Skip to main content

Tragedi Senin Malam

Ilustrasi: Pixabay

Senin malam, hari pertemuan kami. Saya telah mempersiapkan segalanya; cokelat, sebungkus rokok dan pakaian yang bersih. Saya selalu ingin rapi dan terlihat menggoda di hadapannya. Saya takut kalau sampai malam yang begitu mahal ini dilewatkan begitu saja dan berujung kecewa. Saya harus memanfaatkan setiap momen pertemuan ini dengan sebaik-baiknya.

Asyik Juga Baca Ini: Untuk Yang Dikenang

Kadang saya merasa malu, juga karena rasanya terlalu sulit untuk dideskripsikan. Saya merasa diri sedikit pelit dan tidak ingin rugi sedikit pun. Namun saya tak boleh memikirkan hal negatif semacam itu. Toh, itu hak saya.

Saya memakai wangi-wangian mencolok dan mengundang emosi. Saya membiarkan rambut tergerai sepanjang bahu. Bersolek di depan cermin, gincu merah jambu menjadi pilihan yang tepat untuk bibir yang aduhai.

Saya merasa diri sudah siap.
“Bersikaplah sewajarnya dan tak boleh ada yang curiga”, gumam saya dalam hati.

Saya mengenakan sepatu, mengambil tas dan bergegas keluar kamar. Perasaan dan penampilan saya seakan bercampur, mengaduk-aduk emosi dan gairah di malam istimewa ini.
 
****

Tetangga-tetangga saya, baik tua maupun muda, laki dan perempuan, terlalu sering mencampuri kebebasan orang lain, tak bisa saya kelabui. Saya tak mengerti mengapa mata mereka melirik dengan mimik yang penuh kecurigaan. Bahkan sesekali juga mereka meludah di hadapan saya.
Di sebelah rumah, inang Nurak dan saudaranya mo'an Teus duduk di depan teras sambil membicarakan sesuatu dan sangat demostratif. Sesekali mata mereka melirik ke arah saya. Berhadapan dengan wanita paruh baya itu, saya selalu terpancing emosi dan merasa tersindir. Inang Nurak memang selalu iri hati dan kadang-kadang sangat peka. Habis, maklumlah, dalam usia lanjut begitu, sebagai seorang perempuan yang belum kawin, boleh dibilang ia sudah terlambat. Saya agak khawatir, kalau ia dapat menduga apa yang sedang saya alami.

“Malam-malam sudah gagah, mau ke mana?”, kata inang Nurak.

Saya berusaha tak menjawab. Hanya menebar senyum sepintas dan membuatnya sukar menafsir.
Sikap diam itu membuatnya marah. Kan lucu sekali.

“Dasar manusia terkutuk dan tak tahu diri”, kata inang Nurak sambil melengos masuk, meninggalkan mo‟an Teus di muka rumah.
Saya menjadi panas dan marah. Kalau tak ingin ditahan-tahan, ingin sekali saya mencekik leher dan menarik rambut perempuan itu. Ingin juga memberinya pelajaran karena mencampuri kebebasan orang lain. Namun saya mengontrol emosi. Saya harus merawat kesegaran perasaan saya untuk menghadapi pertemuan nanti.

Tetangga saya yang lain, Herman, kelakuannya lebih sadis ketimbang inang Nurak. Saya sadar sikapnya yang demikian tentu sangat beralasan. Lima tahun yang lalu, persahabatan kami begitu akrab. Namun suatu ketika, entah setan apa yang merasuki pikiran saya, pengalaman tidak enak itu terjadi.

Asyik Juga Baca Ini: Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Waktu itu, kami duduk di teras rumah, menikmati secangkir kopi buatan Mina, isteri Herman. Tiba-tiba lampu padam, dan saya duduk mendekatinya, juga karena takut. Tiba-tiba saja gairah saya naik ke ubun-ubun. Hal itu membuat saya tak dapat mengontrol diri. Ia memukuli saya hingga memar, sebab saya sudah berani memegang kemaluannya dan mengajaknya bersetubuh. Saya merasa ganjil.

