Skip to main content

Mataleza terbit di Watuzape (Summer Camp 2020, Riung)

Gambar: Dokpri
(Sebagian tim Pondok Baca Mataleza saat mengikuti Summer Camp di Watuzape, Riung) 

Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maka berjalanlah lebih jauh, siapa tahu Anda tersesat, kan enak to?

Ini dan kutipan di atas adalah tentang kisah perjalanan kami yang tentunya bukan hanya saya, ada mereka. Kami berjalan dengan sebuah rencana, menemukan kenangan dan menciptakan kangen.

Semua akibat pasti ada sebab, dan kami adalah kumpulan dari sekian banyak saya. Kami menamakan semua itu Mataleza.

Mataleza bukan sekadar nama melainkan roh yang mampu menghimpun kegilaan kami. Dari sekian banyak kegilaan itu, kami punya kesamaan, mencintai keberlainan yang datang dari diri kami masing-masing.

Enak Juga Baca Ini: tuhan dan ciuman

Di sini, dari sekian banyak saya itu, kami menciptakan ruang persaudaraan dalam perbedaan pendapat. Saya sering katakan kepada teman-teman, bahwa di Pondok Baca Mataleza akan menjadi tempat kita barter ide. Apa pun ide atau pendapat yang diberikan, diterima dan diseleksi lalu diputuskan secara bersama.

Terus apa hubungannya dengan Watuzape? Watuzape itu tempat di mana kami melepaskan segala kesibukan tentang pondok baca. Menciptakan ruang dan suasana baru. Sebab, di Watuzape, Mataleza terbit. Terbit dari semua senyum dan sapa yang ditukarkan melalui perjumpaan yang berdatangan dari Ruteng, Ende, dan Bajawa. Kami satu tujuan, menyatu dan bermain dengan alam dalam merayakan musim panas secara berbeda (Summer Camp) . Mendengarkan alam melantunkan apa saja termasuk mengirimkan hujan untuk melengkapi keakraban yang akan dirasakan saat jauh. Dan di sini, di Watuzape, semuanya bermula.

Menantikan matahari terbit, kami dari Mataleza berbagi cerita tentang kerinduan kami untuk dan bisa berbuat sesuatu kepada anak-anak dan masyarakat Boawae umumnya sekembalinya dari petualangan singkat ini. Sebagai pencinta literasi (bolehlah kami sebutkan begitu, ya biar dibilang pegiat literasi begitu, hahaha), kami berharap, setiap elemen masyarakat dan termasuk pemerintah mampu bersinergi untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui literasi yang bukan hanya baca-tulis, tetapi apa saja yang mampu menyelamatkan anak bangsa dari segala melek yang sering disematkan kepada anak bangsa.

Kami bermimpi dan dari mimpi itulah kami mulai mewujudkannya pelan-pelan dengan terus mencintai setiap proses. Sebab, dengan berproses, kami tahu bahwa semua itu mampu melahirkan pengalaman yang sangat berharga.

Enak Juga Baca Ini: Waktu Indonesia Berceloteh

Di Watuzape, kami merancang dan mematangkan ide untuk kelangsungan Pondok Baca Mataleza. Melebarkan sayap dan menjemput setiap kesempatan yang dihadiahkan semesta sembari melayangkan persaudaraan tanpa batas dan terus berbagi kasih dalam setiap perjumpaan.

Di Watuzape, Mataleza terbit dari mata kita, bukan saya atau kau; bukan dia atau mereka dan semua itu demi sebuah tujuan yang mulia.

(Catatan dari tukang masak di Pondok Baca Mataleza, Fian N)


Comments

  1. Kae punya skil berbahasa saya akuiπŸ™πŸ™πŸ™πŸ”₯

    ReplyDelete
  2. Saya tidak terlalu suka membaca,tapi sekilas saya tersimak oleh arti kata,yang ditemukan oleh orang anak tanah boawae....bravo...sukses slalu pak vianπŸ™πŸ™πŸ™

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...