Pernah saya temukan ungkapan yang menyatakan demikian, ada orang mau menikah karena melihat orang sedang ramai-ramainya menikah. Jujur, sebetulnya tidak salah juga dengan ungkapan tersebut dan tidak benar juga bahwa ungkapan itu benar. Semua, pasti punya pertimbangan. Apakah setelah menikah, salah satu di antaranya akan menjadi bucin untuk pasangnya, itu haknya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sana. Tapi, warga +62 kadang lupa diri dan sok care dengan kehidupan orang lain, padahal faktanya, hidupnya sendiri bagai perahu tanpa kemudi di tengah lautan luas. Saya, misalnya.
Hahahah, kenapa sampai begitu? Ok kembali kepada topik pembicaraan tentang jodoh. Menurut KBBI, jodoh itu adalah sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang. Atau, orang yang cocok menjadi suami-istri.
Di sini jelas, sesuatu yang cocok. Artinya, kecocokan itu tidak ditemukan dalam waktu yang singkat. Butuh perjalanan panjang untuk sampai pada sebuah kecocokan. Tapi, sering kita dengar ada yang mengatakan, kami baru kenalan, dan ada kecocokan di antara kami. Ya, setiap pribadi punya caranya tersendiri untuk menemukan kecocokan. Warga +62 seringkali menjadikan orang lain untuk menjadi standar bagi dirinya. Semakin keseringan untuk menjadikan orang lain standar, kadang kita lupa akan kualitas atau potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing. Caaaa, sok bijak, hahaha.
Baca Juga: Bagaimana Bisa Aku Membuka Hati Setelah Sakit Hati Bertubi-tubi?
Jujur, saya kadang risih dengan celoteh-celoteh demikian. Makanya, kadang kita tidak pernah berkembang dan menjalani hidup dengan proses yang itu-itu saja.
Sebab, kita terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang-orang. Sudah, terserah orang mo bicara apa, itu haknya dan kita juga punya hak untuk tidak mendengarkan.
Dan hal itu juga terjadi dengan persoalan jodoh dan kecocokan. "Teman, menurut kau, saya cocok ko tidak dengan dia? ". Nah, seperti ini ni yang bakal terjadi saling tikung. Kalau Anda bertanya di orang yang tepat, Anda akan menemukan jawaban yang tepat dan membantu. Tetapi, jika Anda bertanya pada orang yang juga menaruh perasaan yang sama pada orang tersebut, maka jangan heran jika jawabannya tidak sesuai ekspetasi. Aii, teman, tidak cocok. Tinggalkan saja dia. Tidak ada lagi yang lain ko?
Cobalah berani untuk bertanya pada diri sendiri. Di sana, Anda akan tahu kualitas Anda sudah sejauh mana. Soal jodoh, semua ada waktunya. Jangan dengarkan orang bicara, mereka cuma sirik sama kita, kata Kaka Slank. Sampai akhirnya Mace Purba pun bilang, terlalu sibuk bicara orang, kasihan.
Sampai di sini, soal jodoh, itu tergantung kecocokan. Kalau su cocok, gas. Kalau belum, jalan, cari dan temukan. Hidup sesederhana itu. Yang berat itu terlalu dengar omongan tetangga. Dan, itu yang dialami si pebasket sombong, Denny Sumargo. Lihat saja, usianya hampir memasuki kepala empat, tetapi beliau santai saja menikmati hidup. Dan, kabar terbaru, si pebasket sombong itu telah menemukan tambatan hati dan sudah melangsungkan pernikahan di tanggal 21 November 2020. Ya, kita juga perlu belajar dari orang-orang yang ada sekitar tanpa harus menjadi mereka.
Jadi, jangan menikah karena melihat orang lain menikah. Biasanya, yang terlambat itu penyesalan.
Gurusina, 2020
Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termamsuk dirimu.

Keren ame...real🙏
ReplyDeleteTerima kasih, ane
Delete