Dalam diri kita terdapat rahasia. Yang tak dapat diungkap dengan
kata. Semua diselami dengan penuh rasa. Antara hampa dan gundah-gulana. Sebab,
semakin mencari pun yang hadir adalah tanya pada sesuatu yang baru dan yang tak
terselami akal.
Siang yang hampir padam dan senja yang kini tersisa pada dasar
gelas adalah ampas yang impas setelah bibir kita bertukar kabar pada jumpa
pertama. Selamat sore, Pagi. Sapaku padamu yang sedang menunggu
kedatanganku sebelum kejadian di atas. Kamu Sore, kan? Pagi bertanya
penuh penasaran. Kita masih menyisakan tanya pada kepala dengan beraneka
pertanyaan yang hampir meledak dan ingin keluar dari dalam. Ada yang ingin
ditanyakan dan ada yang sedang menunggu jawaban. Ada yang sudah siap menerima
dan berharap agar ada yang segera memberi. Ada banyak teka-teki yang tak mudah
menemukan jawabannya. Terkadang kepala tiba-tiba penuh dengan cacian dan
makian.
Baca Juga: Rumah Yang Teriak Minta Tolong
Hidup kadang menawarkan
beraneka sandiwara. Panggung-panggung penuh dengan iklan-iklan kosong.
Pasar-pasar penuh dengan jualan-jualan mimpi anak-anak yang ingin ke sebuah
mall yang besarnya seperti salah satu pulau di negeri ini. Di mana-mana,
orang-orang selalu bertanya dan penasaran. Ini apa dan itu apa? Siang
bertanya pada suatu pagi yang basah. Sedangkan di sana, Malam sedang menunggu
dalam gelapnya dan kepalanya penuh dengan lolongan anjing-anjing di sekitaran
kubur yang sedang menantikan kedatangan masa depan. Ini seperti rahasia,
Siang. Tiba-tiba Pagi memberikan sebuah jawaban atas kebingungan Siang.
Siang tetap diam dan di sana, di penghujung cakrawala itu, ada semburat merah
jingga yang sedang berjingkat dan melambai-lambai seperti tali-temali yang
dimainkan anak-anak pantai. Ternyata, Sore sedang menunggu dalam keriangan yang
tak terkendalikan.
Pagi, kelak semua kita akan pulang pada sebuah malam. Kita tak
perlu membantah atau sekadar mencari pembenaran diri. Sebab, hal semacam itu
akan terdengar sia-sia pada telinga Malam. Malam memang selalu indah tapi
terkadang sangat menakutkan jika yang ia datangi adalah semua manusia yang
masih berjalan pada sekitaran pagi. Sore
berusaha memberikanku sebuah pamahaman baru akan hidup ini. Sore, tidak sedang
mengguruiku. Ia berterus terang dan apa adanya. Menunggu dan menentukan pilihan
adalah
sebuah cara terbaik dalam menemukan kepastian. Namun, hal-hal semacam itu akan
tampak sulit bagi yang tak biasa. Yang biasa dilakukan manusia adalah
memanipulasi fakta yang sebenarnya.
Baca Juga: Menjadi Pemimpi Bisa, Menjadi Pemimpin Bisa?
Sore, apakah kita perlu sesuatu untuk bersandiwara? Atau sekadar
menyiasati diri sendiri untuk sesuatu yang belum kita tahu pasti? Apakah kita
akan melibatkan malam dalam segala rencana ini? Apakah ada yang harus kita
tuntaskan sebelum semuanya terkuak pada permukaan semesta dan segala isinya
yang lain? Apakah perlu kita berlama-lama untuk
sebua kepura-puraan yang kelihatannya ganjil? Apakah semua manusia itu sama
ketika melakukan sebuah kesalahan yang sama dari pada kebenaran itu sendiri?
Apakah semua manusia itu gudang penipuan dari segala yang tak tampak dan tak
sempat diucap bibir? Apakah semua manusia bisa saling menipu dan membenci
sekaligus mencintai?
Pagi berusaha membongkar segala unek-unek dalam kepalanya melalui
pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sumpek pada kepalanya. Ini adalah sesuatu
yang tidak biasa dilakukan olehnya. Sejak semua dijadikan dan sejak saat itu,
menunggu adalah jawaban yang kadang membosankan. Kita terbiasa menganut kebiasaan seperti
itu. Tak ada yang benar-benar pasti. Semua perlu diragukan.
