Skip to main content

Semua Pilihan Punya Risiko

Ilustrasi: Pixabay

Hidup ni enak jika kita menikmatinya dengan tidak enak-enak saja. Sebab, hidup yang datar tanpa ada sesuatu yang meninggalkan kesan, makasih sia-sialah Anda hidup. Kita, Anda dan saya, ketika melakoni hidup ini tentu harus bisa bahkan sebisa mungkin untuk bisa jalani semua tawaran yang ditawarkan semesta kepada kita. Memilih dan memilah lalu menentukan cara hidup mana yang harus dihidupi dan dijalani. Namun semua itu, tidaklah mudah. Memang enak, tapi tidak seenaknya.

Baca Juga: Tentang Luka: Kita Semua Pernah

Sama halnya ketika kita sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang di dalamnya ada paku dan lalu. Setelah memaku, kadang ada yang tidak sesuai. Ingin mencabutnya lagi tapi akan ada bekas di sana. Dua pilihan yang penuh risiko.

Dan, tibalah pada sebuah kesempatan, kita dihadapkan pada dua perasaan yang bergejolak begitu hebat. Ada keraguan untuk memilih dan menentukan mana yang harus didahului. Tapi, semua punya risiko. Jalan satu-satunya adalah bersikap pura-pura dan yakin bahwa sedang tidak terjadi apa-apa dan semuanya baik-baik saja.

Untuk menutupi itu, rasa sedih yang sesungguhnya berubah rupa menjadi bahagia. Ada pribadi yang takut untuk bersedih di hadapan orang lain. Bukan karena tidak sanggup menahan malu jika dikatakan bahwa 'Anda rapuh' melainkan karena tidak mau orang lain ikut terbebani.

Memilih bahagia dalam keadaan demikian adalah sebuah siksaan yang mengerikan. Saya ingin gambarkan itu seperti neraka tapi saya sadar neraka itu ciptaan manusia semata. Yang melukiskan adanya kesengsaraan di sana.

Apabila memilih bahagia dan berlebihan maka di sana ada iri hati dan dengki. Semua menjadi ancaman bagi sesama. Manusia maunya apa. Entah! Orang yang bahagia, kita yang mau mati saja. Fian N

Dan, semuanya itu harus ada seni. Tanpa seni semua terasa hampa serta tak berwarna.

Ingat, jangan lupa bahagia dan bersedihlah secukupnya.

Fian N, 2020

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...