Skip to main content

Saya, Maunya Apa?


Ilustrasi: Pixabay

Setiap mengawali pagi, apakah kita sadar bahwa ada udara yang keluar-masuk melalui hidung dan mulut? Sesaat setelah itu, kita tersadarkan oleh rasa syukur yang mengalir di seluruh sekujur tubuh setelah puas dari pulas.

Merapikan tempat tidur adalah kebiasaan yang kadang membosankan. Seperti doa, juga demikian, ada rasa bosan jika segala pinta tak segera dikabulkan. Minum air putih dan hal-hal sederhana lainnya, kadang disepelekan, mungkin tidak layak dibagikan melalui tulisan, misalnya seperti tulisan yang sedang Anda baca saat ini.

Tidak apa-apa, sebab hanya ini yang bisa saya bagikan dari hasil olah-pikir setelah membaca buku dan beberapa fenomena yang terjadi di sekitar, tidak ada yang lebih apalagi istimewa. Dan jika, yang Anda cari hanyalah hal-hal yang luar biasa, ya, itu kembali kepada pribadi Anda masing-masing. Sebab, sejujurnya, saya mau sampaikan, bahwa hanya melalui hal-hal yang sederhana, kita tahu bagaimana caranya mencintai tanpa kenal: yang sederhana dan luar biasa.

Asyik Juga Baca Ini: Sesekali Kita Berbicara Ponsel Dan Kematian


Hal-hal luar biasa, itu hadir dari senyawa-senyawa kecil, kesederhanaan. Sederhananya begini, Anda dan atau saya tidak akan pernah melihat kupu-kupu yang indah jika tidak menghargai proses terjadinya kupu-kupu dari ulat menjadi kepompong dan di sana terlihat jijik serta menggelikan. Namun, keindahan akan menjawab semuanya itu ketika mata menyaksikan segerombolan kupu-kupu terbang melintasi halaman rumah dan memenuhi pucuk-pucuk bunga.

Seperti hidup kita, melalui proses yang panjang hingga pada tahap lansia dan hal itu terjadi jika malaikat maut masih menyaksikan kita menikmati kehidupan ini. Namun, kadang kita lupa untuk bersyukur. Karena ego, kita dan saya berujar, maunya apa?

Saya dan juga Anda sering menolak untuk berproses meskipun ada adagium klasik yang meyakinkan, " Hasil tidak pernah khianati proses."

Adagium ini benar pada sisi yang lain tetapi dalam waktu yang bersamaan juga selalu dikhianati oleh Anda dan saya yang tidak menghargai proses. Sebab, saya dan Anda seringkali terjebak dalam rasa puas yang lekas tuntas. Proses yang buru-buru ini, melahirkan rentetan kegagalan yang panjang.

Saat-saat seperti ini, Tuhan yang disalahkan dan semesta yang selalu dicacimaki. Dan, saya maunya apa?

Fian N, menyukai kamu dan lombok kecil. Tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Musafir (Rose Book, 2018) Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) adalah dua buku puisi tunggalnya.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...