Hari-hari selanjutnya, semenjak kejadian itu, ia terus mengatai saya secara sepihak. Pernah juga ia menyuruh teman-temannya mengintip saya, saat sedang mandi. Mereka membuat kejahilan-kejahilan yang membuat berang. Kadang pula mereka mengambil pakaian dan bra di tali jemuran, lalu mereka mengatai saya gila. Saya merasa ini benar-benar tidak adil. Rasanya saya tidak terima, tetapi semua orang memandangi saya seperti itu. Saya tak bisa berbuat banyak.

“Gagal bunting, mau ke mana? Cari laki?”, katanya.
Saya berusaha meredam emosi. Saya takut ia memukuli saya lagi.

“Dasar penyakit, plastik, sampah masyarakat. Tak tahu malu”, katanya lagi, sebelum saya meninggalkan rumah.

Orang-orang memang suka mencari kesalahan orang lain. Bahkan kebaikan yang tertimbun bertahun-tahun raib dalam suatu kesalahan, meski kecil sekali. Saya sadar itu suatu kesalahan, tapi saya benar-benar tidak tahu. Seolah-olah saya bertindak di luar kendali, tapi itu yang terjadi di tahun-tahun berikutnya.

****

Batang-batang pohon Ansono berbaris di sepanjang jalan menenangkan perasaan saya. Dengan pikiran yang positif, saya menghentikan kemudi di depan taman. Saya tidak peduli terhadap halangan-halangan. Saya hanya berkepentingan untuk membuat pertemuan ini menyenangkan. Tentu juga membahagiakan.

Saya memperlambat langkah yang kadang terburu oleh nafsu, ketika memasuki taman. Tiba-tiba hati saya berdebar lagi. Melewati tanaman-tanaman mawar dan flamboyan membuat emosi saya mengalami sensasi yang membingungkan. Saya merasa tak percaya diri, mengapa mesti terjadi seperti ini. Seolah saya menjadi kecut dan penakut. Hilang harapan dan hati berdebar tak karuan.

Begini, saya agak ragu-ragu bagaimana mestinya mengarahkan pertemuan ini. Dengan apakah saya memulai pertemuan ini; sebungkus rokok, cokelat, senyum atau berpura-pura tak acuh. Dan tidakkah itu terlalu murah, berlebihan dan terlalu mencurigakan. Rasanya kikuk juga. Seolah-olah semua orang sedang mencurigai, jadi saya harus berhati-hati.

Sementara itu, dapat diberi catatan bahwa mungkin sekali percintaan ini tak dibenarkan dengan alasan apapun. Namun saya merasa punya hak dan kebebasan. Saya tak berani memastikan bagaimana pikiran dan perasaannya dengan kondisi ini. Hanya dalam beberapa fakta kecil, misalnya pandangan, sentuhan dan pembicaraan yang tak ragu-ragu dapat disimpulkan keintiman, simpati serta perasaan yang sama.

****

Saya bergegas ke sudut taman, tempat awal perjumpaan kami. Iseng-iseng saya mencoba menebak kira-kira baju apa yang ia kenakan. Baju putih minggu yang lalu saya tak suka. Apalagi kuning, potongannya kurang memikat. Kalau ia memakai baju biru, mudah-mudahan saja, ia akan tampak segar, menggairahkan dan menggoda. Apalagi dibiarkan beberapa kancingnya terbuka dan memperlihatkan belahan dadanya, pasti sensasional sekali.

Tanpa menghiraukan orang lain saya duduk di bangku semen, di bawah pohon Ansono. Saya ingin berbuat bahwa saya sedang asyik sekali dengan pikiran sendiri. Saya berbuat seolah sedikitpun saya tak mengharapkan siapa-siapa. Walau saya hampir tak dapat menahan diri untuk menoleh kalau ada yang muncul di pintu taman. Ini pekerjaan yang menyakitkan sebenarnya. Saya malu pada diri sendiri, apalagi mengingat-ingat kata-kata Inang Nurak, Herman, Susan, Yohan, Polus yang terus-terusan melukai hati saya. Tetapi memang begitulah kenyataannya, apa boleh buat.

Saya akhirnya mengambil keputusan untuk tidak mempersiapkan apa-apa. Biarlah semuanya terjadi seperti improvisasi saja. Saya malah merasa khawatir kalau ia berhalangan datang. Saya kuatkan diri untuk menunggu.

