Skip to main content

Perempuan yang Memesan Takdir: Sebuah Monolog Memerdekakan Diri

Ilustrasi: Dokpri

Halo, Teman-teman. Jumpa lagi dengan saya dalam tulisan sederhana ini. Pada kesempatan ini saya akan bagikan tulisan saya berupa ulasan buku yang pernah ditayangkan di arnoludswea.com semoga teman-teman mendapatkan sesuatu yang baru melalui tulisan sederhana ini. Siapa tahu Anda baper. Hahaha

Menyoal perempuan adalah sebuah usaha yang jelas-jelas gagal. Mengapa? Karena setiap persoalan yang dipersoalkan akan menimbulkan anak persoalan baru. Jadi, tidak akan ada habisnya jika berbicara tentang perempuan. Semuanya akan selalu seksi dalam setiap kepala manusia (baca: lelaki).

Keseksian itu bukan tampak pada fisik semata melainkan persoalan seperti masalah kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pelecehan seksual, pekerja seks, peradangan manusia, dan beragam persoalan lain yang pada akhirnya menimbulkan gangguan psikologi pada diri perempuan.

Persoalan-persoalan yang dialami itu bukan tidak pernah berakhir atau diprotes oleh kaum perempuan yang mayoritas secara kuantitas tetapi minoritas secara eksistensial. Akan tetapi, jika melihat kualitas, ketajaman berpikir, perempuan memiliki kemampuan di atas laki-laki.
Namun, oleh karena kedudukan perempuan selalu digambarkan sebagai sesosok yang lemah, maka ada dan keberadaan perempuan selalu dipertentangkan bahkan dianggap tidak punya tempat.

Perempuan (sepertinya) menjadi produk budaya yang menguntungkan penciptanya yaitu para pemegang otoritas budaya yakni lelaki. Hal itu sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Pada tempat ini, kodrat perempuan adalah untuk melayani. Namun, sering kali perempuan mendapatkan ketidakadilan di dalamnya.

Ketika ruang-ruang perempuan diintervensi, lalu terus dimaki, aku ingin tahu hormat semacam apa yang dilakukan oleh seorang istri untuk suaminya. (Sanavero, 77)

Menjadi jelas, bahwa Sanavero adalah perempuan yang ke sekian yang mewakili kaumnya untuk mencari model kemerdekaan yang sesungguhnya. Tanpa harus dicaci-maki, tanpa harus diintervensi, tanpa harus dilecehkan, tanpa harus mengalami siksaan, dan diperjualbelikan seperti barang dagangan lainnya.

Lantas, kita pun bertanya, bukannya manusia diciptakan setara dan menjadi mitra dalam kehidupan? Tetapi, mengapa perempuan selalu mendapatkan diskriminasi dalam ada dan keberadaannya? Saya coba mengutip apa yang pernah diungkapkan oleh Gandhi:

“Kaum perempuan adalah mitra kaum pria yang diciptakan dengan kemampuan-kemampuan mental yang setara. Kaum perempuan memiliki hak penuh untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas kaum pria. Kaum perempuan juga memiliki hak atas kemerdekaan dan kebebasan yang sama seperti yang dimiliki kaum pria. Kaum perempuan berhak memeroleh tempat tertinggi dalam ruang aktivitas yang dia lakukan, sebagaimana kaum pria dalam ruang aktivitasnya.” (Gandhi, 5)

Yang dikatakan Gandhi bukanlah sesuatu yang  tanpa dasar. Gandhi mengatakan ini pada sebuah pertemuan tepat pada tanggal 20 Februari 1918. Semua itu didasari oleh keprihatinannya terhadap otoritas budaya India yang masih dipenuhi dengan sistim kasta dalam kehidupan. Dan, perempuan menjadi korban atas sistim yang demikian.

Infografis: ArnoldusWea

Hal yang sama masih terjadi di tengah-tengah kehidupan kita saat ini. Bukan karena sistim kasta tetapi karena keegoisan yang keterlaluan. Atau meminjam istilah dari Gandhi, kekuatan adat yang keji. Selain itu, Gandhi juga mengatakan dengan ungkapan yang tajam kepada lelaki.

“Kebanyakan kaum pria yang bodoh dan tidak berharga telah menikmati posisi superior atas kaum perempuan, suatu keadaan yang tidak pernah dapat diperoleh dan dialami kaum perempuan.” (Gandhi, 5)

Sanavero dalam Perempuan yang Memesan Takdir, berusaha berteriak dari kedalaman kesunyian diri yang memasung kebebasan yang diciptakan kaum lelaki. Dan, mencari jalan menuju kemerdekaan yang memerdekakan.

“Hatiku masih sama. Dengan cinta dan luka yang sama. Selamat malam untuk sepasang mata yang terbendung air berkaca.” (Sanavero, 11)

Jalan kemerdekaan itu, akhirnya berujung luka. Tak ada jalan keluar yang tepat untuk para perempuan selain menerima dan merayakan setiap luka yang selalu merdeka dalam diri.

Dengan dan melalui sastra, jalan kemerdekaan itu hanya sebatas media yang menjadi tempat untuk menampung segala keluh dan kesah serta luka yang beranak pinak. Tetapi sastra hanya menjadi alat menuju pembebasan berekspresi bagi siapa saja dan termasuk perempuan.

