Ilustrasi: Pixabay
Sungai dalam Dirikuada sebuah sungai dalam diriku,
tempat aku selalu membayangkan kau, datang bertudung sinar sore warna gading, melepas kain dan berenang telanjang.
di tepinya, bunga-bunga semak berayun mengintipmu. di hulunya, aku terendam sebatas pusar, menghanyut sekelopak mawar bersama mantra pemikat birahi untuk menyusup ke ronggamu.
"sukmamu rajuk, sukmaku rasuk masuk merajuk ke benakmu. jadilah aku lelakimu, yang berdiri terpaku, berjaga di perigimu."
tetapi, engkau juga sungguh telah tahu, tak ada lagi mantra yang bertuah. doa dan tuhan telah lama tidak didengar.
"bencana itu datang dari atas," kata ibu-bapak kita. namun ternyata, petaka juga telentang di perut bumi, menunggu saat tepat membuka mulut menelanmu.
setelah gemuruh tanah retak itu, sore warna gading bunga-bunga semak, dan sungai dalam diriku, luruh diremuk petaka.
maafkanlah aku, bahkan dalam reruntuhan jiwaku, aku tak tahu di mana kini kau tertimbun.
suatu saat kelak, semoga kau akan tahu, telah bertumbuh sungai lain dalam diriku, airnya terus mengalir di kedua mataku.
Yogyakarta, 2006
Enak Juga Baca ini: Di Padang yang Pernah Kuceritakan dan dua puisi lainnya
Tebesaya, Gadis Berputih-Kebaya
-"di tebesaya,
aku gadis berputih-kebaya. telinga berselip bunga kamboja, yang putik- sarinya dapat kau lihat ranum di mataku."-
tetapi, di tebesaya, aku hanya lelaki-tualang dan kau berkebaya ketat dengan bordir bunga mawar sehalus kulitmu. depan kedai tarot, saat aku melintas lewat, kau sodorkan sebuah kartu. "page of swords!" katamu.
aku tergagap bingung, kau tersenyum senang.
tahu apa aku
tentang kartu tarot? aku bahkan tak mampu bedakan, gambar penyihir dengan penyair. lagi pula, tak akan ada ramalan menarik dari nasibku.
di tebesaya,
wahai gadis-gadis berputih-kebaya, tak akan ada ramalan menarik dari nasibku.
bahkan hingga sejauh tebesaya, aku hanyalah pendatang asing bagi jiwaku.
Ubud-Makassar, 2004-2008
Aslan Abidin lahir 31 Mei 1972 di Soppeng, Sulawesi Selatan. Salah satu penggagas Institut Sastra Makassar. Buku puisinya Orkestra Pemakan (KPG, 2018) dan buku kumpulan esai terbaru Menunggu Rakyat Bunuh Diri (Basabasi, 2020)
Riwayat karya: kedua puisi ini pernah disiarkan pada Koran Kompas edisi, Minggu, 20 April 2008. Dan, saya ambil secara utuh puisi-puisi ini dari Koran Kompas yang dikumpulkan selama ini dan menjadi arsip pribadi.

Comments
Post a Comment