Skip to main content

Jarak

Ilustrasi dan teks: Fian N
 

Pada kesempatan ini, saya akan berceloteh tentang jarak dengan kapasitas sebagai penikmat pagi yang sesekali suka menulis. Jika Anda membaptis saya dengan sebutan apa, itu terserah Anda. Tinggal, apakah saya menerima itu atau tidak. Itu, seperti jarak, yang membutuhkan perjuangan untuk dan agar bisa sampai pada perjumpaan. Lantas Anda akan bertanya, mengapa harus ada jarak? Bukankah jarak itu menyiksa?

 

Karena jarak mengajarkan kita bagaimana cara bertemu yang baik dalam doa. 

Ya, saya bisa katakan demikian. Itu menurut saya. Sebab, hanya dengan jarak, saya dan Anda sedang mati-matian berusaha untuk segera bertemu. Jika tanpa, jarak, maka yang hadir di sana adalah sebuah situasi di mana dua insan merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu diperjuangkan. 

Coba Anda bayangkan saja. Cukup bayangkan saja jika tak ada jarak. Coba Anda bayangkan bagaimana jarak itu menyiksa Anda? 

Hanya karena jarak, Anda tahu bagaimana rindu itu bekerja lebih dari jam kerja pada umumnya. Bagaimana rindu itu banting tulang agar bisa bermuara jumpa. 

Sampai di sini, saya berharap, Anda yang sedang dalam usaha menaklukkan jarak, jangan lupa kuat-kuatlah dalam doa. Seringlah berkabar, soalnya Anda akan kalah dengan yang dekat dan yang bikin nyaman. Terlepas dari janji yang pernah diciptakan bersama. Soalnya, semua manusia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana dia berada. 

Eh, sudah, sudah, ternyata saya belum minum kopi, babi di belakang su teriak-teriak minta makan. Anda juga, berjuang melawan jarak itu butuh asupan gizi. Jangan sampai Anda kalah disiksa jarak yang ngilu di balik rindu. Hahahaha. 

@catatan_fian, 2020

(Sebuah Catatan yang tak Pernah Utuh) 

Comments

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...