Pada kesempatan ini, saya akan berceloteh tentang jarak dengan kapasitas sebagai penikmat pagi yang sesekali suka menulis. Jika Anda membaptis saya dengan sebutan apa, itu terserah Anda. Tinggal, apakah saya menerima itu atau tidak. Itu, seperti jarak, yang membutuhkan perjuangan untuk dan agar bisa sampai pada perjumpaan. Lantas Anda akan bertanya, mengapa harus ada jarak? Bukankah jarak itu menyiksa?
Karena jarak mengajarkan kita bagaimana cara bertemu yang baik dalam doa.
Ya, saya bisa katakan demikian. Itu menurut saya. Sebab, hanya dengan jarak, saya dan Anda sedang mati-matian berusaha untuk segera bertemu. Jika tanpa, jarak, maka yang hadir di sana adalah sebuah situasi di mana dua insan merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu diperjuangkan.
Coba Anda bayangkan saja. Cukup bayangkan saja jika tak ada jarak. Coba Anda bayangkan bagaimana jarak itu menyiksa Anda?
Hanya karena jarak, Anda tahu bagaimana rindu itu bekerja lebih dari jam kerja pada umumnya. Bagaimana rindu itu banting tulang agar bisa bermuara jumpa.
Sampai di sini, saya berharap, Anda yang sedang dalam usaha menaklukkan jarak, jangan lupa kuat-kuatlah dalam doa. Seringlah berkabar, soalnya Anda akan kalah dengan yang dekat dan yang bikin nyaman. Terlepas dari janji yang pernah diciptakan bersama. Soalnya, semua manusia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana dia berada.
Eh, sudah, sudah, ternyata saya belum minum kopi, babi di belakang su teriak-teriak minta makan. Anda juga, berjuang melawan jarak itu butuh asupan gizi. Jangan sampai Anda kalah disiksa jarak yang ngilu di balik rindu. Hahahaha.
@catatan_fian, 2020
(Sebuah Catatan yang tak Pernah Utuh)

Comments
Post a Comment