Sumber Gambar: inovasi.or.id
Saya pernah menjadi peserta didik dan pernah berharap bisa menjadi pendidik, itu mimpi. Melihat perkembangan dan kemajuan yang begitu menggiurkan, saya ingin mewujudkan harapan saya saban hari, menjadi pendidik – menjadikan manusia. Sebab, kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh orang-orang yang pernah ada di dalam sebuah lembaga pendidikan, entah itu PAUD, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Saya bisa mengatakan bahwa meskipun tidak semua orang mendapatkan akses pendidikan yang layak, tetapi pengalaman dalam keseharian juga bagian dari pendidikan non-formal yang mampu menjadikan manusia menjadi lebih manusia dan, itu tidak terlepas dari peran seorang pendidik.Namun, apakah kita
boleh sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Neil Postman melalui bukunya
yang berjudul Matinya Pendidikan yang
bunyinya, apa bedanya sekolah dan
penjara, jika ruang-ruang kelas bagi siswa lebih mirip kerangkeng-kerangkeng?
Bukan tanpa dasar
apalagi sadar, Neil Postman tahu betul apa yang sedang terjadi dengan dunia
pendidikan kita akhir-akhir ini semenjak dilanda pandemi Covid-19. Semua metode pembelajaran diubah sesuai kebutuhan dan
perkembangan serta kemajuan teknologi, namun tidak merata. Ada keterbelakangan
dalam sistem zonasi, kewalahan dalam akses, dan akhirnya berujung pada kemalasan
dan masa bodoh, ini benar-benar terjadi, kita tak dapat menafikan hal ini hanya
untuk mencari pembenaran diri.
Benar, dunia
pendidikan kita mengalami kemajuan dan kemunduran. Sekolah-sekolah bukan lagi
menjadi lembaga atau mitra untuk mampu memanusiakan manusia. Sekolah bahkan
tidak lagi menjadi ruang edukatif yang membangun dan membentuk nalar peserta didiknya
agar bisa berpikir kritis, solutif, terbuka, dan tentunya memberikan peluang-peluang
diskursus yang lebih relevan dengan perkembangan situasi yang terjadi di
sekitar. Di luar itu, lembaga pendidikan boleh dikatakan gagal dalam
mentransfer pengetahuan yang imbasnya pada pembentukan karakter peserta didiknya.
Hal ini menjadi sebuah
tantangan bagi generasi selanjutnya. Saya sebagai manusia yang pernah mengenyam
pendidikan secara formal, tentu mengharapkan sebuah perubahan yang lebih mapan
dalam dunia pendidikan baik itu dalam segi memperoleh nilai dan lebih utama
adalah mampu membentuk mental serta karakter peserta didik yang lebih baik dalam
mengalami pergolakan dunia nyata atau dunia kerja. Sebab, generasi kita telah
dimanjakan oleh kemajuan dan perkembangan teknologi. Generasi kita lebih
memilih sekolah di Google, di sana
sudah tersedia jawaban dari segala bentuk pertanyaan yang suntuk di kepala.
Namun, titik
risalah ini sejatinya ialah soal peran seorang pemimpin dan peran generasi muda dalam merespon segala bentuk perubahan yang terjadi di dalam lembaga
pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan
saat ini mengajarkan kita, bahkan sejak dini, untuk hidup sebagai robot. Kita
tidak diajarkan untuk berpikir kritis yang sesuai dengan usia kita, ujar
Pussy Riot dalam bukunya yang berjudul Pussy
Riot: Punk Melawan! Pernyataan dari Pussy Riot, tentu sangat menggugah
serentak menggugat metode pembelajaran di lembaga pendidikan secara formal. Di
sini, sebagai orang muda yang sedang mengimpikan sebuah perubahan ke arah
yang lebih baik dalam dunia pendidikan, tentu ada banyak aspek yang harus
dibenahi misalnya, metode pendidikan, tujuan pendidikan, dan apa hasil dari
perjalanan panjang dari proses pendidikan itu.
Metode pendidikan
kita terlalu monoton meskipun ada kurikulum yang berlaku di dalamnya. Tenaga
pendidik yang miskin kreatifitas ditambah metode pembelajaran yang membosankan,
peserta didik bakal hengkang dari ruang kelas untuk mencari hiburan di luarnya.
