Skip to main content

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay

Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur. 

Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin. 

Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musim sudah sedikit bergeser. Siang menjadi pendek dan malam semakin panjang dengan kegelapannya. Rumah itu, kembali sunyi. Hanya sedikit dihibur oleh suara jangkrik dari luar rumah dan angin malam yang menampar pucuk-pucuk mangga dari halaman belakang rumah. Ada asap dari dapur, mencari jalan ke luar dan berusaha menembusi langit-langit malam. 


Rumah itu tetap bernama sunyi. Tetapi, ia selalu ramai dikunjungi oleh angka-angka yang diam-diam menabur dusta di atas wadah kepala yang humus. Dipenuhi siasat dan strategi. “Malam ini, malam rindu. Aku ingin tidur di rumahmu. Jika berkenan, biarkan aku menikmati kesunyian ini barang beberapa menit saja. Melihat sunyi bekerja sebagaimana yang sering ia kerjakan pada tamu sebelumnya.” 

Rumah itu, diam. Kakinya lajang yang kian panjang. Jalang yang kian malang. Malam tak ada penjagaan di sana. Masih dipenuhi kesepian. 

Rumah yang diam-diam ingin meminta tolong kepada siapa saja yang peduli. Kepada siapa saja yang punya hati. Tetapi, ia selalu didiamkan ketika banyak kedatangan yang tak bisa ditolak. Bukan karena sudah dibangun oleh keberdosaan leluhurnya. Dan bukan mereka yang ia ciptakan. Ini murni atas dasar keterpaksaan yang mendesak. Menjual sesuatu yang tak semua orang restui. Dipenuhi kecaman dan cibiran. Penuh dengan tawa dan ketakutan. Keluarganya malu untuk tinggal di dalamnya. Ia dipenuhi penolakan oleh kerabat, diminati kenalan. Kadang, mampir saja tak sempat apalagi memilih menetap. Menjadi yang tak baik adalah sebuah penolakan dari orang-orang yang selalu berpura-pura hidup dalam kebaikan dari balik dosa yang terselubung. 

Rumah yang terpaksa membangun dialog-dialognya sendiri. Bukan pula monolog. Masih ada tembok kepercayaan dan beberapa kuping kesetiaan yang sering menangis melalui mata jendela kesabaran. Pintu-pintunya siap menerima pinta yang datang. Entah, yang datang itu luka atau tawa. Suka atau duka. Tugasnya merelakan siapa saja untuk sekadar datang lalu pergi. Selebihnya, tak perlu dikisahkan. 

Tamu kesedihan tak pernah datang tepat waktu. Kadang datang lebih cepat dari jam yang telah disepakati. Terkadang ia datang terlambat. Takaran kesedihan tak pernah sama. Dipenuhi kesedihan yang tak pernah berkesudahan. 

Rumah itu dibangun di tengah kota. Dirancang sedemikian agar tak pernah sunyi dari kunjungan. Didandani kesibukan. Ditawari kesenangan. Sekali lagi, hanya sementara. Semua yang ada di sekitar takut untuk datangi rumah itu. Rumah yang dirancang untuk ramah kepada pengunjung yang selalu melanggengkan ingin. Minim dalam bersosial. Menutup diri dalam kepura-puraan. 


Yang datang adalah rupa yang palsu. Penuh dusta dalam luapan kesenangan. Mendulang segala kesenangan, lahirkan segala keraguan. Dari semua itu, kesenangan masih menduduki posisi teratas. Rumah itu terus berusaha berteriak dari dalam diam. Namun, ia takut jika tak ada yang mau mendengarkannya. Ingin bersuara tetapi ditolak oleh telinga-telinga angkuh. Tak ada yang berani mendengarkan itu. Semuanya ada dalam diam dan acuh. Semua sibuk dengan kesibukannya masing-masing. 

Rumah itu, merawat dirinya sendiri dengan segala dandanan rutinitas yang penuh maksiat. 

