Gambar: Dokpri
(Sebagian tim Pondok Baca Mataleza saat mengikuti Summer Camp di Watuzape, Riung)
Ini dan kutipan di atas adalah tentang kisah perjalanan kami yang tentunya bukan hanya saya, ada mereka. Kami berjalan dengan sebuah rencana, menemukan kenangan dan menciptakan kangen.
Semua akibat pasti ada sebab, dan kami adalah kumpulan dari sekian banyak saya. Kami menamakan semua itu Mataleza.
Mataleza bukan sekadar nama melainkan roh yang mampu menghimpun kegilaan kami. Dari sekian banyak kegilaan itu, kami punya kesamaan, mencintai keberlainan yang datang dari diri kami masing-masing.
Enak Juga Baca Ini: tuhan dan ciuman
Di sini, dari sekian banyak saya itu, kami menciptakan ruang persaudaraan dalam perbedaan pendapat. Saya sering katakan kepada teman-teman, bahwa di Pondok Baca Mataleza akan menjadi tempat kita barter ide. Apa pun ide atau pendapat yang diberikan, diterima dan diseleksi lalu diputuskan secara bersama.
Terus apa hubungannya dengan Watuzape? Watuzape itu tempat di mana kami melepaskan segala kesibukan tentang pondok baca. Menciptakan ruang dan suasana baru. Sebab, di Watuzape, Mataleza terbit. Terbit dari semua senyum dan sapa yang ditukarkan melalui perjumpaan yang berdatangan dari Ruteng, Ende, dan Bajawa. Kami satu tujuan, menyatu dan bermain dengan alam dalam merayakan musim panas secara berbeda (Summer Camp) . Mendengarkan alam melantunkan apa saja termasuk mengirimkan hujan untuk melengkapi keakraban yang akan dirasakan saat jauh. Dan di sini, di Watuzape, semuanya bermula.
Menantikan matahari terbit, kami dari Mataleza berbagi cerita tentang kerinduan kami untuk dan bisa berbuat sesuatu kepada anak-anak dan masyarakat Boawae umumnya sekembalinya dari petualangan singkat ini. Sebagai pencinta literasi (bolehlah kami sebutkan begitu, ya biar dibilang pegiat literasi begitu, hahaha), kami berharap, setiap elemen masyarakat dan termasuk pemerintah mampu bersinergi untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui literasi yang bukan hanya baca-tulis, tetapi apa saja yang mampu menyelamatkan anak bangsa dari segala melek yang sering disematkan kepada anak bangsa.
Kami bermimpi dan dari mimpi itulah kami mulai mewujudkannya pelan-pelan dengan terus mencintai setiap proses. Sebab, dengan berproses, kami tahu bahwa semua itu mampu melahirkan pengalaman yang sangat berharga.
Enak Juga Baca Ini: Waktu Indonesia Berceloteh
Di Watuzape, kami merancang dan mematangkan ide untuk kelangsungan Pondok Baca Mataleza. Melebarkan sayap dan menjemput setiap kesempatan yang dihadiahkan semesta sembari melayangkan persaudaraan tanpa batas dan terus berbagi kasih dalam setiap perjumpaan.
Di Watuzape, Mataleza terbit dari mata kita, bukan saya atau kau; bukan dia atau mereka dan semua itu demi sebuah tujuan yang mulia.
(Catatan dari tukang masak di Pondok Baca Mataleza, Fian N)

Kae punya skil berbahasa saya akuiππππ₯
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteLuar biasa π€ salam literasi
ReplyDeleteSiap. Terima kasih banyak.
DeleteSaya tidak terlalu suka membaca,tapi sekilas saya tersimak oleh arti kata,yang ditemukan oleh orang anak tanah boawae....bravo...sukses slalu pak vianπππ
ReplyDeleteHahahhaa waduhh Terima kasih banyak
Delete