Skip to main content

Untuk Yang Dikenang


Ilustrasi: Pixabay

Akankah rupamu pergi menjemput malam bersama mentari yang hendak tenggelam? Atau mungkinkah nyatamu datang mereguk secangkir kopi hitam ini bersamaku sembari mengantar senja pada peraduannya?


Senja ini, aku kembali duduk di sini, di tempat yang kemarin engkau datangi dengan dirinya. Siapa dirinya, aku tak tahu. Tapi engkau berhasil menorehkan luka di dalam hatiku dengan semua janji yang pernah engkau berikan untukku. Engkau merobek bungkusan hatiku yang kusiapkan untukmu setelah pertemuan itu. Benar, aku jatuh cinta padamu setelah pertemuan awal di senja itu. Tapi kadang takdir memiliki jalan lain untuk kita. Engkau melukai jiwaku dengan senyum manis yang engkau berikan untuknya, dengan canda dan tawa yang kini tidak aku miliki lagi.

Di sini, segala kenangan hari kemarin bersamamu telah kusatukan dalam kebisuan malam. Mengapa harus malam? Sebab bagiku waktu untuk mencumbuimu adalah saat mentari telah lelap pada peraduannya. Aku hanya ingin membisikkan rinduku pada bulan dan angin malam. Mereka bagiku adalah teman yang setia mendengar tanpa berkata. Mereka selalu membawamu dalam mimpi tidur malamku. Di sana, segala inginku mengendap pada bayangmu dan segala hasratku menepi pada parasmu sebelum aku terjaga dari lelapku.

Senja yang menghembuskan udara dingin menjadi saksi bisu saat kepergianmu. Langit yang menguning menangis di antara kemuningannya ketika engkau menjajakkan kakimu meninggalkanku sendiri. Sedang aku, tak bisa kutahan inginmu untuk pergi dariku sebab mungkin saja engkau selalu menangis dalam diammu saat engkau bersamaku tapi engkau enggan untuk mengatakannya.

Segala mimpiku hilang dan hasrat untuk selalu berada di sisimu pun sirnah. Kopi hitam yang biasa kuseduhkan bersamamu saat mentari meninggalkan kemuningan di langit biru menjadi hambar seperti bayangmu yang makin memudar. Guratan ampas kopi sisa yang mengukir jalan hidup yang sering engkau ramal tentang hari esok kita kini tidak berarti lagi. Guratan itu sepertinya mengerti bahwa engkau tak lagi ada di sisiku.

Asyik Juga Baca Ini: Waktu Indonesia Berceloteh

Semenjak senja itu, tak lagi kuisi cangkir ini dengan kopi yang dulu biasa engkau seduhkan pada bibir manismu. “Jangan lagi engkau menjadikanku sebagai sajak-sajakmu yang engkau rangkai menjadi puisi!”, katamu setelah melemparkan cangkir ini pada tempat yang dulu biasa kita duduk sembari menghantarkan senja pada peraduannya. Isinya tumpah namun cangkirku tak retak. Itulah kata terakhirmu sebelum tapakmu pergi meninggalkanku.

Aku berusaha menahanmu. “Eliosa, tidakkah engkau tahu bahwa segala cinta yang aku miliki telah kutunjukkan kepadamu? Apakah semuanya itu tidak cukup bagimu?” aku bertanya. Engkau terdiam dan hanya diam. Engkau menatap senja dengan diam seakan engkau juga pamit pada senja di tempat ini. Benar, engkau adalah sesuatu yang tidak mampu di sentuh dengan segalaku. Engkau mungkin adalah sesuatu yang mampu di sentuh oleh segalanya atau sesuatu yang disentuh oleh sebagiannya.

Setelah mengendus amarahmu, engkau pergi tanpa sepata kata lagi bahkan utuk menoleh pun, tidak! Engkau pergi tanpa pamit, tanpa kata selamat tinggal untukku dan juga tanpa mendengarkan desahanku yang menjerit kecil memanggil namamu. Kutatap langkahmu yang pasti pergi menjajak tapak yang makin menjauh kemudian menghilang.

Semalam, mungkin untuk yang kesekian kalinya, sepenggal doa kupanjatkan dalam hening, moga yang engkau titipkan dulu padaku saat langit meremang sedang mentari berada pada pucuk lautan. Moga yang pernah kau pintakan saat kita bersama di bawa bulan purnama. Katamu, memanjatkan doa pada bulan purnama adalah sebuah keharusan sebab pinta itu akan jadi nyata. Aku menyetujui ujaranmu sebab tak ada hal lain yang aku bias percayai selain hal yang keluar dari bibir manismu.

