Skip to main content

Panjang Umur Kegelisahan

Ilustrasi: Pixabay

Om Meus memesan kepada istrinya, jangan pergi sebelum aku kembali. Aku tidak lama di sana. Rawat anak kita. Ajarkan ia cara mencinta yang benar dan yang salah. Biarkan ia tumbuh dengan segala caci maki. Biarkan ia mewarnai hidupnya dengan warna apa saja. Jangan hanya ajarkan ia mencintai merah dan putih. Sesekali bawalah ia untuk mencintai yang hitam. Setelah berpesan demikian, Om Meus mengecup kening istrinya. Memeluk yang terakhir kali.

Anaknya masih tidur. Jam di dinding baru menunjukkan jam 00:01 dini hari. Jam di mana semua orang masih lelap dalam tidur. Jam di mana telinga-telinga anjing sangat peka untuk mendengar langkah kaki. Jam di mana penciuman anjing sangat tajam. Mia tak mampu beranjak dari duduknya. Membiarkan gelap menelan suaminya. Mia tak ingin suaminya tahu bahwa ia sedang bersedih.

Baca Juga: Untuk Yang Telah Pergi

Keadaan memaksa Om Meus untuk memilih jalan hidup seperti ini. Memilih pergi meninggalkan kampung serta keluarga. Kehidupan ekonomi yang kian melonjak sepertinya kegirangan. Om Meus tak bisa melakukan apa-apa. Akhir-akhir ini, hujan tak menentu. Sawah, tak punya. Bermodalkan bagi hasil. Itu pun tak cukup hingga musim menanam datang lagi.

Hidup memang keras. Tetapi apakah hidup itu kejam? Mia mencoba untuk bersabar. Melapangkan segala kemungkinan yang akan terjadi setelah kepergian suaminya. Mia tak pernah mendapatkan cerita tentang tempat yang akan dituju suaminya. Yang Mia tahu bahwa suaminya akan pergi. Apakah dalam waktu yang singkat atau dalam waktu yang lama?

Apakah semua akan berubah dengan cara demikian? 

Aku tak yakin semua akan menjadi lebih baik jika Meus memilih demikian. Dia pergi meninggalkanku dengan anak. Mengapa aku tak melarangnya? Mengapa aku membiarkannya pergi? Ini benar-benar kacau. Aku harus banyak bersabar dan mampu menahan diri ketika berhadapan dengan gunjingan serta cerita-cerita orang kampung.

Sebab ada banyak cerita tentang orang-orang di kampung ini yang memilih merantau. Meninggalkan anak dan istri. Di sana hidup bersama dengan perempuan lain. Lelaki adalah makhluk yang paling kesepian. Tak bisa hidup dalam kesendirian.

Satu dua bulan setelah kepergian Om Meus, roda kehidupan dalam keluarga yang ditinggalnya masih berjalan lancar dan normal-normal saja. Komunikasi lancar. Pendapatan bulan pertama dikirim untuk istri dan anaknya. Semua terasa seperti sangat dekat. Segala kebutuhan ekonomi terpenuhi. Tak ada yang kurang. Sehari masih makan tiga kali. Tak pernah makan nasi kosong.

Baca Juga: Aku Ingin Pulang dan Dua Puisi Lainnya

Bagaiman kabar Meus di sana? tanya Ratna tetangga Mia. Puji Tuhan, dua hari yang lalu baru kasih kabar kalau di sana baik-baik saja. Jawab Mia singkat. Mama, tadi di sekolah ibu guru pesan harus beli buku tema 5. Tiba-tiba Nia datang mendekati ibunya seraya memeluk ibunya. Buku tema 5 itu yang bagaiman lagi? Kenapa harus ada buku tema lagi? Terus yang tema 1 sampai 4 itu sudah ada? Ibunya bertanya balik tanda tidak mengerti. Itu hari saya pinjam teman punya. Belajar sama-sama dengan teman, jawab Nia sendu.

Pendidikan sekarang makin aneh saja. Kami dulu tidak begini. Cetus ibu Nia sambil membandingkan pendidikan tempo doeloe dan sekarang. Oke, nanti besok pagi jangan lupa ingatkan mama. Sambil mengecup kening ibunya, Nia lanjut bermain. Ratna hanya diam memerhatikan tingkah ibu dan anak yang sedang asyik bercakap. Ratna tak ingin mengganggu kemesraan mereka. Ratna diam saja tanpa menambahkan sepata kata pun.

Anakmu pintar, Mia. Kata Ratna memuji. Ya, saya juga tidak tahu dia ikut siapa. Tetapi sejak kecil dia sudah terbiasa untuk banyak bertanya. Saya dan Meus tidak pernah marah kalau dia bertanya, salah maupun benar. Kami membiasakan dirinya untuk berbicara sejak kecil. Semakin banyak kesempatan yang diberikan kepada anak, maka anak-anak akan tumbuh menjadi lebih cerdas dan sudah terbiasa dalam hal apa pun jika dididik dengan cara yang tepat. Jawab Mia seperti sedang menggurui Ratna. Ratna mengangguk tanda setuju dan mengerti.

