Skip to main content

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

 


Sumber: idntimes


Oke, please open the door and welcome to my house.

Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan.

Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa?

Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong, lebih baik diam dan kelihatan bodoh daripada banyak bicara dan bodohnya lebih kelihatan.

Baca Juga: Tentang Jodoh, Mari Belajar dari Denny Sumargo

Cak Lontong benar, itu yang sering terjadi saat ini. Saya salah satu di antara sekian banyak orang yang sok pintar. Sering saya banyak bicara, tetapi sebenarnya kosong, bodohnya saya itu kelihatan sekali, iya sekali saja, bukan berkali-kali, hahahah.

Waduh, lupa yang sebenarnya kita bicarakan itu adalah langkah-langkah menjadi bodoh bukan kelihatan bodoh. Tapi, saya sendiri tidak tahu cara menuju kebodohan, soalnya seperti yang sudah singgung di atas, bahwa hampir semua kita itu sok pintar. Jadi bingung saya.

Ya, coba saja. Siapa tahu tiga langkah ini bisa diterima oleh kalangan. Moga-moga saja. Kalau pun tidak diterima, ya syukur, dan menjadi jelas bahwa ada banyak yang sudah pintar dan tidak mau menjadi bodoh. Tetapi, untuk saya sendiri, ya benar saya memang masih bodoh sampai saat ini. Iya, sampai saat ini dan itu tampak dalam tulisan ini.

Ok, saya coba tawarkan beberapa langkah menjadi bodoh menurut Catatanalfianus antara lain sebagai berikut.

  • 1.      Mengurung diri

Siapa yang pernah mencoba mengurung diri dari segala kesibukan yang ada di luar? Siapa yang pernah memilih untuk tidak mengupdate segala inga-bingar di jagat maya dan dunia nyata? Nah, semakin kita mengurung diri dari segala realitas yang ada di sekitar, menjadi apatis, tidak sibuk, dan tidak pernah tahu perkembangan di luar sana, kita sebenarnya seperti katak dalam tempurung. Tidak tahu apa-apa dan memang akan kelihatan sangat bodoh. Kalau tidak percaya, silakan coba. Benar, sebaiknya dicoba. Rugi kalau tidak sampai mencobanya.

  • 2.      Berhenti berdiskusi

Apa pun bentuk dari diskusi itu, menarik atau tidak, coba Anda jangan terlibat di dalamnya. Tinggalkan forum-forum diskusi. Semakin Anda mencoba untuk tidak terlibat, maka akan ada banyak suara yang datang, dia tidak akan terlibat, soalnya bodoh. Percuma kalau gabung jika hanya diam. Ha, silakan. Hayo, siapa yang mau coba? Memang, yang ini kelihatan tidak masuk akal. Bukankah semua yang ada di muka bumi ini tidak pernah masuk akal?

Ingat, menjadi pintar itu mudah, tetapi kelihatan bodoh itu tidak mudah. Butuh asupan gizi yang banyak. Wauhahahah.

  • 3.      Bodoh saja

Sudah, bodoh saja. Ya, bodoh. Satu-satunya langkah menjadi bodoh, ya bodoh.

Baca Juga: Menjadi Tenaga Pendidik: Jangan Cari Aman (Membaca Geliat Pendidikan Kita Hari Ini)

Ya, itu saja tiga langkah menjadi bodoh. Jika masih ada, teman-teman silakan kirimkan ke saya dan akan saya masukan ke dalam rumah ini. Siapa tahu kita bisa saling kolaborasi hal-hal konyol. Dan, memang saya sudah konyol dari sononya. Pasalnya, saya pernah menjadi orang baik dan juga pernah menjadi bangsat pada waktu yang bersamaan. Baiknya saya tidak dihargai dan bangsatnya saya pun dikejar-kejar. Ya, memang wajar, dikejar, kan bangsat.

Nah, sampai di sini, bisa tebak, siapa yang bodoh? Saya, kan? Banyak bicara, kosong isinya.

Ok, terima kasih yang sudah bertahan sampai di akhir tulisan ini. Saya mendokan, semoga kita menjadi orang bodoh yang elegan, lentur, dan disegani.

Salam sayang dan Tuhan, tolong jaga saya pu jantong hati di mana pun mereka berada.

Gurusina, 2020.

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termasuk dirimu. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...