Ada kejadian-kejadian yang tak mampu ditangkap oleh intuisi lelaki, perempuan hadir dengan ketajaman intuisi untuk menarasikan segala kepedihan. Dan melalui sastra, Sanavero dengan bebas mempertanyakan apa tujuan Tuhan menciptakan perempuan untuk lelaki.

“Adalah aku, wajahku. Salah, disalahkan, atau dibuat salah? Mana yang benar? Barangkali pertanyaan semacam ini juga sebuah kesalahan. Lahir di atas kehendak Tuhan, bernapas di atas kehendak aturan-aturan yang dibuat-buat” (Sanavero, 19)

Pertanyaan semacam ini adalah sebuah kewajaran ketika ruang gerak dibatasi oleh aturan-aturan yang melemahkan. Tak ada jalan lain selain menerimanya dengan penuh kesabaran.

“…, terkadang memilih memahami jauh lebih buruk daripada tidak peduli sama sekali.” (Sanavero, 55)

Hanya dengan sastra manusia bebas menarasikan apa saja dan menembus ruang-ruang tabu dalam diri setiap manusia laiknya sebuah monolog di atas sebuah panggung yang sepi dari tepukan tangan dan apresiasi yang janggal.

Sebab, sastra belum seutuhnya mendapatkan panggung ekspresif dalam hati pembaca atau penikmat. Bukan karena sastra terlalu abstrak melainkan karena ketakutan dari pihak pembaca dan juga penikmat dalam melakukan proses penafsiran. Namun, Sanavero hadir dengan kenyataan-kenyataan yang sudah dipoles ke dalam ruang imajinasi yang mudah dipahami. Diksi yang kaya dan narasi yang penuh letupan untuk tak ingin akhiri cerita.

“Aku buang semua tisu-tisu kecuali tisu berwarna merah. Ya, merah darah, darahku, darah dari darahku. Untuk pertama kalinya, pagi seperti ujung mata pisau.” (Sanavero, 35)

Realitas memang menyakitkan. Tak bisa tawar-menawar selain menerimanya. Itulah kisah si Aku dalam Tisu Kering yang Basah. Menerima kenyataan bahwa keperawanannya hilang karena cinta yang belum apa-apa. Ditinggalkan. Ketika dihadapkan pada situasi seperti ini, tentu proses untuk menerima diri, tidaklah mudah. Ada banyak pilihan yang akan berakhir pada keputusasaan. Takut, apakah kelak akan ada yang menerima Aku yang seperti saat ini?

Sanavero tidak menutup mata, telinga dan hatinya ketika berhadapan dengan keadaan di sekitar. Di luar sana ada banyak orang (baca: Perempuan) yang mengalami kisah yang sama. Sering kali menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Tetapi si Aku di akhir kisah mengungkapkan hal ini demi menguatkan diri.

“Suatu saat ketika ada yang datang dan mengetuk pintu kamar, aku bukakan lipatan tisu ini di depannya. Agar mereka tahu, kalau yang mereka inginkan tidak ada padaku lalu pergi tanpa harus masuk kamarku dan meninggalkan liur yang masih basah di bibir.” (Sanavero, 35)

Di dalam Cerita Anak Kecil, Sanavero dengan sangat hati-hati menjadi seorang narator yang lapang. Membiarkan kisahnya mengalir jauh ke lubuk hati pembaca. Melukiskan seorang lelaki yang disebut ayah dalam menjaga dan membesarkan anak perempuannya laiknya seorang ibu penuh kesabaran.

“Tinggal berdua dengan seorang Ayah tidaklah sulit. Tetapi mungkin tinggal berdua dengan seorang anak perempuan tanpa istri adalah hal yang sangat sulit bagi Ayah. Karena dia harus kuat dalam segala hal.” (Sanavero, 97)

Dalam segala hal, kadang Tuhan memang tidak adil. Ketika masih ada sayang-sayangnya, si Aku harus kehilangan cinta pertamanya, Ayah. Pergi dan tak kembali. Si Aku putus harapan. Kehilangan kepercayaan. Imannya goyah. Meninggalkan Tuhan.  Si Aku memilih menjadi perempuan malam yang mungkin malang.

“Dan aku sudah menemukannya. Aku bertemu Tuhan di atas ranjang. Di atas kesakitan-kesakitan perempuan malam. Di sana, aku membuat dosa yang mendekatkanku pada Tuhan. Barangkali benar, ketika kau mengenal dosa, ketika itu pula aku mengenal iman. Semoga Ayah dan Ibu dalam iman. Dalam kepercayaan pada Tuhan.” (Sanavero, 97)

Melalui album prosa ini, Sanavero berhasil menjadi perempuan yang merdeka dalam mengekspresikan keprihatinannya terhadap persoalan perempuan yang dijumpainya dalam kehidupan nyata. Bukan sekadar imajinasi belaka tanpa dasar kenyataan.

Dengan sadar, sesungguhnya Sanavero melalui Perempuan yang Memesan Takdir, sedang berusaha memberikan penguatan kepada kaumnya dalam menghadapi otoritas yang tak seimbang. Ada kesenjangan yang disengajakan agar perempuan tak mendapatkan panggung pada sebuah singgasana kemerdekaan. Dan, sekarang, tugas perempuan adalah saling memerdekakan satu sama lain.

“Untuk mimpi-mimpi yang sempat aku ciptakan di luar kemampuanku, maafkan aku.(Sanavero, 72)

Fian N, saat ini sedang dalam usaha mendewasakan cita-citanya yakni, tidur lebih nyenyak.

Comments

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...