Skip to main content

Aku Ingin Pulang dan Dua Puisi Lainnya

Ilustrasi: Pixabay


Tuhan...
Ke mana aku harus pulang sedang kampungku sendiri telah menjadi rumah yang asing bagiku?
Ke mana aku pulang sedang pintu rumahku sendiri malu untuk terbuka?
Ke mana aku pulang sedang aku telah distigma punya penyakit sebelum kakiku menginjak tanah kampungku sendiri?

Ke mana aku harus memeriksa sedang rumah sembuh menolakku?
Ke mana aku harus berkarantina sedang setiap tempat menolak kehadiranku? Aku tak sakit tetapi situasi ini membuatku sakit.

Tuhan...
Sesungguhnya aku tak mau pulang, tapi aku tak mau mati di tanah orang. Kalau aku mati, aku mau mati di tanah yang telah menghidupkanku meski tanpa disaksikan keluargaku, tanpa tangis ibu, tanpa dekap ayah, karena aku sadar aku telah menjadi orang asing sejak aku pulang.

Tuhan...
Aku tak mau pulang tetapi di sini apa yang akan kumakan sedang uang dari orang tua menipis lantaran baliho-baliho "lockdown" telah dipasang di kampungku? Di kampung aku bisa makan ubi, pisang, dan nasi tanpa bayar.

Aku tak mau pulang tetapi lebih baik aku mati di kampung karena penyakit meski sebagai orang terasing daripada mati di sini karena kelaparan dan semakin terasing.

Tuhan...
Kemana aku harus pulang sedang semua pintu telah tertutup?
Di pintu-Mu aku mengetuk, semoga Engkau membukanya.

2020

Perempuan Itu Aku

Hari masih pagi. Aku diseret kasar di jalanan kota. Tangan-tangan yang menyeretku, kukenal. Tangan kasar ini pernah membelai dengan lembut tubuhku.

"Mengapa wajah-wajah penuh hasrat waktu malam menjadi penuh amarah di waktu siang?"

"Semoga perempuan ini cepat mati. Semoga dia cepat dibungkam agar namaku tetap baik di telinga istri-anakku."

"Mengapa aku sendiri yang diseret ke sini? Apakah karena aku perempuan?"
"Hukum adalah milik kaum lelaki. Dari lelaki, oleh lelaki, untuk kemenangan lelaki."

"Kebenaran adalah kemenangan utama. Hasrat sesaat telah membuat kalian sesat."

Aku di hadapkan pada seorang lelaki. Aku tak mengenal lelaki ini. Mataku tak pernah menangkap wajahnya di tempatku. Tapi, lelaki ini hanya diam dan menulis di tanah. Entah apa yang ia tulis.

"Perempuan ini harus dilempari dengan batu."

"Oh yang berbicara ini tak tahu. Anak lelakinya pernah bercampur denganku. Batu pertama seharusnya ia lemparkan pada anak lelakinya sendiri."

Lelaki tadi masih menulis di tanah. Mungkin menulis nama-nama mereka yang menyeretku. Atau bisa jadi ia menulis namaku.

"Siapa yang tidak berdosa dia yang melempar batu pertama pada perempuan ini?"

Tak ada yang mau melempar. Aku kira ahli kitab dan pemuka agama akan melemparku. Mereka saleh. Ternyata mereka pergi dari yang paling tua; lebih banyak dosanya. Ya, dia yang paling tua itu, yang pertama kali memerkosaku.

"Tidak adakah yang melempar batu padamu?"

Aku malu pada diriku sendiri. Sekian hinaan telah aku terima dari banyak lelaki. Sekian tubuh telah menguasaiku agar aku bisa makan. Mereka inginkan hasrat, aku menawarkan itu dan mereka membeli. Sudah cukup.

"Tuan, aku akan pergi. Biarlah batu pertama aku lemparkan sendiri pada tubuhku sendiri."

2020


Desiderium in Silentio


Vultus tuus somnium meum ornat
Facies decora vultum meum lavat
Facies decora animum meum curvat
Desiderium multum senem habet
qoud iam pridem silentium in vertice curo.

(Wajahmu menghiasi mimpiku

Cantikmu mencuci wajahku
Kecantikanmu membengkokkan hatiku
Rindu ini semakin beruban
sebab terlalu lama memelihara sepi dalam ubun.)

2020



Fian Watu, sekarang menetap di Hokeng sebagai salah seorang Frater yang sedang menjalani masa Orientasi Pastoral di Seminari San Dominggo Hokeng. Menulis puisi dan cerpen adalah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap KataKata dan dunia di sekitarnya. Beberapa karyanya dapat ditemukan di dan dalam media darimg maupun cetak.

Comments

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...