Pagi tiba, rumah itu sepi. Jendela dibuka sedikit saja, selebar tubuh udara yang ingin ke luar masuk. Pagar dibuka seukuran satu tubuh manusia. Tak bisa lebih dari itu. Dari kamar mandi, suara air berebutan untuk segera ke luar dari pengap kebosanan dan dari segala kenangan kegetiran. 

 *** 
Aku sudah bosan dengan kehidupan ini. Kehidupan yang penuh dengan permainan. Permainan dari mereka yang paling menang. Aku selalu dan pasti kalah dengan segala kelebihanku. Semuaku, raib.

Apakah aku ditakdirkan demikian? Apakah aku percaya takdir? Inikah tujuan Tuhan jadikan aku dari rusuk lelaki pertama itu? Apakah karena buah apel itu? Apakah karena ular? 

Setelah semua rekayasa itu dijadikan, mata pedang yang bernyala-nyala diletakkan oleh Tuhan di tengah-tengah taman itu. Menjaga kemungkinan akan ada dosa-dosa yang berkelanjutan. Dosa-dosa itu ternyata berjalan beriringan melewati kesunyian yang begitu gaib hingga darah-darah menjerit dari dalam tanah yang basah oleh musim kemarau. 

Aku semakin tak yakin dengan semua rekayasa ini. Aku berharap, kelak ada penemuan-penemuan terbaru untuk menciptakan dunia yang tak ada satu pun manusia tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Cukup Lelaki, Perempuan, dan ular yang terjebak dalam mitos maha dahsyat itu. Aku tak ingin kita dibangun atas dasar mitos-mitos sakral itu. Mitos yang membuat kita jadi belagu dan kadang menjadi suci dalam kedosaan dan berharap ada yang datang menyelamatkan. 

Penyelamatan berdarah. Kematian tak berperikemanusiaan. Dikalahkan oleh hukum yang sewenang-wenang. Sebab, di sana ada kebenaran yang akan selalu kalah jika berhadapan dengan suara kebencian dan keserakahan. Di sana, kebenaran akan kalah telak di hadapan gemuruh kematian. Ancaman dicopotnya kekuasaan menjadi senjata ampuh. Yang banyak, yang menang. Yang kuat, yang benar, belum tentu menang jika kalah jumlah. 

 *** 
 Itu aku. Rumah yang sering menerima pulangnya lelah. Membuka selangkangan. Melayani kepasrahan dalam nafsu yang membuta. Merelakan naluri ketakutan ditikam kengerian. Berkali-kali. Terus-menerus. Hingga bosan tak tahu diri untuk merasa bosan lagi. Malam-malamku adalah candu yang sendu. Air mataku adalah atap rumah yang menerima musim hujan di bulan Juni. Dan pintu adalah jalan masuk keberdosaan dan jalan pulang kepuasan yang tak pernah puasa. 

Dan, malam datang beruntun. Siang pergi secepat mungkin. Lelah semalam tak segera pulih, kini datang lelah yang lain. Ranjang berderit penuh jerit. Kesakitan-keasyikan yang memuaskan, selalu meminta diulangi. Atap yang semula menetap kini mantap dan ingin berpaling muka – merasa yang paling berdosa. Menyaksikan kepuasan yang kian sementara. 

Aku, rumah yang selalu berteriak minta tolong. Kalah dalam segala pertarungan setelah pelukan kepalsuan dan setelah janji diingkari saat pagi beralih. Aku, selalu mendulang kesedihan yang sama, segala kepuasan yang sementara, menerima beragam jenis bau tubuh yang berpeluh, menerima takaran kepuasan yang penuh muram, dan selalu berhadapan dengan segala keluhan kelainan yang terjadi pada rumah mereka sendiri. 

Olakile, 2020

Fian N menyukai banyak hal termasuk dirimu. Tukang Masak di Pondok Baca Mataleza.  

Comments

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...