Foto: Edon Spartan
(Osin Gili & Fian N: dalam sebuah kesempatan untuk berbagi dan berdiskusi buku "Ada Rumah Dalam Tubuhku " yang didukung oleh Komunitas Pondok Baca Mataleza)
Halo, kak. Setiap kali membaca tulisan kaka, saya terinspirasi untuk bisa menulis tetapi saya selalu gagal dalam menulis. Saya kehilangan kata-kata atau kehilangan ide. Bagaimana caranya kak agar bisa menulis?
Saya mau bilang begini, pertanyaan di atas itu sudah menunjukkan bahwa ade bisa menulis. Sudah berani bertanya dari kekurangan (yang mungkin diadakan begitu). Terima kasih sudah bertanya dan mau memilih (menjadi) menulis sebagai teman diskusi. Sebab, saya sering katakan, bahwa menulis adalah cara saya berdiskusi. Dan tulisan berikut ini adalah sebuah jawaban paling buruk atas pertanyaan di atas. Sebab, saya selalu gagal dalam hal apa saja.
Ya, menulis itu mudah tapi sulit untuk kita yang belum terbiasa. Setelah terbiasa pun makin dan bahkan lebih sulit dari yang dibayangkan sebelumnya.
Menulis sebenarnya bukan perkara bisa atau tidak. Ini lebih ke saya siap atau tidak. Siap menulis dan apa pun itu.
Hal lainnya adalah, terlalu sulit memikirkan hal-hal sulit. Banyak hal mudah yang bisa ditulis. Tetapi, kita yang sama-sama pemula biasanya menciptakan kerumitan dan kesulitan itu sendiri.
Ada banyak hal sederhana yang bisa kita temukan di sekitar. Tangkap itu dalam ingatan dan gerakan melalui pena atau keyboard dengan Imajinasimu. Poles itu dan beranikan diri untuk menjadi pembaca pertama atas tulisanmu sendiri. Lalu katakan, 'kenapa tulisan saya jadinya begini?'
Pertanyaan itu akan menuntunmu ke sebuah pengalaman, ke sebuah tulisan baru. Tanpa disadari, kita yang awalnya terlalu memikirkan hal-hal rumit, akhirnya pindah haluan dan merekam segala kejadian-kejadian remeh yang sudah seharusnya kita bagikan dan syukur kalau medianya itu menulis.
Ya, jujur, saya sendiri sering katakan kepada diri saya sendiri, 'aku adalah pemula yang abadi.' Saya masih tetap seperti saya. Yang selalu kurang dan tak pernah puas. Sebab, menulis bukan saja perkara bisa dan terbiasa lalu tinggalkan begitu saja. Bukan juga hanya sekadar memenuhi selera pembaca, tetapi ini soal rasa. Rasa yang harus dihidupkan ke dalam tulisan. Ini kerja rasa, rasanya bakal rumit kalau tidak menjadi kebiasaan. Selain itu, membaca adalah salah satu cara mempermudah kita dalam menulis.
Ya, selain itu, setelah menulis, kadang kita susah untuk melanjutkan tulisan itu. Seperti kehabisan ide untuk merangkainya lebih lanjut.
Berhenti saja di situ, jangan paksakan untuk lanjut. Tinggalkan tulisan itu, dan ciptakan sebuah kesibukan. Berapa pun lamanya, itu tergantung dari diri masing-masing. Setelah itu, kembali ke tulisan itu. Baca dan saya yakin ada sesuatu yang bisa kita berikan untuk tulisan yang sudah ada.
Pengalaman-pengalaman masa kecil dan pengalaman apa saja, sering saya bawa ke dalam tulisan. Sebab, saya sadar, kelak akan ada banyak yang menemukan siapa saya di dalam tulisan saya. Dan ada kebanyakan dari kita yang mempunyai kemiripan pengalaman. Setelah membaca salah satu tulisan seseorang, kita selalu katakan, 'wah ini kena sekali dengan saya. Seperti yang saya alami. Rasanya mau menangis. Ini saya sekali.'
Nah, sekali lagi itu bonus. Kita menulis untuk kebaikan meskipun setiap orang punya standar kebaikannya masing-masing.
Dan, ....
Lebih lanjut, saya bukan penulis hanya kebetulan saya suka menulis. Dan Terima kasih sudah bertanya, tetapi jujur, Anda bertanya di orang yang salah. Tetapi Terima kasih sudah membaca tulisan saya dan merasa terinspirasi. Itu bonus untuk saya. Dan saya mencintai Anda semua yang sudah membaca tulisan-tulisan saya.
Catatan Alfianus, Gurusina 2020
Tukang masak di Pondok Baca Mataleza

Menulis itu gampang
ReplyDeleteyang rumit itu mentransfer ide untuk dirangkum menjadi apa yang ingin ditulis.
Seringkali apa yang saya pikirkan tak tercurahkan semua.
Itu karena kurang baca.
Sudah sadar?
DeleteBuku ada banyak. Realisasi begitu kompleks dan saya masih begini begini saja dengan tulisan saya? Kasihan ee saya ini.
Ada emak-emak yang bangun pagi-pagi. .
ReplyDeleteSebab dia harus membangunkan matahari dan menanak awan-awan 😂😂😂
Awan dari kayu bakar dan rokok bapak yang lupa di padamkan dekat kasur di kamar. Haha
DeleteThe best poem...🙏
ReplyDeleteHahaha Terima kasih juga.
DeleteIni bukan puisi. 🙏
Bagus sekali ide cemerlang ini kae. Semoga semakin banyak orang untuk mulai menulis. Sebab, menulis melatih kita untuk merawat diri...
ReplyDeleteWah Terima kasih sudah mampir. Semoga coretan sederhana itu menginspirasi
Delete