Penerbit Rose Book
(2018)
Oleh: Pater Yan Kalndija, SVD
Penulis buku: Sudah Tidak Ada Puisi di Sini
keabadianhanyalahtanyanalarterhingga
taksampai(Tak Sampai)
Keabadian tidak pernah ada. Yang abadi hanyalah pertanyaan-pertanyaan akan keabadian. Pertanyaan-pertanyan itu senantiasa ada selama manusia memiliki keinginan untuk hidup. Bagi orang yang mau hidup pertanyaan perlu untuk menggerakkannya dari masa ke masa. Atas setiap pertanyaan tentunya membutuhkan jawaban-jawaban. Penyair kita dalam antologi puisi perdananya dengan judul Musafir mengakui ia tidak pernah menemukan jawaban yang sempurna atas pertanyaan yang melintasi isi kepala dan isi hatinya. Aku belum ditemukan atau menemukan (Musafir).
Pertanyaan-pertanyaan yang terus bergemuruh membuat seorang manusia entah sadar atau tidak sadar selalu bergerak maju. Gerakan-gerakan yang timbul kadang tak terkendalikan, kakiku melangkah/tak sampai tanah (Kemana).
Usaha menemukan jawaban juga bertumbuh karena ada dorongan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik yang menjadi kekuatan bagi seseorang untuk hidup mendatang, apa yang kita cari dan temukan akan menjadi bekal untuk kita nanti (Apa yang kaucari).
Asa untuk mencari juga terus hidup karena kerinduan abadi akan Dia yang diyakini menjadi sumber sekaligus tujuan hidup manusia, ingin rindu dekapmu/kepak sayapMu dekapku.
Perjalanan untuk mencari dan menemukan bukanlah jalan yang sederhana dan mudah. Tantangan dan rintangan selalu saja tersedia di sepanjang hidup. Kebingungan dan kesendirian adalah hal yang lumrah, sebelum kita sampai/ telah kau tinggalkan aku/ di seribu satu macam bingung (Amin).
Baca Juga: Kenangan pada sebuah Sarapan Pagi Penuh Dusta
Kesendirian memang menakutkan, sebab saat merasa sendiri seorang manusia tidak akan berdaya untuk menentukan pilihan. Segala keluh kesah terasa hanya akan membentur angin, tidak memberikan jawaban apa pun, Tanya tinggal tanya/ di ujung senja penghabisan (Lorong sepi).
Namun, kesendirian juga bisa menjadi saat yang baik untuk bersikap diam, mendengarkan. Izinkan aku tabah dalam-Mu/ tak menuntut banyak diam duduk pasrah/ selebihnya aku hanya dengarkan (Doa). Sikap mendengarkan juga cukup sulit dijalankan. Ancaman kesendirian dan ditinggalkan tumbuh dalam sikap diam. Namun, sikap diam memberikan ruang jeda antara keinginan dan kebenaran. Dalam diam, kita bisa mendengarkan kata hati berbicara secara jelas dan tegas tanpa dimanipulasi suara-suara yang lebih menggiurkan.
Kebingungan, pertanyaan yang tak terjawab, dan kesendirian tidak perlu menghentikan pencarian. Berjalan terus berjalan/bawakan serta harap/ memungut/yang jatuh di pinggirjalan/pilih yang paling sederhana (Meminang kata).
Harapan selalu membuat orang memiliki kemungkinan-kemungkinan yang paling baik terjadi atasnya. Penyair kita tetap mengingatkan cukup memilih yang sederhana sebab lebih mudah dibawa dan tidak memberikan beban yang menghancurkan asa. Namun, jangan gegabah (meminang kata), kata penyair kita.
Sikap hati-hati diperlukan oleh setiap musafir. Ada banyak tawaran yang hadir seolah-olah jawaban atas pertanyaan yang terus mengganggunya. Ada juga yang justeru tersaji seperti bias-bias fatamorgana bagi pengembara yang kehausan, hanya ilusi belaka dan tidak benar-benar memuaskan hasrat akan jawaban yang benar. Bagi penyair kita, pertanyaan-pertanyaan tidak pernah terjawab. Sekian lama aku timba/tanpa sadar/ternyata aku tak pernah sampai dasar (Sumur Yakub). Semakin seorang bergulat dengan jawaban yang ditemukannya semakin ia sadar tidak ada jawaban yang paling tepat untuk semua pencariannya.
Kesadaran ini tidak lahir karena rasa putus asa melainkan karena kerendahan hati, jawaban tidak akan dijangkau hanya dengan sekali dayung. Kenyataan bahwa setiap kali menggali jawaban adalah usaha yang tidak akan pernah sampai dasar menumbuhkan sisi lain dari kemanusiaan seorang pengembara, memilih pulang.
Baca Juga: Perempuan yang Memesan Takdir: Sebuah Monolog Memerdekakan Diri
Keinginan untuk pulang senantiasa bertumbuh sama kuatnya dengan rasa penasaran untuk mencari dan menemukan jawaban. Dia kembali merayuku pulang/ dari ziarah panjang mimpiku (Dia). Usaha untuk menemukan adalah sebuah mimpi panjang yang bisa saja saat terbangun tidak menemukan apa pun. Penyair kita sungguh merasakannya.
Namun, di atas segalanya pengembaraan tidak boleh berhenti. Berjalan terus berjalan sepanjang lika liku jiwa di sungai di lembah di bukit di gunung/ di mana saja ia pun sanggup sampai kapan pun akan terus berjalan tak kenal batas tak kenal/ waktu siang adalah malam ia menjadi pahlawan atas dirinya sendiri selesaikan apa/ yang harus diselesaikan/sang pengembara teruslah mengembara (Sang Pengembara).
Pada dasarnya musafir menunjukkan identitasnya dengan cara mengembara. Pengembara identik dengan perjalanan yang tiada batas. Setiap kali pengembara merasa menemukan jawaban atas pertanyaan yang dicarinya selalu saja pertanyaan baru tumbuh. Sampai aku di penghujungmu/jemari-jemariku renta lunglai pasrah/aksaraku masih terbata-bata (YangTerakhir). Hanya pintu kematian yang membuat manusia berhenti mengembara dan bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang mesti dijawab tentang hidupnya. Yang abadi tetaplah pertanyaan tentang keabadian.
***
Puisi-puisi Fian N sebagian besar berbentuk puisi-puisi pendek. Kemampuan meramu imajinasi yang mahaluas dalam bentuk sajian puisi-puisi pendek menjadi kekuatan penyair kita ini. Setiap kata yang dipilih mewakili banyak kisah di baliknya.
Pembaca senantiasa berjaga agar tidak kehilangan salah satu momen yang mengakibatkan terganggunya keutuhan dan kenikmatan puisi yang disajikan. Di sisi lain, kekhasan puisi-puisi pendek adalah singkat namun meninggalkan kesan bagi pembaca, entah pemahaman-pemahaman baru yang meneguhkan, atau juga pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dan merusak tidur malamnya. Semoga puisi-puisi Fian N melahirkan kedua-duanya bagi pembaca sekalian.
Golo Dopo, Oktober 2018

Pater Yang Kalndija, seorang imam Serikat Sabda Allah yang juga seorang penulis puisi, Sudah Tidak Ada Puisi di Sini.


Mantap amee👏
ReplyDeleteTerima kasih shu mampir.
Delete