Skip to main content

Posts

Ini Bukan Kita-kiat Menulis yang Baik

Foto: Edon Spartan (Osin Gili & Fian N: dalam sebuah kesempatan untuk berbagi dan berdiskusi buku "Ada Rumah Dalam Tubuhku " yang didukung oleh Komunitas Pondok Baca Mataleza)  Halo, kak. Setiap kali membaca tulisan kaka, saya terinspirasi untuk bisa menulis tetapi saya selalu gagal dalam menulis. Saya kehilangan kata-kata atau kehilangan ide. Bagaimana caranya kak agar bisa menulis?  Saya mau bilang begini, pertanyaan di atas itu sudah menunjukkan bahwa ade bisa menulis. Sudah berani bertanya dari kekurangan (yang mungkin diadakan begitu). Terima kasih sudah bertanya dan mau memilih (menjadi) menulis sebagai teman diskusi. Sebab, saya sering katakan, bahwa menulis adalah cara saya berdiskusi. Dan tulisan berikut ini adalah sebuah jawaban paling buruk atas pertanyaan di atas. Sebab, saya selalu gagal dalam hal apa saja.  Ya, menulis itu mudah tapi sulit untuk kita yang belum terbiasa. Setelah terbiasa pun makin dan bahkan lebih sulit dari yang dibayangkan sebelumnya....

Pindah Ke Lain Halaman

Ilustrasi: Pixabay kami lelah, sampai di sini, sejak puisi dicipta berkali-kali. saat semua masih bolong. pelan dan sabar kami belajar mengisi kekosongan dengan selamat. sempat berhenti menyusun rencana. aku tak ingin ada korban yang jatuh, memeluk tanah. aku tak ingin ada darah yang berteriak dihimpit serakah. kami berjalan lagi di antara tiang-tiang garam sodom dan gomora. asin tubuh dan anyir merasuki udara sebelum pindah ke lain halaman. sampai pada tepi sumur, meneguk banyak kesabaran dari tangan seorang perempuan, malu-malu kami sepakat, tak ada yang lebih tabah dari dada seorang perempuan yang menahan gemuruh rindu dengan tangan penuh seluruh setelah dilanda luka merana pula. di sisa perjalanan, tanah gersang, sampai puncak sudah selesai. kami pulang, pertanyaan dibawa untuk dikemas ulang. Gurusina, 2020 Malam Bulan Gelap malam bulan gelap. angin gugurkan daun-daun. malam terjebak pelukan kabung. tangis-tangisan berjejal mengemis kasihan. di segala ruang ampunan meraung kenang. ...

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Rahasia

  Ilustrasi: Pixabay Dalam diri kita terdapat rahasia. Yang tak dapat diungkap dengan kata. Semua diselami dengan penuh rasa. Antara hampa dan gundah-gulana. Sebab, semakin mencari pun yang hadir adalah tanya pada sesuatu yang baru dan yang tak terselami akal. Siang yang hampir padam dan senja yang kini tersisa pada dasar gelas adalah ampas yang impas setelah bibir kita bertukar kabar pada jumpa pertama. Selamat sore, Pagi. Sapaku padamu yang sedang menunggu kedatanganku sebelum kejadian di atas. Kamu Sore, kan? Pagi bertanya penuh penasaran. Kita masih menyisakan tanya pada kepala dengan beraneka pertanyaan yang hampir meledak dan ingin keluar dari dalam. Ada yang ingin ditanyakan dan ada yang sedang menunggu jawaban. Ada yang sudah siap menerima dan berharap agar ada yang segera memberi. Ada banyak teka-teki yang tak mudah menemukan jawabannya. Terkadang kepala tiba-tiba penuh dengan cacian dan makian. Baca Juga:  Rumah Yang Teriak Minta Tolong Hidup kadang menawarkan ...

Menjadi Pemimpi Bisa, Menjadi Pemimpin Bisa?

  Gambar: Kunjungan Bupati Nagekeo, dr. Don, di SDK Boawae. Gambar ini saya ambil dari FB kepala sekolah SDK Boawae, Ibu Ros Sada.  (Terlihat jelas, sebagai seorang pemimpin yang adalah dokter, beliau tahu harus berbuat apa)  Apakah ada pemimpin yang seperti kami idam-idamkan? Iksan Skuter Saya membuka tulisan ini dengan mengutip lirik lagu   Pemimpin karya dari seorang penyanyi Indonesia yang tentunya sudah banyak dikenal oleh para aktivis maupun oleh siapa saja yang menyebut dirinya generasi melawan. Mengapa? Karena hampir semua lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Iksan Skuter adalah lagu-lagu perlawanan. Kita tahu Iwan Fals , Akhadi Wira Satriaji  atau yang kita kenal dengan nama panggung Kaka Slank, tapi kita juga harus tahu penyanyi yang satu ini, Iksan Skuter. Bagi yang belum tahu, silakan cari saja di mesin pencarian internet, dengar dan renungkan, lalu bertindaklah, jika memang harus. Pada kesempatan ini, saya coba bermain-main dengan imaji...

Di mana Letak Kota Ibu Tinggal?

Ilustrasi: bali.ekspress.jawapos.com Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota. Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang datang? Sebelum ke kota Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu memasak bhabhu mamu. [1] Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek, bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon kopi. Nenek memi...

Hari Sudah Sore, Kau Belum Juga Datang (Sebuah Dongeng Dari Negeri Yang Asing)

Ilustrasi: citangkolo.net Mungkin, dirimu sedang berpikir bahwa aku menulis sesuatu tentangmu di sore ini. Bukan itu yang sedang aku pikirkan. Mungkin juga, pikirmu itu benar tapi tak seutuhnya tentangmu. Ini tentang segala hiruk-pikuk yang sudah dan sedang terjadi di akhir-akhir ini. Ah, aku ini sedang menulis atau sedang menjelaskan? Apakah aku sudah terlalu miskin dalam menulis? Atau, aku akan bosan ketika berhadapan dengan jenis tulisan ini! Bisa jadi demikian! Aku pun pergi dan aku yang lain masih bertanya-tanya. Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang membentur segala sesuatu yang ada di hadapannya. Tak peduli sekeras apa yang akan ditabraknya. Sebab, pertanyaan itu seperti hidup. Hidup yang sedang dijalani akan tetap begitu adanya jika tak ada yang berani mendobrak segala sesuatu yang berada di jalur yang tak benar. Tugas kita dan manusia yang lain adalah membuat hidup itu menjadi lebih mapan. Kejadian-kejadian di akhir-akhir ini, terkadang tinggalkan duka pun segala pilu yang p...