Ilustrasi: bali.ekspress.jawapos.com
Jauh sebelum kepergian suaminya, ibu memilih pergi ke kota.
Tinggalkan segala kenangan masa lalunya. Memilih kehidupan baru. Memilih
suasana yang lain sama sekali. Mungkin bisa bertemu orang-orang baru yang tak
dikenalnya. Orang-orang yang asalnya tak pernah ibu ketahui. Apakah ibu bisa
menerima mereka semua? Apakah ibu tidak merasa asing di antara mereka yang
datang?
Sebelum ke kota
Setiap kali pagi bangun dari tidurnya, ibu sudah di dapur. Menanak
nasi untuk saya sarapan sebelum ke sekolah. Kalau beras tidak ada, biasanya ibu
memasak bhabhu mamu.[1]
Bapak sudah lebih dulu ke sawah setelah bangun dari tidur dan membuat kopinya
sendiri. Bapak tidak pernah memaksa ibu bangun sepagi dirinya. Kata nenek,
bapak sangat peduli terhadap ibu. Bapak tidak akan pernah membangunkan ibu
meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan nenek sudah berada di
belakang rumah, tepatnya di bawah pohon kemiri yang diapiti beberapa pohon
kopi. Nenek memilih biji-biji kemiri yang jatuh ditiup angin malam. Saya
memilih untuk mandi sendiri. Tak perlu memanggil ibu menggosok sabun di
punggung sebab tangan saya sudah bisa menggapainya. Sebelum saya masuk Sekolah
Dasar, kebiasaan kami adalah dengan membuat tangan membentuk setengah lingkaran
di atas kepala dan menyentuh salah satu bagian telinga kiri maupun kanan,
tergantung tangan mana yang digunakan. Dengan itu, pertanda bahwa kami bisa
masuk Sekolah Dasar. Saya bingung dengan cara demikian, seorang anak bisa masuk
Sekolah Dasar ketika bisa berbuat demikian. Namun, dengan hal tersebut bisa
mengajarkan saya untuk belajar mandiri dan salah satunya adalah mandi sendiri.
Baca Juga: Mama
Nenek akan kembali ke dalam rumah jika sudah merasa lapar. Di
sawah, bapak hanya membakar pisang setelah memeriksa pengairan ke sawah agar
padi yang baru ditanam bisa tumbuh dengan baik. Di sekolah, kami belajar
menghitung dan menulis. Seringkali kami diuji oleh ibu guru. Ibu guru meminta
kami menyebut nama presiden Indonesia dan apa nama ibu kota negara ini.
Terkadang kami salah menyebut nama presiden. Sebab, nama ayah dan ibu kami
sendiri bisa kami lupa. Yang kami tahu hanyalah ini Budi, ini ibu Budi, ini ayah
Budi, ini kaka Budi, dan ini adik Budi. Waktu itu yang ada di kepala kami
hanyalah nama Budi. Nama ayah, ibu, kakak, dan adik Budi, kami tidak tahu.
Sepulang sekolah dan kepala dipenuhi angka-angka yang menjenuhkan,
membuat saya ingin pergi ke sawah untuk membantu bapak. Atau, membantu ibu
menjahit pakaian-pakaian kami yang telah lama robek. Juga termasuk pakaian ayah
dan nenek. Ibu sangat teliti menjahitnya. Saya sering memerhatikannya
diam-diam. Seperti ada percakapan di antara ibu dengan jahitan yang ada di
tangannya.
Mungkin ibu menyampaikan permohonan maaf atas tindakan kami yang
tidak berhati-hati pada jahitan yang ada di tangannya. Mungkin juga ibu
mewakili kami untuk meminta maaf atas segala luka yang tak mampu sembuh secara
utuh. Saya, bapak, dan nenek tidak pernah sadar akan hal itu. Naluri seorang
ibu atau perempuan kebanyakkan memang beda dari lelaki. Tetapi kami tidak
pernah berdebat akan hal itu. Cara ini dilakukan karena tak ingin ada luka di
antara kami. Karena kami hanyalah bertiga dan tidak sampai lima.
