Ilustrasi: JSI
Penulis: Onsi GN, Mhetallo Adonara, Quirinus Jelalu
Tebal: viii + 236 hlm
Penerbit: Jendela Sastra Indonesia Press
Cetakan: 1, 2020
Memungut tanya menanam jawaban
Pada lembar bosan persoalan (Oktober di Bukit)
Puisi-puisi ketiga penulis kita, Onsi GN, Mhetallo Adonara, dan Quirinus Jelalu di bawah judul Tiga Tolan di Mata Kenal, sungguh memiliki kekuatan tersendiri yang mampu menggerakkan daya pikir; maju atau mundur, pulang atau pergi, diam atau bergerak, dan menangis atau tertawa.
Baca Juga: Pertemuan yang tak utuh Dalam Sebuah Mimpi
Gagasan segar nan bugar dengan diksi yang seksi dan penuh rangsangan membuat saya dan pembaca yang budiman untuk terus membaca sampai akhir. Hal inilah yang menjadi nilai plus untuk puisi-puisi ketiga penulis kita ini.
Saya pun sadar akan kapasitas saya sebagai seorang penikmat, sebenarnya tidak pantas untuk menelisik atau menerangjelaskan maksud-maksud puisi dari ketiga penyair kita. Saya memutuskan untuk menjadikan Tiga Tolan di Mata Kenal sebagai teman perjalanan pulang ke rumah cinta setelah petualangan melawan lupa yang melelahkan. Sebagai sebuah bentuk untuk merefleksikan segala kejadian di sekitar, baik romantisme yang apik hingga yang terasa binal. Tentang kesenjangan antara yang di atas dan yang di bawah; otoritas tertinggi dalam sebuah wilayah dan negara pada umumnya dan juga masyarakat yang ada pada posisi kelas bawah seperti narasi oleh Quirinus Jelalu berikut ini.
Mereka bekerja penuh canda, dibayar serius
Tukang dan buruh bekerja serius, dibayar bercanda (Merebut Rupiah)
Dan puisi, menjadi media yang paling bebas untuk menyuarakan segala jeritan yang tak mampu dilisankan. Segalanya itu dinarasikan dengan sangat lugas oleh Onsi GN seperti pada kutipan puisi di bawah ini.
Kau adalah sahabat kami. Jika dasi dan jas mewahmu mampu menghapuskan keringat rakyat yang masih nestapa (Untuk Siapa?)
Sebuah kritikkan tajam kepada pemimpin yang telah kita percayakan untuk menjalankan amanat kita. Namun sayang, di dalam perjalanan, kepercayaan itu akhirnya sirna karena lebih banyak terjadi praktek KKN, yang membuat masyarakat jengah atas pemimpinnya sendiri.
Puisi adalah alat dari manusia (bukan hanya untuk mereka yang disebut penyair) untuk mencapai suatu maksud tertentu dengan tidak melebih-lebihkannya dan begitupun sebaliknya. Fian N
Akan tetapi, puisi tidak hanya melahirkan satu makna tunggal melainkan melahirkan beragam penafsiran, tergantung siapa pembaca karya tersebut. Dan, apakah itu berhasil? Itu tergantung kadar dari puisi tersebut. Tiga Tolan di Mata Kenal, dari hasil pembacaan saya, memunyai nilai puitis yang mampu menyuarakan segala kecemasan. Kita patut berterimakasih kepada tiga penyair ini. Kepekaan intuisi akan segala peristiwa yang terjadi di sekitar, baik yang ditemukan langsung, diceritakan, ditemukan dalam berita di televisi yang membosankan, diskusi di bangku perkuliahan, dan media pemberitaan lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa, penyair kita ini bukan hanya mengandalkan perasaannya saja melainkan menyertakan segala imaji-imaji yang selalu setia melingkupi kehidupan penyair.
Sebuah puisi yang telah diciptakan dan disampaikan serta yang akan disampaikan kepada masyarakat (baca: pembaca), tentunya punya kaitan erat dengan pengalaman pengarangnya. Entah apa tanggapan dari pembaca tetapi satu yang pasti, pengarang sudah mampu menghidangkan sebuah jamuan penuh selera. Sebuah umpan balik dari pembaca atau respon atas puisi tersebut, tentu memberikan sebuah kehidupan baru atas nasib puisi itu.