Sebentar lagi malam tiba. Di jalanan,tiba-tiba sunyi. Di samping rumah, di atas kuburan, lilin-lilin dinyalakan. Doa kepada yang Esa melalui perantara para leluhur. Pinta perlindungan bagi yang sedang ada dalam perjalanan dan yang ada di tanah perantauan. Mia masuk dalam rumah, menyalakan api di dapur. Nia, belajar persiapan untuk pelajaran di sekolah. Maklum di rumah belum ada TV meskipun sudah ada listrik.

 Malam yang sunyi. Berdua sendiri. Memanggul sepi di atas atap malam yang rembulan. Menunggu tepat jam makan, ibu Mia merapikan pakian yang dicuci siang tadi. Nia sibuk dengan perkalian satu sampai sepuluh. Ma, ayo dengar Nia belajar perkalian. Besok ada tes di kelas, panggil Nia dengan penuh cengeng. Ia, ia, silakan buat. Mama dengar dari sini, jawab Ibu Mia. Tidak. Ma harus duduk dekat Nia, Nia semakin cengeng. Teringat akan jawabannya terhadap ibu Ratna, ibu Mia pergi mendekati Nia dan mendengarkan Nia belajar perkalian.

 Jam belajar usai. Jam makan tiba. Selalu, Nia yang akan membawakan doa makan. Ya, Tuhan Maha Pemberi, terima kasih untuk rejeki hari ini. Untuk makanan yang sudah dimasak ibu. Semoga bapak yang jauh di sana juga mendapatkan dan menikmati makanan seperti yang kami makan pada malam ini. Amin.

Malam telah usai, hari baru dimulai. Pagi terasa lamban beranjak pergi sedangkan siang menanti penuh arti. Segala rutinitas diawali dengan doa-doa pengharapan. Kebaikan dan kesehatan adalah yang utama. Untuk sang suami dan segala ketakutan yang tumbuh dalam dada kerinduan.


Kabar dan kabar tak lagi datang seperti angin pada kulit yang menjadikannya dingin. Pelahan hilang lalu tiada di antara pohon-pohon penantian. Om Meus tak lagi berkabar seperti biasa. Terakhir berkabar sebulan yang lalu.

Hape layar kuning kedap-kedip tanda panggilan masuk. Nomor baru rupanya. Dengan penuh harap-cemas, ibu Mia segera menerima panggilan itu.

Halo, selamat sore, apa benar ini dengan ibu Mia istri dari Om Meus? Tanya suara dari seberang.

Halo juga, iya benar ini dengan saya istrinya. Ada apa? jawab ibu Mia seraya bertanya penuh tanda Tanya.

Maaf sebelumnya, bu. Ini kabar yang kami temukan tentang suami ibu. Sekali lagi maaf, bu. Kami hanya bisa menyampaikan bahwa suami ibu meninggal dunia. Suara dari seberang dengan nada yang berat.

Tak ada suara dari dua manusia yang tak saling kenal. Gelisah menjadi yang sangat gaib di antara angin yang hilir mudik. Sejenak diam tetapi seakan dunia berhenti tanpa ada aktivitas apa-apa dan seolah semua sedang baik-baik saja.

Kalau boleh tahu, apa penyebabnya? Tanya ibu Mia dengan suara yang semakin berat. Derai air mata bercucuran.

Kami temukan dirinya tak bernyawa di hutan kelapa sawit. Kemungkinan suami ibu dimutilasi, ada bekas luka pada bagian perut. Dan dari pihak medis membuktikan itu.

Tut tut tut tut telepon terputus. Segala harapan pupus. Gelisah semakin panjang usianya. Ibu Mia tak berdaya. Nia masih terlalu kecil untuk menerima kehilangan cinta pertamanya. Dunia semakin gelap dengan segala hiruk-pikuknya. Manusia-manusia digoda kemewahan. Tubuh menjadi kebutuhan pemenuhan segala kekurangan. Semua dihargai dengan harga yang ganjal.

Baca Juga: Desember

Ibu Mia dan Nia kini bertemankan gelisah. Om Meus tinggal kenangan pada nisan yang membatu. Nama dikenang dengan kerelaan yang sebagian. Kehilangan dan kepergiaan untuk selamanya yang menyakitkan. Cara berpisah yang menyimpan duka dan lara pada sebagian kerinduan yang tak tuntas. Seperti dendam, semua tak impas jika tak ada balasannya. Tetapi kepada siapa?

Pogopeo, 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...