Pagi dan Sore, mengalami pergolakan panjang dalam hidup yang
singkat. Semua bukan tentang keluhan semata atas segala sandiwara yang sedang
dipertontonkan manusia-manusia tanpa henti. Ini tentang kenyataan-kenyataan
pahit yang tak dapat dihindari. Pagi dan Sore mangalami hal yang sama. Pagi
akan dengan cepat ditinggal pergi. Sedangkan Sore, hanyalah kiasan keindahan
dari mulut-mulut para pujangga yang sedang melukiskan keadaan paling patah hati
dari mereka yang merasa paling disakiti. Kiasan tentang mereka yang sedang
asyik-asyiknya kasmaran. Sore, hanya menjadi pelampiasan atas ketidakwarasan
cinta dan benci. Sore kadang menyimpan luka dan cinta kadarnya secepat malam
datang menjemput.
Siang berusaha mendeskripsikan segala kejanggalan dan kesempurnaan
antara Pagi dan Sore. Segala suka dan duka serta tawa yang kadang tak sempurna.
Namun, Siang kadang lupa akan segala kesedihannya. Manusia-manusia akan lari
dari padanya. Mencari teduh yang paling teduh. Semua mengeluh kepanasan. Dan
tak ada yang bisa bertahan lebih lama di bawahnya. Sesungguhnya, Siang itu
menyedihkan.
Segala kejadian-kejadian yang ada di sekitar, itu adalah rahasia.
Rahasianya seperti tentang kita. Misalnya seperti ini, kita membicarakan cinta
yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita, namun sesungguhnya di
antara kita tersimpan rahasia. Rahasia tentang aku dan dirimu yang terlalu
takut untuk jujur. Kau mengharapkan ada banyak kesempatan yang datang padamu
dan aku mengharapkan waktu segera datang pada kita. Kita sesungguhnya sedang
menakar kitadakpastian di antara kita.
Ini sudah malam, Malam? Siang
bertanya penuh keanehan.
Hey, Siang, apakah tidak melihat Pagi? Atau Pagi sedang ke mana? Malam bertanya penuh kebingungan.
Mungkin Pagi sedang jalan-jalan atau sedang bertamu pada rumah
Sore pada sebuah sore. Mungkin ia sedang mencari kopi demi memulihkan
inspirasinya. Siang menjawab seadanya.
Aku dan dirimu sedang menemukan kebingungan, itu terlintas pada
mata kita. Ada banyak kesedihan yang tak pernah berkesudahan. Dan ada banyak
tawa yang kelihatan hampa dan tawar. Tergambar kepura-puraan dari balik indah
matamu. Dan ada muslihat yang terlukis dari bibirku. Kau berusaha memeriksa
gelasku apakah ada kenangan selain ampas kopi yang baru kita sesap.
Aku tak apa-apa melihat tingkah anehmu yang selalu mencurigaiku. Sebab, tugasku
hanyalah mencintaimu dan aku tak punya hak untuk menuntutmu. Jika kau bertanya
mengapa dan jawabanku adalah karena aku tak pernah mencintai curigamu dan aku
hanya bisa menjaga percayamu. Selebihnya, terserah padamu. Seperti Pagi, Siang,
Sore dan Malam, di antara kita terdapat rahasia yang tak satupun tahu, apa itu?
Rahasia itu, anak manusia
Yang keluar dari rahim seorang yang bernama perempuan
Menanggung sakit pada ujung bahagia
Terdapat tangis dan haru yang tawa
Pada sebuah mimpi yang nyata.
Maumere, 2019
Gian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termasuk dirimu.

Keren parah
ReplyDeleteTerima kasih banyak ame
DeleteAsik
ReplyDeleteTerima kasih banyak
DeleteSukaaaakkkk
ReplyDeleteTerima kasih banyak, Re
DeleteMantap
ReplyDeleteSelamat Ulang Tahun FIAN N.
Sukses selalu ke depan dengan coretan yang bikin baper semua pembaca🙏👍
Terima kasih banyak abang.
Delete