Di sini, di bawa bulan yang bergantung pada kaki langit, dalam genang sepi yang terlalu, aku biarkan diriku dipeluk mimpi, kubiarkan hatiku merintih dalam sepi, barangkali di dalam doa dan moga akan terukir kita hingga mengekal. Pada angin yang berhembus dingin kutelan pedih tanpa sedikit rintih walaupun semuanya terasa nyeri. Dalam doa yang suci bersama sepi, aku mencoba kuburkan rinduku untukmu yang tak pernah sedikitpun engkau tahu.

Bersama rindu yang letih, ingin kembali kumekarkan mawar-mawar putih yang dulu sempat kutanamkan pada ceruk bibirmu yang suci lagi sunyi, tetapi masikah di sana kutemukan jejak rinduku yang dulu? Masikah mungkin di sana kutemukan sunyi yang duldulu pernah ada? Saat malam tiba sering aku bertanya kepada bulan ke manakah engkau pergi? Bila fajar menyingsing, aku selalu bertanya kepada mentari dimana engkau berada? Dan pada bintang, aku tidak bertanya tentang dirimu. Aku hanya menitipkan rinduku untukmu padanya, pada gemerlap cahayanya.

Seandainya saja engkau menyadari cinta itu bukan saja tentang apa yang diinderai mata namun lebih dari itu, cinta itu adalah tentang doa-doa sederhana dan canda-canda kecil yang memampukanmu untuk tersenyum, maka engkau akan mengerti dan melihat putih hatiku untuk mencintaimu. Engkau akan tahu seperti apa aku melalui waktu dengan memikul rinduku bakul-bakul rinduku.

Seandainya saja sekali lagi engkau bertanya kepadaku tentang definisi cinta, maka aku tak hanya memberi definisiku kepadamu tetapi juga menjelaskan definisi itu sendiri agar engkau setidaknya tahu bahwa cinta itu sendiri timbul dari suka dan rindu yang terlalu. Cinta adalah perpaduan antara suka dan ingin yang mendatangkan rindu dan rindu itupun memunculkan hasratku untuk bertemu. Aku selalu ingin bertemu denganmu dan jika aku berkuasa atas waktu yang berputar, maka aku akan membuatnya berhenti sejenak saat aku berada di sampingmu. Mungkin cukup untuk menatap senyummu.

Cinta bagiku adalah dosa dan selebihnya rindu adalah candu yang membawaku menjajak ruang hatimu, ruang rindumu, hingga pada lekuk tubuhmu. Cinta adalah doa sekaligus dosa yang mungkin akan selalu menyatu dalam setiap hembusan nafasku. Tapi jika mencintaimu adalah dosa maka biarkan aku menjadi pendosa yang berdosa karena mencintaimu berulang kali. Iya, cinta itu bukan hanya sesaat, cinta itu harus berulang-ulang hingga waktu tidak ada lagi untuk mencintai.

Apakah aku perlu menepi dalam doa suci agar engkau dapat kembali mengusir sepiku? Apakah aku harus merintih dengan ngeri agar engkau dapat kembali menyusup masuk ke dalam ruang hatiku yang sunyi? Tapi jika aku harus menepi dalam doa suci, bagaimana bisa aku melihat lekuk tubuhmu yang ngeri? Jika aku harus mencintaimu dalam telutku, dalam setiap heningku, apakah cukup bagiku memandang bayangmu dalam hayalku?

Waktu tidaklah terlalu cukup untuk merindukanmu dan bumi tidaklah terlalu luas untuk menampung rinduku. Tidakkah engkau tahu bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan bagi seorang yang mencintai? Dalam segalaku, aku merindukan dirimu dan hanya dirimu. Tidak ada yang lain yang sepertimu lagi, yang pernah menorehkan kisah-kisah indah yang pernah aku lalui.

Ketika hati terluka karena rindu yang tak tersampaikan, bagaimana rasanya? Mungkin aku adalah makhluk malang yang harus memikul bayangmu dalam sela-sela telutku, yang harus tersenyum di antara luka yang menganga. Mungkin juga aku adalah makhluk malang yang nyaman dengan bayang yang ada walaupun memberi luka yang dalam.

Ah,, kamu. Andai saja mencintaimu adalah luka, maka izinkanlah aku untuk terluka berkali-kali karena bagaimanapun luka itu adalah luka terindah yang pernah aku rasakan hingga saatnya nanti aku terdiam dan engkau terluka karena luka yang engkau sendiri tanam.

Stefan B, sedang menempuh pendidikan di STFK Ledalero.

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...