Skip to main content

Masa Lalu

Ilustrasi: Pixabay

Saat saya menulis ini, sebenarnya yang Anda baca adalah sebuah kejujuran yang tidak utuh. Anda terjebak dalam dimensi waktu yang akut. 

Melihat sesuatu dari kaca mata terserah, tak ada rasa ingin tahu yang lebih dan minimnya kreativitas dalam bertanya. Itu dugaan saya saja, soalnya saya belum melahirkan pernyataan untuk Anda segera bertanya sampai akhirnya membantah. Sebab, yang akan Anda baca, itu yang sudah pernah Anda alami tapi kadang, Anda pura-pura lupa.

Bisa saja Anda menjawabnya, tidak pernah, itu hak Anda. Tugas saya satu, mengingatkan Anda dan tentu mengingatkan diri saya sendiri. 

Jika Anda tidak merasa perlu untuk diingatkan, silakan tinggalkan tulisan ini dan jangan lanjut membaca. Sebab, bakal sakit hati sudah ada di depan mata. Bisa saja buat Anda menangis dan menghidupkan kembali memori masa lalu Anda. Kalau masih tidak percaya, silakan lanjut membaca tulisan receh ini sampai selesai. 

Ah, saya salah bahwa tulisan ini tidak akan pernah selesai karena akar persoalan yang ingin saya tumbuhkan adalah kenangan. Jika kenangan itu dibawa ke permukaan, tangis, luka, sakit hati, kecewa, pasti akan berhimpitan memenuhi isi kepala saya dan Anda. Atau, sebaiknya tidak usah lanjutkan tulisan ini. Atau sebaik saya lanjutkan saja.

Sensasi itu perlu untuk sesuatu yang penuh ragu. Jika tidak, untuk apa kita hidup jika hanya untuk masa depan tanpa masa lalu? Bukankah itu seperti kita ingin menjadi dewasa tanpa harus menjadi anak-anak? Atau kita menginginkan tua tapi menolak untuk pernah muda? Itu, tidak bedanya kita menunggu mobil di lapangan bola kaki, salah tempat. 

Oh iya, terlalu banyak improvisasi, kenapa tidak langsung mulai saja? Eh, hahaha, Anda salah atau saya juga tidak sadar kalau saya sedang memulainya? 

Tentang masa lalu, luka, tangis, kecewa dan akhirnya berbuah kenangan bukannya sudah saya katakan di atas tadi? Iya, sudah tapi itu basa-basi alakadarnya saja. Tidak ada yang menarik apalagi penting untuk dikaji. 

Sebab, jika yang ditulis dan dinarasikan adalah masa lalu, maka tak ada yang perlu takut jika yang dihadirkan adalah kesedihan atas hilangnya seseorang yang paling disayangi. Atau, teringat akan kenangan-kenangan pahit yang menjijikkan, memalukan, memilukan, bahkan sampai mengatakan jijik terhadap di sendiri. 

Nah, apa saya bilang, jangan salakan saya. Saya tidak bertanggung jawab atas semua itu. Bukan, bukan maksud saya untuk tidak terima itu atau lari dari kenyataan. Hanya, saya tahu diri bagaimana cara menempatkan beban itu pada tempatnya. 

Saya sadar pernah ada di masa lalu yang seperti itu. Tapi, apakah saya bisa tumbuh jika bayangan seperti itu terus menghantui? 

Jika hanya luka dan kekecewaan yang diingat, kapan Anda dan saya akan tahu bahwa kita punya masa lalu yang paling bahagia? Saat kita saling menerima luka sebagai sebuah hadiah yang menyembuhkan? 

Jika merasa jijik dengan apa yang pernah kita alami di masa silam, untuk apa kita pernah bersepakat untuk saling menerima? 

Kita tidak pernah merasakan terluka atau yang paling kecewa atau yang paling bangsat untuk diri sendiri jika kita tetap bersepakat untuk tetap bersama.

Dulu kita tidak pernah membayangkan bagaimana masa depan itu datang saat kita tak lagi bersama. Yang ada di kepala kita hanyalah anak-anak kebahagiaan saat kita melangkah berdua hingga tua. 

Nah, sampai di sini, jika masa lalu itu adalah biang ketidakbahagiaan, mengapa harus hidup sampai saat ini? 

Jika masa depan hanya menerima datangnya kebahagian, maka saya dan Anda tidak pernah sampai pada titik ini. 

Sampai di sini, maaf, jika saya sedang menggurui Anda atau sedang membangkitkan kenangan masa lalu Anda. Dan tugas saya bukan sebagai sandaran untuk setiap keluhan yang Anda alami bersamanya. Jika sempat, ceritakan saja sesuatu itu pada kenangan, siapa tahu ia yang paling tabah mendengarkan penyesalan darimu. Dan saya, sudah tidak punya tanggung jawab atas semua itu. 

Ocehan ini hanyalah cemilan saat gundah atau sedang ingin bernostalgia. Selebihnya hanyalah narasi impoten untuk merasakan sensasi sakit hati. 

Hahaha, bukan, maksud saya bukan itu. Ah terserah Anda mau bilang apa. Sebab, ini hanyalah cuitan-cuitan dari catatan lepas yang tidak pernah utuh. Sekian! 

@catatan_fian, 2020

(Catatan Lepas yang tak Pernah Utuh) 

Comments

  1. Kenangan itu mmg sesuatu yg sulit dihindari, nikmatilah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Iya sesuatu yang harus diterima. 🙏

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...