Skip to main content

Rahasia

 

Ilustrasi: Pixabay

Dalam diri kita terdapat rahasia. Yang tak dapat diungkap dengan kata. Semua diselami dengan penuh rasa. Antara hampa dan gundah-gulana. Sebab, semakin mencari pun yang hadir adalah tanya pada sesuatu yang baru dan yang tak terselami akal.

Siang yang hampir padam dan senja yang kini tersisa pada dasar gelas adalah ampas yang impas setelah bibir kita bertukar kabar pada jumpa pertama. Selamat sore, Pagi. Sapaku padamu yang sedang menunggu kedatanganku sebelum kejadian di atas. Kamu Sore, kan? Pagi bertanya penuh penasaran. Kita masih menyisakan tanya pada kepala dengan beraneka pertanyaan yang hampir meledak dan ingin keluar dari dalam. Ada yang ingin ditanyakan dan ada yang sedang menunggu jawaban. Ada yang sudah siap menerima dan berharap agar ada yang segera memberi. Ada banyak teka-teki yang tak mudah menemukan jawabannya. Terkadang kepala tiba-tiba penuh dengan cacian dan makian.

Baca Juga: Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Hidup kadang menawarkan beraneka sandiwara. Panggung-panggung penuh dengan iklan-iklan kosong. Pasar-pasar penuh dengan jualan-jualan mimpi anak-anak yang ingin ke sebuah mall yang besarnya seperti salah satu pulau di negeri ini. Di mana-mana, orang-orang selalu bertanya dan penasaran. Ini apa dan itu apa? Siang bertanya pada suatu pagi yang basah. Sedangkan di sana, Malam sedang menunggu dalam gelapnya dan kepalanya penuh dengan lolongan anjing-anjing di sekitaran kubur yang sedang menantikan kedatangan masa depan. Ini seperti rahasia, Siang. Tiba-tiba Pagi memberikan sebuah jawaban atas kebingungan Siang. Siang tetap diam dan di sana, di penghujung cakrawala itu, ada semburat merah jingga yang sedang berjingkat dan melambai-lambai seperti tali-temali yang dimainkan anak-anak pantai. Ternyata, Sore sedang menunggu dalam keriangan yang tak terkendalikan.

Pagi, kelak semua kita akan pulang pada sebuah malam. Kita tak perlu membantah atau sekadar mencari pembenaran diri. Sebab, hal semacam itu akan terdengar sia-sia pada telinga Malam. Malam memang selalu indah tapi terkadang sangat menakutkan jika yang ia datangi adalah semua manusia yang masih berjalan pada sekitaran pagi. Sore berusaha memberikanku sebuah pamahaman baru akan hidup ini. Sore, tidak sedang mengguruiku. Ia berterus terang dan apa adanya. Menunggu dan menentukan pilihan adalah sebuah cara terbaik dalam menemukan kepastian. Namun, hal-hal semacam itu akan tampak sulit bagi yang tak biasa. Yang biasa dilakukan manusia adalah memanipulasi fakta yang sebenarnya. 

Baca Juga: Menjadi Pemimpi Bisa, Menjadi Pemimpin Bisa?

Sore, apakah kita perlu sesuatu untuk bersandiwara? Atau sekadar menyiasati diri sendiri untuk sesuatu yang belum kita tahu pasti? Apakah kita akan melibatkan malam dalam segala rencana ini? Apakah ada yang harus kita tuntaskan sebelum semuanya terkuak pada permukaan semesta dan segala isinya yang lain? Apakah perlu kita berlama-lama untuk sebua kepura-puraan yang kelihatannya ganjil? Apakah semua manusia itu sama ketika melakukan sebuah kesalahan yang sama dari pada kebenaran itu sendiri? Apakah semua manusia itu gudang penipuan dari segala yang tak tampak dan tak sempat diucap bibir? Apakah semua manusia bisa saling menipu dan membenci sekaligus mencintai?

