Skip to main content

Pertarungan Di Pniel: Menafsir Alkitab dengan Cara yang Puitis dalam Mondobrak Kemapanan Iman

Ilustrasi: Dokpri

Tuhan, mengapa dalam rindu kami
Berpuluh abad
Engkau kian tak terjangkau (Musa)

Menafsir Alkitab dengan Cara yang Puitis

Alkitab sebagai sebuah pegangan hidup bagi setiap manusia yang beragama Kristen Katolik, di dalamnya penuh dengan kisah-kisah yang selalu melahirkan beragam penafsiran. Segala bentuk penafsiran itu, tidak hadir begitu saja jika tidak didukung pengetahuan yang mumpuni.

Cyprian Bitin Berek (CBB) melalui Pertarungan di Pniel (PP), memberikan sebuah ‘Alkitab Baru’ dengan lebih ringkas dan ‘kesekarangan.’ Sebuah proses penafsiran yang tidak mudah untuk segera menemukan Bapa, selesai sudah. Sebuah proses yang amat sangat panjang, melalui jalan pengendapan menuju kepuitisan yang sakral. Hal itu tampak pada kutipan puisi Fragmen di Golgota:

Maka terbelah tirai pemisah
Antara Mahakudus dan mahalatah.
Tapi api tak lagi hanguskan
Karena darah menuruni golgota
Menjalari urat-urat bumi

CBB menafsir dengan gaya yang lebih sakral meskipun sudah banyak penyair yang menulis tentang perjalanan seorang Anak Manusia menuju Golgota, menuju kemenangan. Proses penafsiran tentang yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, diracik secara puitis dan penuh kekuatan menggugah sekaligus menggugat.

Fragmen di Golgota, yang terdapat dalam Perjanjian Baru dikisahkan secara berbeda oleh keempat penginjil, Matius, Lukas, Markus, dan Yohanes. Semua itu dikisahkan secara berbeda sesuai dengan latar belakang kehidupan pada masa Yesus Kristus, pengetahuan, kehidupan politik yang tidak seimbang antara kekaisaran Romawi dan penduduk Yahudi, menimbulkan sebuah pergolakan panjang dalam perebutan kekuasaan. Antara menerima dan mengakui dengan penuh keterpaksaan. Oleh karena kisah yang sama itu dikisahkan secara berbeda sesuai sudut padang penginjil, hal yang sama juga dialami oleh setiap penyair dalam menafsir ulang kisah yang sangat tragis itu. Hal itu pernah dilakukan Rendra, Sapardi, Joko Pinurbo, dan Mario F. Lawi.

Puncak kepuitisan yang sakral dalam PP, boleh saya katakan (itu menurut saya, kalau mau menemukan yang lain, silakan baca keseluruhan puisi-puisi CBB dalam PP) terdapat pada puisi Yeshua Ha Masiach seperti yang dikutip seperti berikut ini:

Dia lelaki berani, teramat berani bahkan,
Memanggul derita paling duri, sendirian.
Menyerah atas maunya
Padahal pasukan rebah bagai mayat
Terlanda petir sabdanya.
Sungguh, ucapannya pedang pemisah
Jiwa dan roh, sumsum dan belulang

Dia, Tuhan yang Manusia, dilukiskan sebagai seorang kesatria yang rendah hati lagi penyayang, rela berkorban, dan berani menanggung segala kesalahan para pengikut-Nya. Dia memunyai kuasa yang tak tertandingi, tapi Dia tak mau akan ada banyaknya korban jika diri-Nya tak berkorban. Akan ada banyak nyawa yang tak bersalah melayang karena diri-Nya seorang. Jalan terbaik dan satu-satunya adalah memanggul derita paling duri, sendirian.

Mendobrak Kemapanan Iman

Tuhan, nama yang kita tahu, nama yang kita yakini dan juga kita percaya. Apakah kita tahu seperti apa rupa-Nya? Yang kita tahu bahwa, kita serupa dan segambar dengan Dia. Selebihnya, kita hanya bisa menafsirnya secara bebas. Sebab, berbicara tentang Tuhan tak akan pernah habis apalagi tuntas. Tuhan memunyai ke-Allahan-Nya yang Manusia. Sedangkan kita adalah manusia dengan kemanusiawian kita yang maha terbatas. Atas dasar ini, dalam diri kita terdapat rasa ingin tahu yang begitu dalam mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Dan, pada waktu yang bersamaan, kita menolak untuk berkata jujur pada sebuah kebenaran.

