Skip to main content

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay

Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu. 

Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat. 

Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan. 

Baca Juga: Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan. 

Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menjaga keutuhan martabat dengan cara menghargai setiap luka yang pernah tercipta dan mengubahnya menjadi kebaikan. Tapi sayang, aku tak sanggup melakukan itu melainkan menciptakan kehancuran. 

Aku sadar, semoga Tuhan segera ambil kaki ini dalam sebuah amin. 

Gurusina, 2020

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja termasuk dirimu. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...