Untuk melewatkan waktu, saya kenangkan pertemuan kami seminggu yang lalu. Ia duduk rapat di sebelah saya. Tangan kami bersentuhan. Aroma tubuhnya yang wangi tertiup angin menggerogoti tubuh saya. Apalagi pagutannya yang sedikit liar, saya merasa terpancing sekali. Saya membelai dadanya yang mekar dan itu membuatnya tak tenang. Benar-benar percintaan yang tidak masuk akal. Toh, itu hak saya.

Waktu itu juga saya menceritakan kepadanya tentang kepribadian timur. Bagaimana seharusnya kita berbuat dalam bergaul dengan sesama manusia, apapun perbedaannya. Lalu ia juga menceritakan sebuah drama dari Samuel Beckett yang penuh dengan filosofi hidup. Manusia, kata dia yang saya ingat; „ mengalami diri sebagai terlempar dan menjalankan sebuah lakon tanpa latihan. Manusia terlempar ke dunia dan memulai sesuatu dengan dirinya. Manusia mengalami hadir di dunia tanpa tahu mengapa dan untuk apa. Menjadi perempuan, laki-laki, bermoral atau amoral, semuanya serba kosong, tanpa manusia tahu sebelumnya. Ia hanya perlu melatih dirinya setiap menjadi siapa dan untuk apa‟. 

Saya kagum dengan perkataannya itu. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan kepandaian semacam itu. Tetapi hal itu sudah membuat saya merasa tenang.

****

“Maaf”, suara seorang perempuan menghampiri saya. Ia memandangi saya dengan tatapan heran dan penuh hati-hati.
“Apakah anda menunggu John”.
Saya menjadi tersirap dan mulai curiga. Saya menggelengkan kepala, pertanda tidak. Lalu saya merasa pengecut sekali. Untunglah perempuan itu tak menyelidik lebih lanjut.

Ia lalu duduk di samping saya dengan wajah gusar. Saya berusaha tak mempedulikan dia, tetapi raut wajahnya begitu simpatik.

“Ketika buah dada mulai susut dan tubuh kurang terpelihara, barangkali itu awal yang membuat kehidupan keluarga tidak harmonis”, katanya.

Perempuan itu memandang saya. Saya berusaha bertingkah senormal mungkin, sedikit cemas kalau-kalau ia mencurigai saya. Juga saya sedikit takut, kalau-kalau ia sempat membaca pesan yang saya kirim.
“Mungkin anda hanya merasakan sedikit dan tak akan pernah menjadi wanita sejati”, katanya lagi.

Perempuan itu memandang saya lagi dan mengulurkan tangan.
“Saya Anjelina, isteri John”, katanya memperkenalkan diri.
“Claudia”

Saya menjabat tangannya erat dan menyebutkan nama tak tenang. Dari binar matanya saya merasa tertusuk. Ingin sekali emosi saya meledak, tapi saya tidak mampu berbuat apa-apa.

“Saya kira dia tak datang”, katanya.
“Siapa”
“Selingkuhannya”

Saya termangu-mangu setelah itu dan bersikap sewajarnya. Saya sudah menduga, kalau perempuan ini benar-benar tidak menyimpan curiga terhadap saya. Ia pasti tak mempercayai kalau saya orangnnya. Saya pikir juga karena kurangnya pemahaman serta perkembangan zaman, sehingga ia tak menyimpan curiga terhadap saya sedikitpun. Saya merasa bersyukur.

“Kalian bertengkar”, kata saya.
“iya”


Nada suaranya begitu memiluhkan, seperti tersendat-sendat dan ingin rasanya wanita itu menangis di hadapan saya. Saya berusaha memahami, namun sedikit merasa cemburu juga.

“Empat tahun yang lalu saya sudah merasakan kelakuannya itu. Semenjak anak pertama kami lahir, ia tak pernah meniduri saya, bahkan menghampiri pun tak pernah. Pernah juga saya dalam kodisi telanjang di atas kasur, memancing birahinya. Semuanya sia-sia. Saya merasa sakit hati sekali dengan sikap dinginnya itu. Sebagai wanita saya juga ingin kebutuhan bilogis itu terpenuhi”, katanya.

