Skip to main content

Untuk yang (akan) Pergi

Ilustrasi: Pixabay

Telaga harapan pecah. Tumpah segala harap yang pernah ada. Kau di mana sekarang? Kau tak perlu menjawab. Biarkan tulisan ini menemukanmu di suatu hari kelak. Kau akan sadar bahwa, hadirmu bukan sekadar tanpa arti tetapi telah merasuki segala relung di hati.

Namun Siapakah aku di matamu? Siapakah aku di dalam perjalanan hidupmu? Apakah aku hanya sebagai ornamen yang tak pernah dipermanenkan? Ah, apakah aku seperti seorang pengemis yang sedang mengemis cinta dan perhatian darimu?

Asyik Juga Baca Ini: Menjemput Kematian Dari Sekarang

Bukan, bukan seperti itu. Aku telah memberi dari yang kupunya. Kau menerimanya. Tapi, apa yang kau berikan? Sebenarnya aku tak membutuhkan balasan. Tapi, kisah kita lain. Bukan seperti transaksi di pasaran. Ini tentang sebuah ikatan yang butuh kepastian.

Tapi, biarlah, kini kau telah pergi. Pergi dengan segala kenang yang enggan untuk lekang. Aku tak peduli sekarang kau sedang berada dalam pelukan siapa. Aku hanya berharap semoga kau lebih baik dari sebelumnya. Menemukan dirimu yang sesungguhnya, bukan karena kehendak orang lain.

Hanya ini yang bisa kutitipkan untukmu;
Jaga dia yang mencintaimu tanpa tapi. Jagalah cintanya yang mencintaimu tanpa mengapa. Cintailah dia yang mencintaimu tanpa bagaimana. Sebab, dengan cara demikian, cintamu akan utuh sampai tua menjemput. Fian N

Boawae, 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...