesedihan yang tak pernah berkesudahan. Segala mimpi, pupus dan tak mampu saya terjemahkan lagi ke dalam kenyataan. Segala yang saya banggakan selama ini, kini hilang dan pergi meninggalkan luka.

Apakah setiap kisah percintaan yang tak lagi sejalan harus menemukan pisah? Apakah cara seperti itu adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah?

Diam-diam, saya bergumam dalam hati sambil terus mendengarkannya berkisah, ketika kita tak sejalan dalam cinta, kita hanya perlu mencari jalan lain dan bukannya mencari orang lain untuk memulai sebuah perjalanan baru. Hanya orang yang sabar dan setia, yang mampu berjalan lebih jauh ketika menemukan arah yang salah.

Sampai di sini, saya berharap, dirimu tetap menjadi pendengar. Berharap setia pada setiap kisah yang selalu dikisahkan oleh kerapuhan saya.

Apa yang ia inginkan dari saya, saya penuhi itu. Masih menjadi pendengar tanpa batas waktu yang ditentukan.

Boawae, 2020

Fian N,

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...