Tuhan mendapat tempat paling sakral dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak bisa ditempatkan pada tempat yang paling sampah dalam diri manusia yang banyak salah. Tuhan sering kali diciptakan manusia untuk manusia-manusia yang hidup dalam kebenaran dan kesalehan.

Manusia menunjukkan eksistensinya dengan menciptakan Tuhan ke dalam kemanusiaan manusia. Sehingga di sana terjadi demarkasi yang jelas antara Tuhan yang hadir sebagai Tuhan dan Tuhan yang dihadirkan sebagai tuhan.

Di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan keterpisahan, CBB hadir sebagai seorang nabi baru dan menyiapkan jalan baru bagi yang sedang dilema dalam pencarian. Hadir dan memberikan ‘Alkitab Baru’ yang kesakralannya puitis. Lebih ringkas dan penuh gugatan sekaligus mengugah nalar yang sempit oleh keegoisan serta keserakahan.

Sendirian perempuan hadapi ular.
Sedang Lelaki – bukan tak hadir – berpura tak tahu. (Jam Terakhir di Eden)

Lelaki, memunyai intuisi yang ‘tumpul’ tak setajam intuisi yang dimiliki perempuan. Namun, terkadang lelaki tahu akan ada sesuatu yang bakal terjadi di depan nanti. Kepura-puraan diciptakan atas dasar untuk tidak mau ambil risiko meski sedang ada dalam kebersamaan. Pun, akhirnya kita tahu bahwa manusia; lelaki dan perempuan saling membutuhkan dan melengkapi sekaligus menggenapi Firman dalam keberdosaan yang asali.

Malam pertama di luar Eden mereka bersyukur
Di balik kutuk tersisa secuil keindahan:
Mengenal ketelanjangan sendiri. (Romansa di Luar Eden)

Manusia akhirnya sadar bahwa mereka adalah manusia yang tak bisa kesendirian. Yang tak bisa menanggung sepi sendiri-sendiri. Sebab, akan ada yang saling mengoyak, baik lelaki maupun perempuan. Namun di sini, keimanan ditantang, apakah harus telanjang untuk sebuah keintiman yang tak direstui sebuah ikatan? Manusia melanggarnya dan mengakui bahwa, itu sebuah naluri dasariah manusia yang didorong secara biologis dengan dalil bahwa itulah tujuan manusia diciptakan, berani ‘telanjang’.

Kesalahpahaman berpikir yang demikian sering terjadi. ‘Telanjang’ dalam artian ini dalam kisah awal manusia dijadikan sesungguhnya menunjukkan adanya keterbukaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Antara perempuan dan lelaki. Keterbukaan pikiran dalam membangun keharmonisan dalam firdaus rumah tangga.

Atas dasar semua itu, manusia bertanya, manusia seakan menuduh Tuhan telah berbuat curang dan menjebak manusia pertama. Iman manusia masa kini dicoba dan ditantang seiring perkembangan pengetahuan yang tak mampu dibendungi.

Kelak, akan ada sebagian manusia yang berusaha memecahkan segala kebuntuan kisah awal manusia dijadikan dengan akal yang maha terbatas. Dan, penempatan pohon kehidupan dalam kitab Kejadian, hingga kini terus dipertanyakan seperti yang dinarasikan oleh CBB:

Mengapa pohon Kautempatkan
Kalau untuk dilarang hanya?
Mengapa Kaujebak kami dengan godaan?
Mengapa perlu, bila tahu bisa dilanggar?
Mengapa? (Jam Terakhir di Eden)

Jika Tuhan tahu bahwa pohon itu akan mengakibatkan keterjatuhan manusia ke dalam dosa, mengapa Tuhan tempatkan di tengah Firdaus? Keimanan kita sebagai manusia, sekali lagi di tantang di dalam dunia yang kian runyam. Bukan lagi tentang pohon kehidupan melainkan tentang kesetiaan, keberlainan dalam keseragaman, dan bagaimana manusia menjaga keutuhan itu. Hal ini yang sudah seharusnya diperhatikan oleh manusia. Bukan membicarakan tentang Tuhan dan ke-Allahan-Nya. Manusia harus membicarakan sesuatu yang mengalami sifat empiris. Dunia dan keberduniaannya seperti yang dungkapkan oleh Henry S. Sabary.

Olakile, 2020

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...