Skip to main content

SMPK Kotagoa: Sosialisasi Penerapan Belajar Dalam Jaringan

Gambar: Dokpri

Sore-sore, sebelum hari ini, saya diminta dan disampaikan oleh adik saya untuk mengikuti sosialisasi penerapan belajar dalam jaringan (daring) di SMPK Kotagoa-Boawae zona Olakile. Saya tidak langsung menjawab ya atas permintaan ini.

Di dalam kepala ada begitu banyak kegelisahan yang muncul, self phone ada, tapi jaringan atau signal ini yang susah dijangkau, apa bisa?

Di kampung saya, Pogopeo-Olakile, jaringan susah. Apakah saya dan adik harus duduk di luar rumah atau harus betah di tempat yang ada signal atau jaringan? Sebenarnya tidak masalah soal ini, efektivitas dalam proses belajar jarak jauh dan hasil dari proses belajar ini yang dibutuhkan.

Jangan sampai, setelah isi absen, Anak-anak tinggalkan ponsel dan lanjutkan aktivitas lain dan tugas bisa dikerjakan pada kesempatan yang bisa kapan-kapan saja.

Saya bisa menduga, Anak-anak bisa saja berkelit apabila tugas tidak dikerjakan, Pak Guru, kami di sini susah signal dan kalau post tugas atau mau kasih komentar selalu gagal. Ini bahaya dan sebenarnya butuh bimbingan dari siapa saja, bukan hanya guru dan bukan juga hanya orang tua tetapi kepada siapa saja yang peduli akan dunia pendidikan.

Setelah banyak berpikir demikian, di hari Jumat, saya bersedia mendampingi adik untuk mengikuti kegiatan sosialisasi penerapan belajar dalam jaringan. Ternyata mudah dan tantangan lain ketika saya sampai di tempat sosialisasi, SMPK Kotagoa, ternyata dari sekian banyak murid dan orang tua/wali yang datang, tidak semua memiliki ponsel android. Ini adalah salah satu tantang juga di tengah pandemi yang tidak lekas bersahabat.

Bapak Mateus Tule, selaku kepala sekolah SMPK Kotagoa, berharap ada kerja sama orang tua untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam penerapan proses belajar jarak jauh. Dukungan dan kerja sama dari orang tua itu sangat diharapkan.

Jujur, sebagai alumni dari SMP Kotagoa-Boawae, saya bangga dengan semangat para guru dan peserta didik.

Semoga kita semua tetap jadi guru yang tidak hanya mengajar tetapi juga bisa mendidik.

Enak juga baca ini: Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

Comments

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...