Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Ulasan Buku

Kamu Sedang Membaca Sebuah Kitab Yang Tak Suci

Infografis: Arnolduswea Judul: Sebuah Kitab Yang Tak Suci Penulis: Puthut EA Penerbit: Mojok Sudah lama tidak ada derit berirama dari ranjang-ranjang kami. Ya, bahkan kami lupa bagaimana berciuman dengan baik. (Seseorang di Sebuah Sudut) Sepuluh kumpulan cerita yang terangkum dalam Sebuah Kitab Yang Tak Suci (selanjutnya: SKYTS), sebagai pembaca, saya menemukan puncak estetis dari sebagian karya fiksi Puthut EA. SKYTS dalam jalinan kisahnya mengalir penuh pertanyaan serta penasaran. Penuh dugaan-dugaan yang tak mudah ditebak. Pembaca akan dihadapkan pada beragam penafsiran yang melonjak ke luar dari benak penasaran. Pembaca akan digiring bagai bola di atas lapangan hijau. Dari kaki ke kaki. Dari mulut gawang ke mulut gawang, penuh harap membuahkan kemenangan. Di luar, ada seorang pelatih yang sedang mengatur para pemainnya agar mampu memainkan permainan yang indah dan mampu mencetak gol. Dan ini, bukan permainan sepak bola kelas teri. Ini adalah sebuah pertunjukkan sepak ...

Tiga Tolan di Mata Kenal: Teriakan dari dalam Kesunyian

Ilustrasi: JSI Judul: Tiga Tolan Di Mata Kenal Penulis: Onsi GN, Mhetallo Adonara, Quirinus Jelalu Tebal: viii + 236 hlm Penerbit: Jendela Sastra Indonesia Press Cetakan: 1, 2020 Memungut tanya menanam jawaban Pada lembar bosan persoalan (Oktober di Bukit) Puisi-puisi ketiga penulis kita, Onsi GN, Mhetallo Adonara, dan Quirinus Jelalu di bawah judul Tiga Tolan di Mata Kenal, sungguh memiliki kekuatan tersendiri yang mampu menggerakkan daya pikir; maju atau mundur, pulang atau pergi, diam atau bergerak, dan menangis atau tertawa. Baca Juga:  Pertemuan yang tak utuh Dalam Sebuah Mimpi Gagasan segar nan bugar dengan diksi yang seksi dan penuh rangsangan membuat saya dan pembaca yang budiman untuk terus membaca sampai akhir. Hal inilah yang menjadi nilai plus untuk puisi-puisi ketiga penulis kita ini. Saya pun sadar akan kapasitas saya sebagai seorang penikmat, sebenarnya tidak pantas untuk menelisik atau menerangjelaskan maksud-maksud puisi dari ketiga penyair...

Ada Rumah Dalam Tubuhku (Ketika Penulis Menjadi Pembaca)

Ilustrasi: Arashi Group ada rumah dalam tubuhku,  kaulah tamu terkahir  yang selalu kuingat (Ada Rumah Dalam Tubuhku) Rasanya baru kemarin, tapi entah apa namanya. Seperti rindu, apakah dendam harus dibalas tuntas? Kehilangan dan kepergian tak dapat dielak oleh siapa pun.Tugas kita hanya menerima lalu merelakannya dengan penuh ikhlas dan itu yang terakhir kali aku melihat kita (Yang Terakhir). Puisi menjadi salah satu bentuk pelampiasan yang paling intim antara manusia dengan dunia pengalaman imajinasinya dalam menghadapi kenyataan hidup yang terjadi di sekitarnya. Fian N Manusia akan digiring ke batas-batas yang tak biasa. Menembus kabut tabu, membongkar kemapanan budaya dan kebiasaan. Baca Juga: Pertemuan yang tak utuh Dalam Sebuah Mimpi Ada Rumah Dalam Tubuhku (selanjutnya: ARDT) adalah jeritan-jeritan dari dalam kesunyian yang merangkak naik ke telinga-telinga nurani pembaca. Ditulis dan dikumpulkan dari tahun 2018-2020. Ini adalah sebuah bentuk terima ...

