Ilustrasi: Pixabay
Setiap pertemuan melepaskan pisah pada pertemuan yang ke selanjutnya. Setiap pisah meninggalkan cerita pada temu yang ke sekian. Kita adalah manusia yang selalu memiliki perulangan dan memulainya dari titik yang sama, pertemuan.
Jhoni mencoba bertahan ketika mendengar ucapan itu yang ia temukan dari dalam sepucuk surat yang jatuhnya entah dari mana.
Malam itu, di langit, sedikit lagi bulan sempurna. Di luar jendela, pada kaca itu ada basah yang diam-diam sedang merayap. Jhoni tahu ada seorang perempuan di dalam sana, di sebuah kamar tepat di bawah sempurnanya bulan. Jhoni mengetahui itu meskipun ia sendiri tak pernah bertemu dan bertamu dengan perempuan itu di dalam kamar yang sedang ia duga.
Baca Juga: Boy Candra Bilang ‘Cinta Paling Rumit’ itu seperti Basa-basi di Bawah Ini
Malam semakin sempurna. Bulan seakan tak ingin beranjak. Diam-diam, Jhoni menyaksikan dari jauh ketika ada adegan yang dipantulkan cahaya bulan pada dinding kamar. Seorang perempuan dengan rambut terurai. Jhoni sekali lagi menduga bahwa mata perempuan itu sedang beradu dengan sempurnanya bulan. Sempurnanya terlihat pada bayangan di dinding kamar.
Semakin lama, kaki Jhoni mengantarkan Jhoni tepat di bawah jendela kamar. Jhoni tak dapat menjangkau bayangan yang dipantulkan rembulan. Namun, Jhoni tahu dan kenal aroma tubuh yang sedang berjingkrak dalam kamar. Parfum apa yang digunakan saat sedang berpergian. Condisioner apa yang digunakan untuk rambut sehingga terurai rapi. Deterjen apa yang digunakan saat mencuci segala kenangan dalam rupa debu jalanan. Pewangi apa yang digunakan sesaat sebelum menjemur pakaian yang dikenakannya. Jhoni kenal akan semua aroma tersebut.
Dugaan Jhoni benar. Jhoni yakin dan bahkan sangat. Ini adalah kamar si perempuan. Perempuan yang pernah Jhoni jumpai pada sebuah acara syukuran seorang konglomerat di negeri ini. Jhoni adalah seorang pelayan pada saat acara tersebut berlangsung dan perempuan itu adalah anak seorang sahabat konglomerat yang juga punya status istimewa di negeri ini. Pandangan pertama saat jumpa ketika tak sengaja perempuan itu mengambil minuman yang disiapkan Jhoni untuk seseorang yang telah memesannya. Dengan seenaknya, perempuan itu mengambil tanpa meminta. Hanya kedipan mata, Jhoni luluh. Ada rembulan pada matamu, gumam Jhoni dalam hati. Perempuan itu berlalu.
Perjumpaan sepintas itu membuat Jhoni tak sabar untuk mendapatkan perjumpaan selanjutnya. Di akhir acara, tangan Jhoni tiba-tiba menjabat tangan perempuan itu. Perempuan itu tersenyum. Tampak susunan gigi yang rapi dan putih. Bibir yang lembut. Jhoni melepaskan genggaman. Dan Jhoni mendapatkan kartu nama.
Malam ini, di bawah bulan yang sempurna dan bukan lagi di dalam gedung mewah yang sedang dipenuhi tamu-tamu undangan berjas dan berduit serta kelap-kelip lampu kekinian dengan perutnya yang besar-besar. Di negeri ini, kalau orang yang memiliki badan begitu, mereka sudah bisa disebut orang berduit. Hal ini banyak ditemukan di kota-kota besar di negeri ini. Cerita seperti ini, sering
Jhoni dengar dari mulut-mulut orang-orang kecil di negeri ini.
Jhoni tak sulit membuka jendela kamar. Jhoni lolos dari alat pencium anjing penjaga dan satpam yang sudah lelap dalam tidur. Perempuan itu tak kaget ketika melihat ada bayangan lain yang terpantul dari dinding kamar. Perempuan itu kenal akan sosok tersebut. Karena Jhoni masih mengenakan parfum yang sama. Perempuan itu terus berdiri menghadap dinding, membelakangi Jhoni. Pelahan, Jhoni mendekatkan diri pada perempuan yang berubah jadi patung. Kaki Jhoni bergerak sangat lambat. Seperti sedang memainkan tempo dalam sebuah teater.
