Skip to main content

Menjemput Kematian Dari Sekarang

Ilustrasi: Pixabay

saya jalan ke depan, mereka bilang, semua jalan pasti ke depan, kalau ke belakang itu mundur yang mungkin bisa diundur. saya menghitung lalu menerka-nerka, sampai pada angka berapa saya kelak.

warna kematian, itu yang saya sisipkan ketika setiap kali menghitung angka. saya, kadang jadi yang paling takut, kelak, saya mati, siapa yang bisa seperti saya? 

seperti sedang menulis puisi ini, saya merasakan ketakutan itu. mungkin, kau akan berkata, ada apa dengan dirimu sampai menulis tentang kematian padahal dirimu masih sangat muda? 

kematian tidak melihat berapa usiamu. kematian itu nafas, yang kadang tak pernah saya dan kau rasakan. 


dan, dalam puisi ini, saya sedang menjemput kematian dari sekarang. perlu takut tapi jangan terlalu. perlu siap, haruslah dengan sungguh. 

kios Pelangi, 2020

burung itu bersiul-siul dari atas pohon yang tua

bangun pagi, saya duduk di samping rumah. pohon mangga yang tua dan segelas teh rosela. lama saya menatap lalu merenung. di kepala saya, ada burung yang diam-diam sedang bersiul-siul yang kini kian menua. 

burung itu terbang dari dahan yang satu ke dahan yang lain. sesekali ia berguyon dengan melepaskan kotoran di atas kepala orang-orang yang lewat di bawahnya. 

di kepalaku, siulnya makin garing. daun-daun gugur. sarangnya adalah kecemasan yang gagu. 

teh rosela habis, halu berakhir. ada kotoran burung di kepala saya, sial. 

kios Pelangi, 2020


kau yang bernama aku

kau yang bernama aku, tak pernah diam di kepalaku. sibukmu, kepalaku selalu terjaga. 

kau yang bernama aku, adalah kota yang tak pernah tidur. lampu jalan yang selalu bergantian warna. yang mencegat yang berdebar. 

kau yang bernama aku, itu laut yang terus-menerus menerjang karang pada isi kepalaku. di sana, kau berlayar tak kenal arah angin. 

kau yang bernama aku, lagu nina boba yang tak pernah selesai dinyanyikan di kepalaku sebelum aku tidur di matamu. 

kios Pelangi, 2020

Fian N, suka kamu dan lombok kecil. Tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Musafir (Rose Book, 2018) dan Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) adalah dua buku kumpulan puisi yang dihasilkan olehnya. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...