Skip to main content

Tentang Jodoh, Mari Belajar dari Denny Sumargo

 

Denny Sumargo dan Olivia Allan
(Merdeka.com) 

Pernah saya temukan ungkapan yang menyatakan demikian, ada orang mau menikah karena melihat orang sedang ramai-ramainya menikah. Jujur, sebetulnya tidak salah juga dengan ungkapan tersebut dan tidak benar juga bahwa ungkapan itu benar. Semua, pasti punya pertimbangan. Apakah setelah menikah, salah satu di antaranya akan menjadi bucin untuk pasangnya, itu haknya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sana. Tapi, warga +62 kadang lupa diri dan sok care dengan kehidupan orang lain, padahal faktanya, hidupnya sendiri bagai perahu tanpa kemudi di tengah lautan luas. Saya, misalnya. 

Hahahah, kenapa sampai begitu? Ok kembali kepada topik pembicaraan tentang jodoh. Menurut KBBI, jodoh itu adalah sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang. Atau, orang yang cocok menjadi suami-istri. 

Di sini jelas, sesuatu yang cocok. Artinya, kecocokan itu tidak ditemukan dalam waktu yang singkat. Butuh perjalanan panjang untuk sampai pada sebuah kecocokan. Tapi, sering kita dengar ada yang mengatakan, kami baru kenalan, dan ada kecocokan di antara kami. Ya, setiap pribadi punya caranya tersendiri untuk menemukan kecocokan. Warga +62 seringkali menjadikan orang lain untuk menjadi standar bagi dirinya. Semakin keseringan untuk menjadikan orang lain standar, kadang kita lupa akan kualitas atau potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing. Caaaa, sok bijak, hahaha. 

Baca Juga: Bagaimana Bisa Aku Membuka Hati Setelah Sakit Hati Bertubi-tubi?

Jujur, saya kadang risih dengan celoteh-celoteh demikian. Makanya, kadang kita tidak pernah berkembang dan menjalani hidup dengan proses yang itu-itu saja. 

Sebab, kita terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang-orang. Sudah, terserah orang mo bicara apa, itu haknya dan kita juga punya hak untuk tidak mendengarkan. 

Dan hal itu juga terjadi dengan persoalan jodoh dan kecocokan. "Teman, menurut kau, saya cocok ko tidak dengan dia? ". Nah, seperti ini ni yang bakal terjadi saling tikung. Kalau Anda bertanya di orang yang tepat, Anda akan menemukan jawaban yang tepat dan membantu. Tetapi, jika Anda bertanya pada orang yang juga menaruh perasaan yang sama pada orang tersebut, maka jangan heran jika jawabannya tidak sesuai ekspetasi. Aii, teman, tidak cocok. Tinggalkan saja dia. Tidak ada lagi yang lain ko? 

Cobalah berani untuk bertanya pada diri sendiri. Di sana, Anda akan tahu kualitas Anda sudah sejauh mana. Soal jodoh, semua ada waktunya. Jangan dengarkan orang bicara, mereka cuma sirik sama kita, kata Kaka Slank. Sampai akhirnya Mace Purba pun bilang, terlalu sibuk bicara orang, kasihan. 

Sampai di sini, soal jodoh, itu tergantung kecocokan. Kalau su cocok, gas. Kalau belum, jalan, cari dan temukan. Hidup sesederhana itu. Yang berat itu terlalu dengar omongan tetangga. Dan, itu yang dialami si pebasket sombong, Denny Sumargo. Lihat saja, usianya hampir memasuki kepala empat, tetapi beliau santai saja menikmati hidup. Dan, kabar terbaru, si pebasket sombong itu telah menemukan tambatan hati dan sudah melangsungkan pernikahan di tanggal 21 November 2020. Ya, kita juga perlu belajar dari orang-orang yang ada sekitar tanpa harus menjadi mereka. 

Jadi, jangan menikah karena melihat orang lain menikah. Biasanya, yang terlambat itu penyesalan. 

Gurusina, 2020

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termamsuk dirimu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...