Skip to main content

Hidup Ini Baik-baik Saja, Hanya Kita yang Terserah

Ilustrasi: Pixabay

Apa kabar hari ini? Apakah lebih baik dari kemarin atau biasa-biasa saja dan tidak ada yang berubah? Atau mungkin tidak merasakan sesuatu yang berubah?
Hidup kadang menawarkan kita beragam pertanyaan sampai kita lupa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Kadang kita asyik dengan dunia sendiri dan lupa dengan sesama yang ada di sekitar. Yang merindukan senyuman, tawa, candaan, salaman, senyum, dan sapa.

Namun, lebih banyak dari setiap kita yang memilih untuk seperti orang barat pada umumnya, menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Tidak mencampuri urusan orang lain apalagi sampai duduk nimbrung dan asyik gosip dari cerita yang satu ke cerita yang lain. Keadaan sosial seperti inilah yang menjadi pemantik kebencian, dengki, dan iri hati.

Tidak heran jika perang mulut sering terjadi. Anak-anak dididik dalam asuhan yang penuh permasalahan. Anak-anak tumbuh dalam kehidupan yang penuh dengan kengawuran. Itu yang sedang terjadi saat ini.

Baca Juga: Tentang Luka: Kita Semua Pernah

Lalu pada akhirnya, sebagian mengatakan bahwa hidup ini terlalu kejam untuk kita yang terlalu lemah dan dengan tenang, rama-ramai teriak, terserah. Fian N.

Apa yang harus kita buat?

Mulailah dari dalam diri sendiri.

Fian N, 2020

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...