Ilustrasi: Pixabay
Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah.Baca Juga: Rahasia
Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang
yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa
kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti
melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin
saya salah menduga?
***
Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya
selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri
dan menjadi ibu. Seringkali menjadi babu pun bulan-bulanan caci maki dari mulut
busa ayah. Saya dan adik, biasanya, hanya diam saja. Adik sering menangis dalam
pelukan saya. Ibu, pura-pura menjadi perempuan paling sabar. Kadang, ibu lupa
bagaimana cara bersedih.
Setelah semua urusan pagi beres, ayah menuju ke kantor. Ibu menuju
ke dapur. Saya dan adik menuju ke sekolah. Menjalankan rutinitas masing-masing.
Di saat sendiri, ibu biasanya menangis, seperti kebanyakkan perempuan pada
umumnya. Terlihat kuat di depan sesamanya, namun akan rapuh dalam kesepian dan
kesendirian. Apakah perempuan diciptakan untuk menjadi yang paling sedih lagi
rapuh?
***
Malam telah tiba. Anak-anak gadis malang, mulai tampak di
pojok-pojok gelap. Di rumah kontrakan dipenuhi erangan-erangan serta desahan
yang gaduh. Di kampung, ayah dan ibu sibuk memeras peluh. Anak melulu lebur
dalam dunia selangkangan. Manusia semakin aneh atau dunia yang keterlaluan?
Mengapa dunia? Tuhan kan yang menjadikan semesta dan segala isinya?
“Mel, aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu,” Edo merayu.
“Do, semoga itu benar. Dan, bukan omong kosong belaka seperti
kebanyakkan lelaki di luar sana. Aku tidak mau dirimu seperti mereka. Pandai
bersandiwara,” pungkas Amel malu-malu.
“Apakah dirimu ingin tahu seberapa besarnya cintaku, Mel?” Edo
bertanya penuh godaan. Amel hanya diam. Tangan Edo mulai nakal. Amel terus diam
dan semakin diam. Tiba-tiba, lampu dipadamkan. Diganti cahaya remang lilin
sebatang. Sekarang, di hadapan Amel ada Edo yang sedang menjadi Adam dan di
hadapan Edo ada Amel yang sedang menjadi Hawa.
Pada malam yang remang itu, adegan kejatuhan manusia pertama
terulang kembali. Ular ada di antara Edo dan Amel. Mereka sama-sama sedang
menikmati buah terlarang. Tak ada siapa-siapa yang melihat. Tak ada yang
melarang. Mereka sama-sama ingin tahu yang tidak pernah mereka ketahui
sebelumnya. Melakukan adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui.
***
Pagi datang lagi. Toko-toko mulai ramai didatangi. Sampah-sampah
mulai bertebaran di mana-mana. Kebetulan, hari ini adalah hari Sabtu, di kota
ini, meskipun bukan seperti di ibu kota, ayah selalu mengajak kami; ibu, saya
dan adik, untuk pergi berbelanja. Menghabiskan akhir pekan bersama. Tinggalkan
rutinitas kantor yang melelahkan. Pelajaran di sekolah yang membosankan dan
guru yang gagal kreatif. Suasana dapur yang terlalu menyiksa.
Baca Juga: Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh
Ayah kadang kasar sama ibu namun untuk hal seperti ini, ayah
adalah lelaki penyayang. Ini dilakukan agar menutupi kebiasaannya meniduri para
gadis yang haus akan sentuhan serta kasih sayang yang terbatas. Ayah juga akan
bahagia jika ada anak gadis perawan yang datang padanya. Ayah akan melayaninya
dengan cara yang paling sopan. Agar darah itu tak sampai diketahui ibuku
(cerita ini saya dengar dari anak selingkuhan ayah saya).
Ayah rela membayar mahal barang-barang kesukaan saya dan adik.
Saya lebih memilih membeli buku. Sedangkan adik akan membeli mobil-mobilan.
Maklum, jarak lahir kami terlampau jauh, saya di tahuan 90-an dan adik di atas
tahun 2000-an. Kami memiliki kesukaan yang berbeda tapi kami sama dari rahim
seorang perempuan. Buku yang saya pilih adalah trilogi Hujan Bulan Juni dan
Srimenanti serta Surat Kopi pada sebuah took buku. Ayah dan ibu bergilir keluar-masuk
kamar pas (sebuah kamar yang disediakan untuk mencoba pakaian; baju dan
celana). Sebab, dengan begitu, ayah dan ibu sedang merayakan keromantisan
mereka.