Baca Juga: Panjang Umur Kegelisahan
Tiba-tiba, perempuan itu melangkah maju mengikuti ayunan kaki Jhoni yang kedua. Sudah sejalan, pikir Jhoni. Perempuan itu tak menghindar. Tinggal selangkah lagi, langkah perempuan itu akan berhenti pada tembok yang sedang menyaksikan adegan yang dilakukan Jhoni dan perempuan itu. Perempuan itu membalikkan badan serempak. Jhoni tak kaget. Perempuan itu melemparkan senyum yang jauh ke dalam mata Jhoni. Senyuman yang membawa Jhoni kembali teringat pada pertemuan pertama. Yang hadir saat itu juga adalah senyuman si ayah dari perempuan itu.
Jhoni tak peduli akan senyuman lain selain senyuman perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Jhoni mendekatkan diri pada perempuan itu. Ruang gerak terbatas di bawah remang lampu dan bulan yang mulai redup. Bibir Jhoni kini telah sampai pada tepi telinga perempuan itu. Apakah masih ingat diriku? Jhoni berbisik lirih. Perempuan itu diam saja. Apakah dirimu pernah menduga bahwa akan terjadi seperti ini? Jhoni bertanya kian lembut. Perempuan itu masih saja diam. Degup jantungnya memompa tak seperti biasanya. Semakin cepat dan sangat cepat. Ada gairah yang timbul dari dalam.
Jhoni melingkari tangan seutuhnya pada leher perempuan itu. Jhoni semakin kenal akan segala aroma pada tubuh perempuan yang sedang ada di hadapannya. Perempuan itu terus diam dan tak memberikan perlawanan ataupun merespon pertanyaan Jhoni. Perempuan itu seperti burung dalam sangkar. Yang hanya bisa berkicau dalam kesedihan dan ketakutan. Jhoni merasakan degup jatung perempuan itu mulai seirama dengan degup jantungnya. Dadanya merasakan ada sesuatu yang lain yang timbul dari dada perempuan itu. Kegairahan yang makin kuat. Aku sudah menang. Aku berhasil menguasainya, pikir Jhoni sambil tersenyum. Perempuan yang sedang dalam pelukan Jhoni terus saja diam. Jhoni mendaratkan bibirnya pada kening, lalu ke pipi, dan sampailah pada bibir perempuan itu. Jhoni merasakan kelembutan dan kehangatan yang datang dari bibir perempuan itu.
Pada saat bersamaan, Jhoni berusaha mencari jalan agar lidahnya bisa mencakupi lidah perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu melawan dan berkata pelahan, beraninya dirimu seperti ini atas diriku?
Jhoni semakin agresif dan tak membiarkan ruang untuk perempuan itu lolos dari pelukannya. Jhoni terus berusaha dan usaha perempuan itu sia-sia. Apakah dirimu akan bahagia atas tubuh ini? tanya perempuan itu pada Jhoni. Jhoni merasa semakin berhasil untuk menguasai perempuan itu.
Tangannya tak lagi di leher. Tangan Jhoni melingkari tubuh perempuan itu. Jhoni merasakan sesuatu yang mengeras pada dada perempuan itu. Jhoni merasakan sensasi yang tak biasa. Tangannya tak tenang. Pikirannya menjalar pada isi di dalam balutan piami perempuan yang ada di hadapannya. Inilah saatnya. Saat yang tepat untuk tuntaskan segala ingin. Tangan Jhoni merobek piami itu dengan kasar. Terdapat basah pada punggung perempuan itu. Jhoni menyaksikan sesuatu yang benar-benar ... .
Tiba-tiba, Jhoni terbangun dari tidurnya. Mimpi itu datang lagi! gumam Jhoni penuh ketakutan. Seluruh tubuhnya basah. Anak-anak keringat seperti sungai yang mengalir jauh. Jhoni masih tak percaya akan mimpinya itu. Mengapa harus perempuan itu?
Jhoni melihat jam yang diletakan di atas meja tepat di samping ranjangnya. Ternyata masih jam 03:00. Jam yang nyaman untuk bermimpi. Jhoni ingin melanjutkan tidur namun ketakutan masih menguasai isi kepalanya. Jhoni takut untuk memimpikan perempuan itu lagi. Apakah aku yang memimpikannya atau perempuan itu yang tak bosan-bosannya mendatangi diriku? Mengapa tidak menjadi sebuah kenyataan? Jhoni hanya bisa berimajinasi dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri yang bisa saja jadi pernyataan.
Maumere, 2019
Fian N, suka menulis tetapi selalu gagal menulis dengan baik. Suka membaca tetapi tidak pernah menemukan selesai dalam membaca. Musafir (Rose Book, 2018) adalah buku kumpulan puisi perdananya. Ada Rumah dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) adalah buku kumpulan puisi keduanya yang sedang dalam proses penerbitan.

Comments
Post a Comment