Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.
Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.
Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.
Baca Juga: Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh
Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.
Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menjaga keutuhan martabat dengan cara menghargai setiap luka yang pernah tercipta dan mengubahnya menjadi kebaikan. Tapi sayang, aku tak sanggup melakukan itu melainkan menciptakan kehancuran.
Aku sadar, semoga Tuhan segera ambil kaki ini dalam sebuah amin.
Gurusina, 2020
Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja termasuk dirimu.

👍👍👍
ReplyDeleteTerima kasih, Ade
Delete