Ia tampak bersedih sekali. Air matanya merangkak sepanjang pipi. Sesekali ia mengarahkan pandangannya ke langit, menyembunyikan tangisan yang tidak ingin ia tunjukan di hadapan saya.
“Maaf saya sudah berterus terang seperti ini”, katanya.

“Saya maklum”.

“Anda tentu merasakan sedikit dari apa yang saya dan perempuan lain alami di dunia ini. Kita terlahir berbeda. Kalaupun saya tahu dengan tubuh apa saya menjalani kehidupan dunia, saya tidak ingin menjadi wanita.”, katanya lagi.

 Darah saya terkesiap lebih keras. Saya merasa harus cepat-cepat pulang. Tengkuk saya rasanya panas. Saya merasa kerdil sekali. Kalau tidak ingin bersembunyi, ingin pula saya berterus terang.

Perempuan itu pasti kaget sekali.
“Maaf saya harus pergi”, kata saya.
Tanpa menunggu jawabannya, saya berlalu dari hadapannya. Saya seperti dikejar beban yang berat di atas punggung, sebelum melewati pintu taman. Betapa malu saya pada diri sendiri. Saya telah berbuat sesuatu yang tak bisa terbayangkan terkutuknya. Saya telah mengotori dunia lebih cepat dari seharusnya. Tapi saya juga sungguh-sungguh ingin membela diri. Saya tak mengerti mengapa terjadi seperti ini. Ingin rasanya saya menyalakan hal ini pada Tuhan kalau ia benar-benar nyata. Namun semuanya seperti bertanya di tengah gemuruh angin, sia-sia.

****

Ketika sampai di dekat rumah, inang Nurak mengganggu saya pulang. Ia melirik saya dengan cemoohan dan melontarkan sindiran. Emosi saya menjelma bara api. Panas sekali rasanya. Saya sudah tak terima dengan perlakuan ini. Saya merasa orang-orang tak pernah mengerti.

“Hmmm, dasar plastik. Manusia terkutuk”.
Saya tak bisa menguasai kesadaran saya lagi. Darah saya mendidih begitu hebat.
“Diam bangsat. Diam perawan tua”, kata saya dengan berang.

Saya tak peduli betapa berangnya ia mendengar bentakan itu. Saya berlalu terus melangkah ke kamar. Saya melihat diri di depan cermin.

“Kamu, kamu, siapa kamu?”, saya seperti mendengar kata-kata itu dalam hati saya. Rasanya saya ingin mengutuki diri saya.
Saya membuka seluruh pakaian saya. Saya malu menatap diri saya dalam keadaan bugil seperti ini. Saya memang plastik, nama pun tubuh. Ingin sekali juga saya berteriak sekeras yang saya mampu. Namun semuanya seakan sia-sia. Saya seperti tak memihak pada satu tubuh. Sebab itu pula orang-orang mengatai saya secara kotor dan tak normal.

Saya meraba-raba dada saya yang sudah lima tahun ditutupi gabus melengkung, seperti payudara wanita. Saya memegang kemaluan saya yang menjuntai ke bawah dan kusut, karena tak dan aliran darahnya. Bahkan seorang wanita bertelanjang di hadapan saya pun, kemaluan saya sepertinya pasif sekali, kalau tidak dikatakan impotensi. Hanya kepada John dan laki-laki saya merasakan gairah dan kenikmatan yang begitu purna. Saya merasa malu sekali dengan diri saya dan ocehan tetangga-tetangga saya. Saya merasa tak mampu memikul beban ini. Ya Tuhan.

Kornel Wuli, mahasiswa di STFK Ledalero-Maumere. Menyukai kisah aneh dan beberapa potong kenangan.

Comments

  1. Sesal.... benar-benar menyesal.
    Kalau terima abu pas rabu abu ada pesan yg selalu diperdengarkan, " Bertobatlah, dan percayalah pada Injil"
    😂🙏

    ReplyDelete
  2. Sesal.... benar-benar menyesal.
    Kalau terima abu pas rabu abu ada pesan yg selalu diperdengarkan, " Bertobatlah, dan percayalah pada Injil"
    😂🙏

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...