Pagi berusaha membongkar segala unek-unek dalam kepalanya melalui pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sumpek pada kepalanya. Ini adalah sesuatu yang tidak biasa dilakukan olehnya. Sejak semua dijadikan dan sejak saat itu, menunggu adalah jawaban yang kadang membosankan. Kita terbiasa menganut kebiasaan seperti itu. Tak ada yang benar-benar pasti. Semua perlu diragukan.

Pagi dan Sore, mengalami pergolakan panjang dalam hidup yang singkat. Semua bukan tentang keluhan semata atas segala sandiwara yang sedang dipertontonkan manusia-manusia tanpa henti. Ini tentang kenyataan-kenyataan pahit yang tak dapat dihindari. Pagi dan Sore mangalami hal yang sama. Pagi akan dengan cepat ditinggal pergi. Sedangkan Sore, hanyalah kiasan keindahan dari mulut-mulut para pujangga yang sedang melukiskan keadaan paling patah hati dari mereka yang merasa paling disakiti. Kiasan tentang mereka yang sedang asyik-asyiknya kasmaran. Sore, hanya menjadi pelampiasan atas ketidakwarasan cinta dan benci. Sore kadang menyimpan luka dan cinta kadarnya secepat malam datang menjemput.

Siang berusaha mendeskripsikan segala kejanggalan dan kesempurnaan antara Pagi dan Sore. Segala suka dan duka serta tawa yang kadang tak sempurna. Namun, Siang kadang lupa akan segala kesedihannya. Manusia-manusia akan lari dari padanya. Mencari teduh yang paling teduh. Semua mengeluh kepanasan. Dan tak ada yang bisa bertahan lebih lama di bawahnya. Sesungguhnya, Siang itu menyedihkan.

Segala kejadian-kejadian yang ada di sekitar, itu adalah rahasia. Rahasianya seperti tentang kita. Misalnya seperti ini, kita membicarakan cinta yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita, namun sesungguhnya di antara kita tersimpan rahasia. Rahasia tentang aku dan dirimu yang terlalu takut untuk jujur. Kau mengharapkan ada banyak kesempatan yang datang padamu dan aku mengharapkan waktu segera datang pada kita. Kita sesungguhnya sedang menakar kitadakpastian di antara kita.     

Ini sudah malam, Malam? Siang bertanya penuh keanehan.                       

Hey, Siang, apakah tidak melihat Pagi? Atau Pagi sedang ke mana? Malam bertanya penuh kebingungan.

Mungkin Pagi sedang jalan-jalan atau sedang bertamu pada rumah Sore pada sebuah sore. Mungkin ia sedang mencari kopi demi memulihkan inspirasinya. Siang menjawab seadanya.

Aku dan dirimu sedang menemukan kebingungan, itu terlintas pada mata kita. Ada banyak kesedihan yang tak pernah berkesudahan. Dan ada banyak tawa yang kelihatan hampa dan tawar. Tergambar kepura-puraan dari balik indah matamu. Dan ada muslihat yang terlukis dari bibirku. Kau berusaha memeriksa gelasku apakah ada kenangan selain ampas kopi yang baru kita sesap.

Aku tak apa-apa melihat tingkah anehmu yang selalu mencurigaiku. Sebab, tugasku hanyalah mencintaimu dan aku tak punya hak untuk menuntutmu. Jika kau bertanya mengapa dan jawabanku adalah karena aku tak pernah mencintai curigamu dan aku hanya bisa menjaga percayamu. Selebihnya, terserah padamu. Seperti Pagi, Siang, Sore dan Malam, di antara kita terdapat rahasia yang tak satupun tahu, apa itu?

Rahasia itu, anak manusia

Yang keluar dari rahim seorang yang bernama perempuan

Menanggung sakit pada ujung bahagia

Terdapat tangis dan haru yang tawa

Pada sebuah mimpi yang nyata.

Maumere, 2019

Gian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termasuk dirimu. 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...