Skip to main content

PKI, itu Hantu?

Sumber: jurnalgaya.pikiran-rakyat.com

Tahun 1995 tepat di tanggal 3 Desember, saya menangis untuk pertama kalinya. Lahir setelah sekian tahun negeri ini dihantui sebuah sejarah kelam yang terus dipelihara oleh negara tanpa ada titik terang. Apakah pantas, saya menulis sejarah kelam ini? Apakah boleh saya mendeskripsikan sejarah ini dari kaca mata masa kini? Apakah tidak ada ketakutan jika saya menulis ini? Cukup, film-film berlatarbelakang PKI yang dilarang putar. Seminar-seminar tentang sejarah kelam 1965 itu yang dilarang untuk diseminarkan. Buku-buku berbau PKI dilarang diedarkan ke toko-toko buku dan ke perpustakaan-perpustakaan sekolah dan kampus. Cukup sudah negara mewariskan sejarah kelam ini. Jangan sampai generasi selanjutnya terus dihantui oleh pola pikir yang sesat, tanpa penjelasan yang akurat. Catatan sejarah kelam ini terus diingatkan setiap September akan segera berakhir. Sejarah yang dikenal dengan sebutan anyar G30SPKI. 

Sampai hari ini, masih banyak pertanyaan atas komitmen pemimpin negara ini untuk menjadi mediator antara keluarga korban dan pelaku serta memberikan hukuman bagi para pelaku yang sampai hari ini masih menikmati kebebasan tanpa beban. Bahkan dari sebagian pelaku itu memiliki jabatan empuk di negeri yang katanya damai, makmur dan berkeadilan sosial. 

Apakah petinggi negeri kita ini lupa akan janjinya itu? Bagaimana caranya untuk mengingatkannya kembali? Tak ada cara lain selain terus bersuara lewat media dan aksi-aksi kecil yang menimbulkan kesadaran dan rasa kepri-manusia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Jika hal itu terus dilakukan, sangat tidak mungkin petinggi negeri ini tutup telinga dan jika benar, itu sebenarnya sudah lama menjadi catatan kelam sejarah dunia dan sudah ada perhatian khusus tetapi belum direalisasikan. 

Selanjutnya, apakah PKI itu hantu yang harus ditakuti? Kalau tidak, mengapa harus ada larangan atau banyak pernyataan dari para tokoh elit yang pandai berkelit di negeri ini? Yang menyatakan adanya hantu-hantu PKI yang diam-diam terus bermunculan di tengah kehidupan masyarakat. Pada fase ini, negeri kita dipenuhi kegaduhan-kegaduhan kecil yang berakibat fatal dan bahkan bisa menjadi pemantik perpecahan. 

Di sini dibutuhkan sebuah rekonsiliasi yang patuh dan patut didasari kesungguhan dan penyesalan total. Jika tidak, catatan kelam sejarah negeri ini akan terus diingat setiap September tiba. Selain saya, di luar sana ada banyak orang yang sedang menulis hal yang sama, G30SPKI. Ini adalah sebuah bentuk menyuburkan kembali ingatan bahwa negara masih punya utang terhadap para keluarga korban dan belum memberikan titik jelas yang pasti. Jangan sampai ada pernyataan yang mungkin akan melukai hati dan ingatan keluarga korban, "biarkan yang sudah berlalu, berlalu! Lupakan semuanya itu. Jika hal ini terjadi, yang perlu kita sadar bahwa ada adagium Yahudi yang mengatakan demikian, " Lupa memperpanjang pembuangan. Ingat adalah rahasia penebusan." Oleh karena itu, seruan untuk rekonsiliasi bukan sekadar rekonsiliasi antara pelaku dan keluarga korban tetapi terhadap semua warga negara ini. Atau, kita bisa meminjam istilah rekonsiliasi yang diungkapkan oleh John P. Lederach seperti yang dikutip oleh Geiko Muller bahwa, "Rekonsiliasi dipahami sebagai suatu proses pembangunan relasi. Jadi, rekonsiliasi tidak secara eksklusif diperuntukkan bagi periode pemugaran pasca-konflik. Sebaliknya, rekonsiliasi menyediakan suatu fokus dan lokus yang cocok untuk setiap  segi dalam proses penegakkan perdamaian dan bersifat mendasar terhadap kesinambungan perdamaian tersebut." Adalah sebuah keharusan yang patut dilakukan. Dengan demikian, kedamaian akan kembali tercipta setelah perjalanan panjang melawan lupa terus disuarakan dan mendapatkan tempat berpulangnya segala penyesalan dan mampu memulihkan martabat yang pernah terluka. 

Kita butuh bukti, bukan janji yang pada akhirnya diingkari. Dan, apakah luka-luka masa lalu akan segera disembuhkan atau akan bermunculan seperti hantu dan sedang gencarnya diperbincangkan akhir-akhir ini? 

Oleh: Fian N, tinggal di rumah. Tukang Masak di Pondok baca Mataleza. 

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...