***
Amel dan Edo masih lelap dalam tidur. Pintu kamar masih tertutup
rapat. Sedangkan di luar, kaki-kaki pagi mulai menyibukkan diri dengan
rutinitas yang itu-itu saja. Seprei ada darah. Edo bahagia. (Amel yang
pertama untukku tetapi aku? Suadah banyak meniduri perempuan dengan janji yang
penuh muslihat). Amel terlihat murung. Apakah pagi terlalu mendung? Edo
memeluk Amel. Amel membalas pelukkan Edo.
Tak puas dengan adegan ranjang semalam, pagi ini, Edo dan Amel
merekonstruksi adegan semalam. Erangan-erangan dan desahan pun bertalu-talu,
tak lama kemudian, croooootttttt!!! Di dalam. Iya, di dalam. Amel diam. Edo
puas namun masih membenamkan segalanya di dalam Amel. Keduanya tersenyum puas.
“Kita akan terus bersama. Percayalah padaku.” Edo meyakinkan Amel
lalu melepaskan kecupan pada kening Amel.
Suara kecipak air dari kamar mandi dan Amel yang masih tertidur,
sama-sama memecah kebisuan yang menyimpan pertanyaan keraguan.
***
Ayah akan selalu lebih sayang sama adik ketimbang saya. Saya ada
karena hasil percobaan. Hal ini, bukan hanya terjadi di kota-kota besar. Di
kota ini, semua orang bisa melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda.
Menanam sampah dalam tanah. Menabur benih dalam rahim serta romantisme yang
binal.
***
Amel: ibuku
Edo: ayahku
Adik: adikku
Saya: saya
Penyusun naskah: saya
Judul: Ketika Malam di Maumere
Naskah ini disusun serta diperuntukkan bagi pembaca yang budiman.
Jika pembaca menemukannya di majalah, silakan bagikan kepada istri, suami, dan
anak-anak Anda serta orang-orang yang Anda jumpai di jalanan. Dengan harapan,
agar tidak terjadi adegan yang salah dalam percobaan. Selamat mencoba dan
semoga berhasil!
Maumere, 2019

Tulisan yang luar biasa.
ReplyDeleteTerima kasih woso. Siap tulisan baru.
DeleteUwuuu❤️❤️di tunggu tulisan berikutnya ❤️❤️❤️
ReplyDeleteSiap. Terima kasih sudah membacanya. π
DeleteMantap adik.
ReplyDeleteceritanya sangat menarik, cocok untuk dijadikan sebagai edukasi kepada kaum muda saat ini...
ReplyDeletesemangat ya tuan penulis, ditunggu tulisan berikut
Ok siap. Terima kasih
Deleteceritanya sangat menarik, cocok untuk dijadikan sebagai edukasi kepada kaum muda saat ini...
ReplyDeletesemangat ya tuan penulis, ditunggu tulisan berikut
Siap untuk menulis lagi. Terima kasih banyak banyak. π
DeleteMakin matang saja
ReplyDeleteTerima kasih kaka. Saya sedang coba saja
DeleteIndah❤
ReplyDeleteTerima kasih su baca. Siap menulis lagi. π
DeleteMantappp.... Ditunggu karya selanjutnyaππ
ReplyDeleteOk siap. Semoga mau baca karya yang selanjutnya itu. Hahaha ππ
DeleteLuar biasa dan sangat menarik kak❤
ReplyDeleteTerima kasih banyak. Hahaha, ini tulisan sederhana dan biasa biasa sj. ✌π
DeleteMantap ama
ReplyDeleteTerima kasih, guru. ✌
DeleteTulisan berkelas, oenuh makna, bnyak menggelitik hati
ReplyDeleteSmngatt menulis kk.. trbaik suπͺπ
Terima kasih banyak banyak. Siap menulis dan masih harus banyak belajar lagi.
DeleteIde sederhana, saya pikir persoalan seks bebas, sesuatu yang biasa namun alur yang dibangun membuat cerita ini akhirnya hidup dan menjadi luar biasa. Tulisan yang indah.
ReplyDeleteKalau kaka Ati D shu masuk kasih komentar, saya berterima kasih. Siap menulis dan harus lebih banyak belajar lagi. ✊
DeleteSangat mendalam tulisannya.
ReplyDeleteSemngat selalu ade. Amapu benjer π
Epan gawang kaka. Ok siap menulis lagi
DeleteSukses selalu dalam berkarya kaka
ReplyDeleteTerima kasih, bro. Sukses juga
Delete