Skip to main content

Inerie: Ada Apa?

Gambar: Fian N

Halo, Teman-teman salam jumpa. Salam kebajikan. Semoga selalu dalam keadaan yang baik, tetap sehat dan tetap semangat menjalani rutinitas. Oh, ya pada kesempatan yang luar biasa ini, saya akan membagikan sedikit cerita tentang perjalanan pulang dari Kampung Gurusina-Jerebuu menuju Olakile-Boawae. Cerita ini bukan cerita yang luar biasa asyik, tapi sekadar basa-basi klasik yang biasa saja yakni, tentang rekam jejak potret Gunung Inerie. 

Ok, sebelum melangkah lebih jauh, saya akan gambarkan sedikit tentang Gunung Inerie itu sendiri yang saya ambil di Wikipedia. 

Gunung Inierie adalah gunung stratovolcano yang terletak di bagian selatan Pulau Flores, tepatnya di Kecamatan Ineria, yang baru dimekarkan menjadi kecamatan beberapa waktu yang lalu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gunung Inierie adalah gunung berapi terbesar di Pulau Flores, puncak gunung ini merupakan titik tertinggi di Pulau Flores. Itu sedikit catatan singkat tentang Gunung Inerie, yang indah dan memesona. 

Baca Juga: Pater Dr. Alfons Betan, SVD: Ekseget Tenang

Ini perjalanan saya. Sore menjelang jam lima lewat sedikit, dari kampung Gurusina, saya mengendarai sebuah sepeda motor milik bapak Delis. Saya melaju dengan bayangan kampung Gurusina yang membuntuti dari belakang. Di kepala, saya memikirkan banyak hal dan salah satunya mencari tempat yang tepat untuk memotret Gunung Inerie di waktu sore hari. 

Melewati Bena, melewati Manulalu, belum saya temukan tempat yang tepat. 

Motor yang saya kendarai terus melaju, mata saya sesekali mencuri pandang ke kemolekan puncak Gunung Inerie. 

Tepat di perbatasan desa Be'apawe dan Nuamuzi, saya berdiri, menepi dari badan jalan, dan mencari posisi yang tepat untuk memotret. 

Sebelum memotret, saya menarik napas dalam-dalam, dan luar biasa karya tangan Tuhan menghadirkan semesta yang sebegitu menakjubkan serta memanjakan mata. 

Crekk, sekali jepret jadi. Di balik Gunung Inerie, matahari sedikit lagi kembali ke perpaduan, langit tampak jingga, merah merona seperti lidah-lidah api. 

Saya sempat berpikir dan bertanya, saya mau memilih jadi apa, apakah menjadi senja yang sesaat saja tetapi selalu dinantikan atau tidak menjadi apa-apa? 

Memang hidup, selalu dihadapkan dengan pilihan. Kenapa tidak jalani saja sampai pulang ke keabadian? 

Ada apa sebenarnya dengan Gunung Inerie, sampai-sampai saya harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan. 

Silakan temukan jawabannya dan silakan lanjutkan perjalanan kita masing-masing. 

Gurusina, 2020.

@catatan_fian, mencintai keanehan dan sedang menghabiskan beberapa kegelisahan. Tukang masak di Pondok Baca Mataleza. 

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...