Skip to main content

Bagaimana Caranya Menerima Masa Lalu?

Ilustrasi: Pixabay

Saya sering menerima curahan hati dari beberapa orang yang merasa paling patah hati. Ada curahan hati yang penuh dengan tangisan dan keseriusan dan ada yang hanya coba-coba berbagi kisah orang lain pada diri saya. Saya tidak kaget tapi saya selalu bertanya-tanya, kenapa harus saya yang mereka percayakan untuk dengar curahan hati yang penuh rahasia itu? Bukannya rahasia tidak boleh diceritakan kepada orang lain?

Baca Juga: Tentang Luka: Kita Semua Pernah

Seperti dan sama halnya masa lalu. Setiap kita tentu memiliki masa lalu. Bagaimana kita menerima masa lalu? Kadang seseorang mencari sosok pribadi yang bisa menjadi teman hidup yang bisa saling menerima, salah satunya masa lalu.

Tetapi, menemukan pasangan hidup tidaklah mudah. Ada banyak kriteria yang kita tetapkan. Kita tidak bisa bilang tidak. Namun, dari semua itu, kita tentunya memiliki kriteria yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Mata saya melihat perempuan akan berbeda dengan matamu melihat seorang lelaki. Isi kepala saya tentunya beda melihat sisi lain perempuan sama halnya juga isi kepalamu berbeda melihat sisi lain lelaki.

Baca Juga: Ada Rumah Dalam Tubuhku (Ketika Penulis Menjadi Pembaca)

Mata dan kepala kita tentunya berbeda melihat dan menerima masa lalu setiap pribadi orang yang akan menjadi teman hidup kita.

Kadang kita takut menerima setelah tahu seperti apa masa lalunya. Ada orang yang dengan berani siap menerima masa lalu seseorang. Jika masa lalu sebagai tolok ukur kebahagiaan, apa yang kita butuhkan dari hidup seseorang?

Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan dalam menemukan kebahagiaan. Bagaimana kita bisa bahagia jika tidak bisa saling menerima masa lalu? Di balik yang kelam masih terselip pesan kebaikan dari sana. Jangan takut menerima yang terluka, Fian N.

Jangan buat kriteria yang akhirnya membuat kita sendiri terjebak dalam kedangkalan berpikir tentang kebahagiaan.

Fian N, 2020

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...