Skip to main content

Kenangan pada sebuah Sarapan Pagi Penuh Dusta

Ilustrasi: Dokpri
(Sebuah Kumpulan Cerita Karya Puthut EA) 

Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf jika tulisan ini tidak berkenan di hati pembaca. Sebab, tulisan ini saya buat karena keinginan saya untuk mengulas buku ini tanpa satu teori apa pun. Ini adalah ulasan sederhana yang banyak celotoh. 

Sarapan Pagi Penuh Dusta (SPPD) sepintas lalu, saya dan pembaca pada umumnya langsung terjebak pada judul ini. Judul yang boleh dikatakan sudah menjual segala isi yang ada di dalamnya pun seraya kita bertanya adakah sarapan pagi itu penuh dusta? Sampai pada titik ini, saya tidak menjawab pertanyaan itu dan lalu memuaskan pembaca.

Setiap kita diberikan kemampuan untuk menelaah yang tak bisa kita samaratakan dengan yang lain. Pembaca harus mampu menyelami isi teks dan bukan hanya pada kulit teks. Kedalaman teks harus dipahami sebelum akhirnya dimengerti.

Kisah-kisah di dalam SPPD dibuka dengan sebuah pertanyaan yang menohok, Apakah di Luar Telah Malam? Kisah dan kasih yang terjalin utuh di dalamnya mengalir jauh bagai sungai kehidupan yang menabarak batu-batu kegelisahan yang ngeri. Antara ragu dan percaya. Sekilas, aku mencoba memastikan pada tubuh dan wajahmu. Kamu masih seorang laki-laki yang terluka.

Sepintas, gambaran lelaki yang rapuh sangat ditonjolkan oleh Puthut EA. Ini jelas, bukan soal siapa yang kuat dan lemah. Siapa yang menang dan kalah. Tetapi ini tentang perjalanan manusia dalam mengakrabi semesta dan segala isinya. Sebab, ia selalu dan seperti sejarah, selalu mengulang kemuraman.

Tetapi, tidak hanya sampai di sini saja. Beragam pertanyaan yang datang dari dalam SPPD, tentang masa lalu dan segala yang terlampau oleh ingatan yang sekaligus oleh Puthut EA memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Dan ada sedih di sana. Berkemaslah dari sedih yang menguncimu. Tetapi siapa yang bisa membuang masa lalu? Masa lalu selalu membuntuti, menjadi berkah maupun kutukan. Dan kita selalu tidak akan pernah bisa beranjak jauh-jauh dari sana. Oleh karena itu, kita percaya bahwa setiap manusia sering dilingkupi oleh masa lalu yang selalu dibaluti peta kesedihan dan kebahagiaan.

Adakah jejak yang kau tinggalkan di sana ketika bayang-bayangmu merapuh? Setiap manusia berjalan maju dan di sana ada jejak ketika langkah kaki membawa manusia jauh ke masa depan dan ketika ingatan membawa pulang ke masa lalu, di sana ada jejak yang menunggu. Sebab, roda waktu tak akan pernah berhenti berjalan. Ia seperti mata yang selalu mengedip di langit-langit kerinduan.
Di sana, penyesalan adalah bagian paling cepat dari segala yang bisa kita kenang, tapi jika berlarut, ia akan menjelma kutukan. Manusia adalah penyesalan itu sendiri. Mengapa? Karena setiap manusia mampu menghamilkan lalu melahirkan penyesalan atas tragedi-tragedi yang sudah terjadi.

Mengapa penyesalan tidak datang sebelum tragedi itu? Karena tak ada yang abadi selain penyesalan. Jika tidak, maka manusia tidak akan pernah memulai dan mengakhiri sesuatu dengan sebuah perubahan. Manusia akan tetap statis. Pengetahuan menjadikan manusia sebagai makhluk penuh penyesalan. Semakin banyak yang manusia tahu, semakin banyak penyesalan pula.