Baca Juga: Hari Sudah Sore, Kau Belum Juga Datang
Menjelang malam, ibu pasti lebih betah di dapur setelah pulang
dari kebun memetik daun singkong, bunga pepaya, dan jantung pisang untuk
dijadikan sayur. Sedangkan nenek sudah ada dalam rumah sebelum jam enam. Dari
dulu nenek tidak pernah berada di luar rumah jika hari sudah mulai malam
apalagi jam enam. Kata nenek, jam enam adalah jamnya hantu-hantu berkeliaran di
mana-mana. Mencari anak-anak kecil yang masih bermain di luar rumah. Hal ini
yang membuat saya tidak pernah berada di luar rumah jika jam hampir pukul enam.
Satu jam sebelum itu, adalah waktu yang tepat untuk mandi.
Tetapi bapak akan tiba di rumah sekitar jam tujuh malam. Jarak
antara rumah dan sawah tidaklah dekat. Ditambah tak ada kendaraan pada waktu
itu. Kuda sudah dijual oleh bapak sebulan yang lalu demi membeli obat untuk ibu
serta membayar dukun tradisional. “Rumah sakit bukanlah rumah kesehatan yang
menjanjikan kesembuhan. Rumah dukun adalah rumah tuhan kedua,” kata ibu di
suatu hari.
Sesampainya di kota
Saya coba mengingat kembali segala cerita yang pernah diceritakan
oleh bapak dan nenek. Ibu pergi ke kota sebelum saya pandai menyebut nama Budi
dengan benar. Menjelang terima rapor, ibu pergi ke kota. Saya tidak tahu
apa-apa tentang kota. Mungkin, waktu itu, saya berpikir bahwa kota adalah rumah
bagi segala duka melepas penat dan tangis. Iya, waktu itu. Waktu di mana saya
masih polos. Polosnya saya pada waktu itu adalah sering berjalan telanjang.
Karena saya berharap ibu akan datang mengenakan pakaian untuk saya. Ternyata
tidak. Tidak sama sekali. Apakah ibu terlalu nyaman di kota? Apakah ada sesuatu
yang membuat ibu betah di kota? Di kampung, saya bertanya tentang ibu dan kota.
Apakah di kota, ibu bertanya tentang saya dan kampung? Ayah dan nenek, pasti
bertanya tentang keadaan ibu. Saya memikirkan apa bentuk pertanyaan yang sering
ibu tanyakan. Apakah ibu bertanya tentang orang-orang di kampung ini? Kampung
yang pernah menjadikan ibu besar. Kampung yang pernah membuat ibu mengenal apa
itu kota. Kampung yang menyimpan segala kenangan masa kecil ibu.
Semakin lama-semakin ke sini, ibu tak ada kabar lagi. Bapak telah tiada. Nenek juga telah tiada jauh sebelum ayah tiada. Ibu sendirian di sana. Di antara orang-orang asing. Orang-orang yang tak pernah ada di masa kecil ibu. Orang yang datang dari masa depan dengan sesuatu yang, saya yakin bisa membuat ibu tak betah di sana. Saya di kampung semakin kesepian.
Di mana letak kota ibu tinggal?
Saya menutup cerita ini dengan pertanyaan itu. Semoga ibu segera
mengirim surat untuk saya dan saya segera menemuinya sebelum ibu menemui saya
di kampung. Agar saya tahu bagaimana rasanya hidup dengan ibu di kota.
Maumere, 2019
[1] Bhabhu mamu adalah jenis makanan tradisional khas dari kabupaten Nagekeo yang dibuat dari jagung, kacang, dan ubi-ubian serta ditambah dengan santan kelapa.
Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termasuk dirimu.

Mantap Ama
ReplyDeleteTerima kasih, Ame. Mari kita terus berbagi.
Deletesangat keren ade...sukses selalu yah...GBU
ReplyDeleteTerima kasih banyak kkak
DeleteMantap👍
ReplyDeleteTerima kasih banyak, kaka.
Delete