Skip to main content

Waktu Indonesia Berceloteh

Ilustrasi: Pixabay

Saya tidak punya cerita di sini. Hanya tersedia segala kemungkinan yang disegel dengan label negara. Mimpi saya diamplop rapi dan dikirimkan ke lubang-lubang kenyataan hidup yang gelap. Seperti hutan yang merindukan teduh. Sungai yang merindukan air. Langit yang merindukan awan putih. Seperti laut yang merindukan biru.

Baca Juga: Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi

Saya digiring di antara deru-deru kekinian yang kian pasti menutupi segala keingintahuan yang ingin diketahui oleh anak-anak pengetahuan. Jalan-jalan  buntu dibangun atas nama ekonomi yang seimbang. Tidak untuk Jawa. Tidak untuk Papua, apalagi untuk Indonesia. Ini untuk kesendirian. Yang ada untuk saya itu, ketidakpastian yang segera menemukan kepastian. Seperti saya, mungkin dirimu juga.

Kita terjebak di antara janji-janji atas nama Indonesia. Dikumpulkan pada kertas-kertas kapitalis. Bangun secara serempak, meminimalisir anggaran, memaksimalkan pendapatan pribadi. Fian N

Asu, selucu inikah hidupmu, Indonesia?

Saya bangun pagi hanya siap untuk tidur malam. Rutinitas diatur undang-undang. Selangkangan digiring masuk ruang wakil rakyat. Seaneh inikah, Indonesia? Diperdebatkan sengit. Hak hidup bebas dicabut. Undang-undang dibuat untuk yang masih kolot. Gagal paham akan aturan, maka terjebak dalam lubang hitam kenyataan yang menyakitkan. Bukan hanya tumpul tetapi menikam ke bawah tanpa ampun.

Indonesia, boleh saya ganti namamu Papua? Papua merayu mesra.

Bagaimana kalau kuberi kau nama eNTeTe? Ada komodo yang menunggumu di pintu masuk. eNTeTe tidak kalah. Merayu dengan cara yang tak kasat mata.

Sudah, aku mau menjadi diriku sendiri. Tidak untuk Papua. Tidak juga untuk eNTeTe, paham? Indonesia menguatkan diri dalam deraian air mata.

Papua masih bediri sambil melagu, hitam kulit keriting rambut, Aku Papua. eNTeTe menatap aneh dan tak mau kalah, dengan tenang berkata, Nanti Tuhan Tolong. 

Boawae, 2020

Fian N, suka kamu dan lombok kecil.

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...