Musafir: Untuk Hidup Orang Mesti Bertanya

Penerbit Rose Book (2018)  Oleh: Pater Yan Kalndija, SVD Penulis buku: Sudah Tidak Ada Puisi di Sini Sebelum sampai mungkin tak akan sampai keabadianhanyalahtanyanalarterhingga taksampai(Tak Sampai) Keabadian tidak pernah ada. Yang abadi hanyalah pertanyaan-pertanyaan akan keabadian. Pertanyaan-pertanyan itu senantiasa ada selama manusia memiliki keinginan untuk hidup. Bagi orang yang mau hidup pertanyaan perlu untuk menggerakkannya dari masa ke masa. Atas setiap pertanyaan tentunya membutuhkan jawaban-jawaban. Penyair kita dalam antologi puisi perdananya dengan judul Musafir mengakui ia tidak pernah menemukan jawaban yang sempurna atas pertanyaan yang melintasi isi kepala dan isi hatinya. Aku belum ditemukan atau menemukan (Musafir). Pertanyaan-pertanyaan yang terus bergemuruh membuat seorang manusia entah sadar atau tidak sadar selalu bergerak maju. Gerakan-gerakan yang timbul kadang tak terkendalikan, kakiku melangkah/tak sampai tanah (Kemana).  Usaha...

Pertarungan Di Pniel: Menafsir Alkitab dengan Cara yang Puitis dalam Mondobrak Kemapanan Iman

Ilustrasi: Dokpri Tuhan, mengapa dalam rindu kami Berpuluh abad Engkau kian tak terjangkau (Musa) Menafsir Alkitab dengan Cara yang Puitis Alkitab sebagai sebuah pegangan hidup bagi setiap manusia yang beragama Kristen Katolik, di dalamnya penuh dengan kisah-kisah yang selalu melahirkan beragam penafsiran. Segala bentuk penafsiran itu, tidak hadir begitu saja jika tidak didukung pengetahuan yang mumpuni. Cyprian Bitin Berek (CBB) melalui Pertarungan di Pniel (PP), memberikan sebuah ‘Alkitab Baru’ dengan lebih ringkas dan ‘kesekarangan.’ Sebuah proses penafsiran yang tidak mudah untuk segera menemukan Bapa, selesai sudah. Sebuah proses yang amat sangat panjang, melalui jalan pengendapan menuju kepuitisan yang sakral. Hal itu tampak pada kutipan puisi Fragmen di Golgota: Maka terbelah tirai pemisah Antara Mahakudus dan mahalatah. Tapi api tak lagi hanguskan Karena darah menuruni golgota Menjalari urat-urat bumi CBB menafsir dengan gaya yang lebih sakral meskipun su...

Perempuan yang Memesan Takdir: Sebuah Monolog Memerdekakan Diri

Ilustrasi: Dokpri Halo, Teman-teman. Jumpa lagi dengan saya dalam tulisan sederhana ini. Pada kesempatan ini saya akan bagikan tulisan saya berupa ulasan buku yang pernah ditayangkan di  arnoludswea.com  semoga teman-teman mendapatkan sesuatu yang baru melalui tulisan sederhana ini. Siapa tahu Anda baper. Hahaha Menyoal perempuan adalah sebuah usaha yang jelas-jelas gagal. Mengapa? Karena setiap persoalan yang dipersoalkan akan menimbulkan anak persoalan baru. Jadi, tidak akan ada habisnya jika berbicara tentang perempuan. Semuanya akan selalu seksi dalam setiap kepala manusia (baca: lelaki). Keseksian itu bukan tampak pada fisik semata melainkan persoalan seperti masalah kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pelecehan seksual, pekerja seks, peradangan manusia, dan beragam persoalan lain yang pada akhirnya menimbulkan gangguan psikologi pada diri perempuan. Persoalan-persoalan yang dialami itu bukan tidak pernah berakhir atau diprotes oleh kaum pere...

Kenangan pada sebuah Sarapan Pagi Penuh Dusta

Ilustrasi: Dokpri (Sebuah Kumpulan Cerita Karya Puthut EA)  Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf jika tulisan ini tidak berkenan di hati pembaca. Sebab, tulisan ini saya buat karena keinginan saya untuk mengulas buku ini tanpa satu teori apa pun. Ini adalah ulasan sederhana yang banyak celotoh.  Sarapan Pagi Penuh Dusta (SPPD) sepintas lalu, saya dan pembaca pada umumnya langsung terjebak pada judul ini. Judul yang boleh dikatakan sudah menjual segala isi yang ada di dalamnya pun seraya kita bertanya adakah sarapan pagi itu penuh dusta? Sampai pada titik ini, saya tidak menjawab pertanyaan itu dan lalu memuaskan pembaca. Setiap kita diberikan kemampuan untuk menelaah yang tak bisa kita samaratakan dengan yang lain. Pembaca harus mampu menyelami isi teks dan bukan hanya pada kulit teks. Kedalaman teks harus dipahami sebelum akhirnya dimengerti. Kisah-kisah di dalam SPPD dibuka dengan sebuah pertanyaan yang menohok, Apakah di Luar Telah Malam? Kisah dan ...