Manusia juga seperti Si Penulis Kematian, yang selalu meramalkan kematian manusia lain melalui cerita yang dibuatnya. Menyibukkan diri dengan kehidupan manusia lain dan lupa memerhatikan diri sendiri. Ketika setiap cerita yang dibuatnya, para tokoh yang disertakannya, akan mati setelah itu. Hingga seluruh kota dikejutkan oleh tulisan surat kabar. Tulisan yang meramalkan kematianku. Karya Si Penulis Kematian! Kalimat-kalimat yang penuh kekuatan mengalir dari tulisan yang sebagaimana dulu-dulu. Ia nujumkan padaku akan mati dalam waktu dekat dengan membunuh diri. Dan, hal itu benar-benar terjadi.
Infografis: RedaksiArnolduswea

Ini adalah potret manusia masa kini. Bunuh membunuh, baik secara fisik maupun psikis. Manusia dimatikan sebelum kematian itu benar-benar datang. Manusia mengalami keterasingan di tengah kaumnya sendiri. Terlempar jauh dan berlabuh pada kesunyian yang ingar-bingar. Manusia pada akhirnya takut untuk menjadi manusia. Dan lalu, hanya mampu Terdampar di Sebuah Ingatan.

Dengan cara yang jujur pula, Puthut EA melukiskan tentang kota dan membuat perbandingan dengan yang sekarang. Kota kami adalah kota riang. Hampir sepanjang hari kami menghabiskan waktu dengan bermain-main. Permainan bukan sekadar warisan  sejarah masa kecil, melainkan sesuatu yang sudah mendarah daging.

Sebuah kejujuran yang datang dari pengalaman manusiawi Puthut EA yang dahulu pernah mengalami masa kecil. Setiap permainan memunyai kandungan nilai di dalamnya. Permainan yang bukan seperti free fire dan mobile legend. Menghabiskan waktu di depan gadget sampai lupa menyapa sesama yang ada di sekitar. Di sana penuh makian dan saling ketergantungan, boyah.

Dan, anak kecil adalah manusia yang tak pernah pandai membuat pilihan. Di dalam kepalanya, semua yang dilakukan oleh orang dewasa itu baik adanya. Sebab, setiap yang dilakukan oleh orang dewasa adalah apa yang berhak dilakukan oleh anak kecil.  Jangan heran pula setiap orang dewasa yang hendak menikah, akan keluar dari kota kami–sebab menikah tidak bisa dilakukan oleh anak kecil.

Baca juga: https://pondokbacamataleza.blogspot.com/2020/04/bagaiman-menjadi-baik-untuk-diri-sendiri.html


Sering terjadi, orang dewasa menyalahkan anak-anak kecil ketika melalukan sesuatu yang sebenarnya hanya dilakukan oleh orang dewasa. Di sini, orang dewasa lupa, bahwa yang dilakukan oleh anak kecil itu adalah yang pernah dilakukan oleh orang dewasa. Oleh karena itu, di balik segala yang lemah dan terkesan tak berdaya, ia menyimpan potensi marabahaya. Di dalam tubuh yang kecil, terdapat kekuatan yang besar. Anak kecil adalah kepolosan. Orang dewasa akan waswasan ketika ada dan berada di antara anak-anak. Sebab, dari sanalah kejujuran itu lahir.

Dan, kusadari betapa waktu bisa memanjangkan tubuh sekaligus memangkas kenangan. Lagi-lagi si Puthut EA berkisah tentang waktu dalam sebuah Rumah. Waktu yang selalu jauh mengantar manusia pergi jauh dan rindu yang akan mengantar manusia untuk pulang ke dalam palung kangen. Dan rumah, tak melulu bangunan fisik. Melainkan sebuah suasana di mana setiap insan mampu menemukan kedamaian dan pulas yang tak dikuras.  Dan di dunia ini, baru ternyata aku tahu, kebahagiaan kita, bisa jadi merupakan ancaman bagi pihak lain. Mengapa? Karena tidak semua orang bisa mengalami kebahagiaan dalam waktu bersamaan.