Selain itu, tiga penyair kita yang adalah tiga pemuda yang tak pekak atau menutup mata dengan kehidupan para mahasiswa/mahasiswi masa kini melalui Surat untuk Mahasiswa yang dinarasikan oleh Quirinus Jelalu,
Kutulis lagi surat kecil ini di bibir mungilmu
Isi tubuhmu harum seperti minyak di penginapan pengap itu
Ibumu menangis di atap terik Matahari
Halus jidatmu menuju selangkangan
Ayahmu bermandikan darah, punggungnya keropos
Pulang ke gubuk menjadi alasan untuk hari itu juga.
Ini bukan tanpa sebab. Mahasiswa/mahasiswi kita masa kini banyak yang terjebak dalam hedonisme yang sesat dan sesaat lalu lupa bahwa ada yang merindukan untuk segera pulang ke rumah. Bahwa di rumah ada ayah, ibu dan sanak keluarga yang sedang menanti keberhasilan. Bahwa di rumah ada ayah dan ibu yang dibakar mentari dan diserang usia yang kian keriput. Dan, inilah sebuah bentuk penguatan melalui puisi. Sebab, penulis yang baik adalah penulis yang mampu melihat dan merasakan ingar-bingar di sekitar lalu menyepi dalam ruang yang paling sepi.
Melalui Cerita Sebuah Malam, Mhetallo Adonara mencoba mengungkapkan segala harap dan cita-cita juga segala mimpi agar tidak terjebak pada malam nan pekat melainkan terjawab oleh pagi dalam sebuah penantian yang penuh arti.
Tertunduk pada pilar nan sunyi
Berkerut kening kebingungan
Setia menatap purnama tak berbintang
Hanya menunggu pagi membawa harap
Semuanya menjadi nyata ketika penyair kita tak hanya berdiam diri dan melarikan diri. Penyair kita ikut ambil bagian dalam merayakan kesakitan ketika cinta tak dibalas cinta. Ikut ambil bagian dalam pesta demokrasi yang balau dan penuh dengan kepalsuan-kepalsuan menjijikan. Ikut memanen luka dari janji-janji yang terus diingkari kaum berdasi. Ikut menangis tatkala mahasiswa/mahasiswi lebih sering saling tidur-tiduran di atas perut laiknya suami dan istri dan lebih banyak mempercantik diri dari luar ketimbang dari dalam (pengetahuan).
Lalu, penyair kita mengabadikan semua itu dalam puisi-puisi yang kelak akan abadi pada sebuah nisan kematian yang hidup. Kita tak perlu memungkiri akan hal itu. Sebab, penyair mati, puisi abadi. Quirinus Jelalu menarasikan itu dengan sangat baik. Dan, saya menduga ketiga penyair kita ini bersepakat bahwa puisi yang berjudul Aku Berdawat menjadi rangkuman untuk keseluruhan puisi yang ada dalam Tiga Tolan di Mata Kenal. Dan, saya mengutipnya secara utuh seperti di bawah ini.
Temali di tubuhku terus mengalir tinta darah
Dari ujung rasa dan kenangan menuju jari-jari
Huruf-huruf dikawinkan di isi kepala
Tinta-tinta menciut sambil menari asyik di atas kertas
Tubuhku merebahkan di antara jasad-jasad puisi
Aku bermimpi dengan permai aksara di ranjang
Tubuhku kaku mengikat alunan bulir intuisi
Mata penaku lenggok kian menguyup pada tubuh kertas
Aku merawat jari bertinta ini temui mati
Wajahku bagaikan puspa buana
Mataku dekil hingga tinta-tinta zaman mengering
Aku menulis syair di tubuh hingga temui mati
Aku sudah tiada lagi dan syairku tetap hidup
Dan, akhirnya saya menyampaikan proficiat kepada Onsi GN, Quirinus Jelalu, dan Mhetallo Adonara yang sudah meluangkan waktunya untuk menjadi manusia gila di tengah kebisingan yang waras. Tidak semua orang memilih jalan ini selain menikmatinya penuh masa bodoh. Ketiga penyair kita ini, dengan sangat pandai dan emosi yang diatur stabil, menarasikan semuanya itu dalam ketenangan dan kesiapan untuk menerima segala ilham melalui imajinasi yang penuh gugatan. Ada banyak puisi-puisi panjang yang menggugah. Ditulis dengan penuh kehati-hatian. Lalu melepaskannya bagai anak panah yang tepat sasar lalu mengalirlah darah-darah kerinduan untuk pulang pada rumah kedamaian.
Untuk ketiga penulis kita, teruslah teriak dari dalam kesunyian. Jangan pernah puas dengan pencapaian ini. Tetapi, teruslah mencoba agar menjadi lebih baik lagi. Untuk Anda, miliki, buka dan baca! Sebab, Anda akan dikoyak-koyak ngeri!
Olakile, 2020

Comments
Post a Comment