Metode belajar bersama alam menjadi sebuah metode alternatif yang bisa menghadirkan
gagasan segar yang lahir dari peserta didik. Menyediakan lingkungan sekolah yang
asri melalui kegiatan penghijauan sekolah sebagai bentuk cinta lingkungan.
Metode yang tidak
monoton bukanlah bakal untuk melahirkan sebuah kebosanan. Oleh karena itu,
perlunya literasi ekologi di setiap lembaga pendidikan. Hal ini butuh
kolaborasi aktif antara pendidik dan peserta didik dalam menyikapi segala bentuk
perubahan yang terjadi di dalam lembaga pendidikan. Sebab, metode pendidikan
ekologi bisa menjadi sebuah metode yang kekinian dalam mentransfer pengetahuan
kepada peserta didiknya. Di sana, karakter peserta didik juga akan dibentuk,
berani bertanggung jawab, disiplin, penuh perhatian, dan tentunya cinta akan
dunia sekitarnya terus tumbuh.
Selain itu, apa tujuan dari pendidikan? Apakah hanya menciptakan robot-robot untuk menunggu kapan rusak atau kapan tidak digunakan? Selaku generasi muda yang bercita-cita mampu memberikan perubahan, saya berasumsi bahwa, tujuan pendidikan adalah mampu melahirkan generasi muda yang kompeten, inovatif, kritis, terbuka dan berani ambil risiko dalam segala hal. Jika lembaga pendidikan mampu melahirkan generasi muda yang demikian, maka perubahan ke arah yang lebih baik tidak perlu diragukan lagi. Hal itu senada dengan ungkapan klasik dari seorang Tan Malaka, tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, meperkukuh kemauan serta meperhalus perasaan. Di sini, peran generasi mudah sangat dibutuhkan. Generasi muda yang mampu beradaptasi atau berteman dengan segala perubahan untuk sebuah kemajuan yang membangun peradaban manusia ke arah yang lebih baik, tentu semesta akan merestui segala hal baik itu.
Pada akhirnya,
keberanian menghadapi setiap perubahan dalam segala risiko merupakan sebuah
proses yang tidak bisa dihindari selama masih ada kehidupan. Dan, saya meyakini
bahwa sebagai generasi muda penerus bangsa, tidak boleh melihat tantangan
sebagai sebuah hambatan. Sebab, dunia pendidikan kita hari ini membutuhkan
jiwa-jiwa muda yang memiliki keberanian, keterbukaan dan keinginan yang kuat
dalam melebarkan sayap kemandirian. Oleh karena itu, menjadi tenaga pendidik
adalah menjadi agen perubahan untuk arah pendidikan kita menjadi lebih baik.
Mampu menjadi juru kemudi untuk mengembangkan layar pendidikan ke pelabuhan yang terarah dalam
memanusiakan-manusia. Dan, jangan cari aman tetapi berikan kreatifitas agar
peserta didik nyaman dalam berkerjasama.
Gurusina, 2020


Dan realita yang terjadi adalah, anak2 dituntut untuk memiliki hp dan ketika sdh memiliki hp, jam belajar daring hanya beberapa jam sja selebihnya diisi dengan bermain game online.
ReplyDeleteBanyak sekali efek negatif dari game online.
1. Menuntut ortu isi pulsa yg tidak wajar
2. Main game sampai lupa waktu makan, mandi, membantu ortu, mengerjakan tugas sekolah, dll
Masih banyak lagi efek lainnya.
Saya kembali berpikir, dulu kami tidak seperti mereka2 ini. Sedih sekali.
Jika tidak diimbangi, maka sifat ketergantungan pada 'hal instant' pun akan meningkat. Ini butuh edukasi lebih dini. Dan ini tugas semua kita. Terima kasih, kak sudah mampir.
DeleteSemangat selalu mendidik anak negeri pemilik masa depan. Selamat Hari Guru.
ReplyDeleteTerima kasih banyak sudah mampir. Kita semua adalah guru untuk semua
DeleteYg terpenting adalah pendidikan karakter. Banyak guru yg tidak mampu menjalankan dwifungsinya sebagai pengajar dan pendidik
ReplyDelete