Skip to main content

Ada yang Aneh dengan Me Bhada

Ilustrasi: Dokpri
(Anak-anak sedang bermain dan mandi di Me Bhada) 

Halo, Teman-teman semoga masih dalam keadaan yang segar bugar di tengah mewabahnya Covid-19. Jangan lupa agar selalu patuhi himbauan pemerintah agar tetap #dirumahsaja

Ok, kesempatan kali ini saya hadir kembali melalui tulisan yang sudah pernah ditayangkan di tabeite.com dan saya mau berbagi kembali kepada Anda melalui Catatn Alfianus yang mungkin dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi teman bagi Anda selama di rumah saja.

Yuk, silakan simak tulisan di bawah ini. Semoga Anda tetap nyaman dan selalu santuyy.

Me Bhada itu di mana le? Me Bhada itu bagus? Me Bhada itu nama tempat atau manusia?

Membaca judul sederhana ini, kepalamu mungkin akan dipenuhi beragam pertanyaan. Yang di dalamnya ada 5 W+ 1 H. Bisa jadi demikian.

Pertanyaan yang sebagian sudah saya tawarkan kepadamu di awal tulisan, merupakan cara saya memantik niatmu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Me Bhada.

Tulisan ini merupakan sebuah  keisengan yang saya temukan di waktu senggang. Sebab, sudah lama saya punya kerinduan untuk menulis tentang Me Bhada tetapi saya tidak tahu mau memulainya dari mana. Sejarah, nama, dan segala tentangnya, mungkin akan membuatmu merasa bosan. Terus apa yang akan saya bagikan?

Baca Juga: Facebook dan Kenangan

Mari, kita mulai. Dan, saya tidak sedang berusaha menjawab pertanyaan di awal tulisan ini. Jika dirimu menemukan tulisan ini seperti menjawab pertanyaan di atas, maka akan saya berikan satu kecupan manis pada kening androidmu (heheheheheh, mau?).

Me Bhada bukan manusia. Dan artinya, dia bukan lelaki dan juga bukan seorang perempuan. Tetapi, dia menjadi lelaki dan sekaligus menjadi perempuan dalam waktu yang bersamaan. Mengapa? Penasaran?

Me Bhada itu sebuah nama sungai yang letaknya di ujung kampung Olakile (tentang Olakile, akan saya bagikan kepadamu di lain kesempatan). Alirnya mengalir jauh. Mencium bebatuan, membentuk kelokkan. Me Bhada, tidak seperti sungai Amazon yang bueeesar sekali itu. Terus apa yang harus saya bagikan kepadamu jika itu hanya sebuah sungai kecil?

Eits, tunggu dulu. Jangan buru-buru untuk memberikan pertanyaan demikian. Sebab, jika saya berikan jawaban atas pertanyaanmu itu, maka tak akan ada lagi yang harus saya bagikan selanjutnya dalam tulisan ini. Masih mau saya lanjutkan tulisan ini toh?

Saya lanjutkan saja ee. Tapi, jangan lupa sediakan secangkir teh jahe, kopi, atau sari kunyit putih atau sari temulawak untukmu jadikan teman bincang sekaligus menangkal Covid-19.

Me Bhada jika diterjemahkan secara ngawur adalah Kerbau Sesak. Mungkin punya sejarah tetapi saya bukan seorang Sejarawan atau Antropolog yang mau memberikan catatan sejarah kepadamu. Pilihan saya adalah membagikan informasi sebisanya.

Me Bhada, sungai kecil, airnya jernih. Oleh karena itulah, kerbau tidak bisa dimandikan di sini karena tidak dalam dan tidak lebar. Sempit tapi memikat semua mata yang menginginkannya. Kedalamannya hanya mampu menenggelamkan keinginan untuk kembali lagi pada esok pagi maupun menjelang senja. Ada kalanya, selepas pulang sekolah, tempat bermain anak-anak adalah di sungai kecil nan mungil ini. Dalam banyak cerita, Me Bhada tidak pernah menenggelamkan atau memakan korban. Hanya, setiap orang yang sudah pernah mandi di sungai kecil ini, akan jatuh berulang kali kepadanya. Airnya hangat bagaikan pelukan seorang ibu kepada anak lelakinya atau seperti pelukan seorang bapak kepada anak perempuannya.

Baca Juga: Seorang Bapak Ditemukan Tak Bernyawa Tanpa Pakaian

Me Bhada adalah saya kepadamu yang menjadikannya kita. Hal itu nyata pada setiap kesempatan yang dihabiskan di atas bebatuan dan di atas cadas-cadas yang tabah menerima setiap panasnya api saat memanggang ikan, pisang, ubi, maupun ayam. Sebab, ketika berada di Me Bhada, apabila tak ada ritual bakar-bakar seperti yang saya sebutkan di atas, maka sia-sialah perjalananmu ke sini. Semua itu satu paket. Di sini, dirimu tak menemukan kesulitan apa-apa untuk menemukan kayu bakar, semua telah disediakan oleh alam.

Mau, kau saya ajak ke sini? Tempat di mana masa kecil saya tumbuh bagaikan anak-anak pisang. Mati dan tumbuh tanpa disuruh. Dirimu tak perlu bersusah payah mencari dan menemukan kesenangan jika ada bersama saya, semua nyaman. Tak ada tarif apa pun selain ciuman terima kasih dari bibir mungilmu nan manja. Dan, kita sudahi saja dulu perjalanan hari ini sampai di sini. Jika masih ada kebingunan pada dirimu, silakan datang, saya menunggumu di sini bersama Me Bhada, kita habiskan segala yang bisa kita habiskan. Sebab, akhir-akhir ini, Me Bhada makin aneh. Anehnya itu ketika tak ada kunjungan darimu hingga saat ini.

Terima kasih, salam dari saya, Fian N sang pemilik dapur tanpa asap.




Comments

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...