Hidup ni enak jika kita menikmatinya dengan tidak enak-enak saja. Sebab, hidup yang datar tanpa ada sesuatu yang meninggalkan kesan, makasih sia-sialah Anda hidup. Kita, Anda dan saya, ketika melakoni hidup ini tentu harus bisa bahkan sebisa mungkin untuk bisa jalani semua tawaran yang ditawarkan semesta kepada kita. Memilih dan memilah lalu menentukan cara hidup mana yang harus dihidupi dan dijalani. Namun semua itu, tidaklah mudah. Memang enak, tapi tidak seenaknya.
Baca Juga: Tentang Luka: Kita Semua Pernah
Sama halnya ketika kita sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang di dalamnya ada paku dan lalu. Setelah memaku, kadang ada yang tidak sesuai. Ingin mencabutnya lagi tapi akan ada bekas di sana. Dua pilihan yang penuh risiko.
Dan, tibalah pada sebuah kesempatan, kita dihadapkan pada dua perasaan yang bergejolak begitu hebat. Ada keraguan untuk memilih dan menentukan mana yang harus didahului. Tapi, semua punya risiko. Jalan satu-satunya adalah bersikap pura-pura dan yakin bahwa sedang tidak terjadi apa-apa dan semuanya baik-baik saja.
Untuk menutupi itu, rasa sedih yang sesungguhnya berubah rupa menjadi bahagia. Ada pribadi yang takut untuk bersedih di hadapan orang lain. Bukan karena tidak sanggup menahan malu jika dikatakan bahwa 'Anda rapuh' melainkan karena tidak mau orang lain ikut terbebani.
Memilih bahagia dalam keadaan demikian adalah sebuah siksaan yang mengerikan. Saya ingin gambarkan itu seperti neraka tapi saya sadar neraka itu ciptaan manusia semata. Yang melukiskan adanya kesengsaraan di sana.
Dan, semuanya itu harus ada seni. Tanpa seni semua terasa hampa serta tak berwarna.
Ingat, jangan lupa bahagia dan bersedihlah secukupnya.
Fian N, 2020
Baca Juga: Tentang Luka: Kita Semua Pernah
Sama halnya ketika kita sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang di dalamnya ada paku dan lalu. Setelah memaku, kadang ada yang tidak sesuai. Ingin mencabutnya lagi tapi akan ada bekas di sana. Dua pilihan yang penuh risiko.
Dan, tibalah pada sebuah kesempatan, kita dihadapkan pada dua perasaan yang bergejolak begitu hebat. Ada keraguan untuk memilih dan menentukan mana yang harus didahului. Tapi, semua punya risiko. Jalan satu-satunya adalah bersikap pura-pura dan yakin bahwa sedang tidak terjadi apa-apa dan semuanya baik-baik saja.
Untuk menutupi itu, rasa sedih yang sesungguhnya berubah rupa menjadi bahagia. Ada pribadi yang takut untuk bersedih di hadapan orang lain. Bukan karena tidak sanggup menahan malu jika dikatakan bahwa 'Anda rapuh' melainkan karena tidak mau orang lain ikut terbebani.
Memilih bahagia dalam keadaan demikian adalah sebuah siksaan yang mengerikan. Saya ingin gambarkan itu seperti neraka tapi saya sadar neraka itu ciptaan manusia semata. Yang melukiskan adanya kesengsaraan di sana.
Apabila memilih bahagia dan berlebihan maka di sana ada iri hati dan dengki. Semua menjadi ancaman bagi sesama. Manusia maunya apa. Entah! Orang yang bahagia, kita yang mau mati saja. Fian N
Dan, semuanya itu harus ada seni. Tanpa seni semua terasa hampa serta tak berwarna.
Ingat, jangan lupa bahagia dan bersedihlah secukupnya.
Fian N, 2020

Comments
Post a Comment