Sebab, manusia sering kali menjadikan kebahagiaan orang lain menjadi acuan bagi kebahagiaan untuk dirinya. Manusia lupa, bahwa yang seragam itu tak harus sama. Kebahagiaan itu yang kita ciptakan sendiri dan bukan orang lain yang menciptakannya.

Tibalah kita pada sebuah Sarapan Pagi Penuh Dusta. Dengan narasi pembuka yang meneduhkan hati. Karena, Aku selalu diperangkap oleh masa lalu jika mengunjungi ibu. Ia masih selalu berada di pelataran rumah dengan wajah cerah menyambutku. Semua kita pulang karena ibu.

Pelukan hangat dan enaknya masakan ibu. Ada yang perlu kita sadari bahwa, ketika pulang, kita tak pernah luput dari pertanyaan-pertanyaan ibu. Ada saja jenis pertanyaan yang tiba-tiba. Menanyakan tentang pasangan hidup, tentang pekerjaan, dan kesediaan untuk tinggal bersamanya ketika hari malam benar-benar telah datang lebih pekat.

Sarapan-sarapan yang penuh dusta itu, bukanlah sebuah sarapan pagi biasa. Sebab, yang terjadi di sana adalah hannyalah kebohongan-kebohongan yang menentramkan. Dan kita akhirnya menjadi si Aku dalam Sarapan Pagi Penuh Dusta. Benar-benar tidak bias kumengerti mengapa ada sesuatu bernama kesetiaan. Bagiku, itu semua rumit. Sangat rumit dan tak kunjung kumengerti. Cinta dan sejenisnya, kebutuhan akan laki-laki maupun perempuan sebagai pasangan. Dan kelak aku harus terus menyiapkan sebuah nama, sekian dusta, ketika pulang bertemu ibuku, ketika sarapan pagi berjalan dengan nyaman. Pada kesempatan tertentu kita menjadi seperti seorang Bapa yang dengan lembut berkata dan berpesan kepada anak-anaknya, jangan gampang percaya pada cinta.

Puthut EA, sebagai pembaca, saya boleh katakan bahwa ia berhasil memanfaatkan bahasa dengan sangat indah. Menyuarakan sekaligus mewakili pembaca dalam menyampaikan segala ketakutan dan kecemasan. Mendulang masa lalu menjadi sebuah kenangan yang tak mudah lekang. Sesekali ia membawa kita jauh ke masa depan dan juga memulangkan kita kepada masa lalu. Seperti, masa kecil kami adalah masa penuh teriakan dan tertawa.

Lagi dan lagi, Puthut EA bermain dengan dimensi waktu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan waktu tetap berjalan dengan caranya sendiri. Mungkin kesabaran ada habisnya, ada hal-hal yang harus tetap berjalan ketika keinginan dan kemauan tidak sesuai dengan kenyataan.

SPPD, tidak akan menjadi sebuah buku yang berhasil jika pembaca hanya berakhir pada membaca judulnya saja. Menyelam jauh ke dalam psikologis penulis lalu menemukan pelabuhan dalam tulisan-tulisannya, maka pembaca tidak akan terjebak pada ‘nafsu’ untuk memiliki buku ini hanya karena judul. Puthut EA berhasil mencuri psikologis pembaca melalui judul ini. Dan inilah kenangan yang akan kita temukan pada sebuah Sarapan Pagi Penuh Dusta.

*Tulisan dengan judul yang sama ini pernah ditayangkan di web www.arnolduswea.com

Fian N, tidak pernah selesai menulis setelah mengalami tunasastra. Membaca adalah kebiasaannya tapi mengalami tunabaca hingga saat ini. Wara-wiri adalah kesukaannya. Ingin tidur lalu memimpikanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...