Gambar: Dokpri
Pada suatu hari nanti, jika aku tak ada di sini, kuharap kau akan baik-baik saja dan terbiasa tanpa diriku. Aku bukan sedang berharap untuk segera pergi dan meninggalkanmu tetapi aku sedang berjaga-jaga bila waktu itu datang tiba-tiba, setidaknya dirimu telah mempersiapkan dengan baik.
Pada suatu hari nanti, aku hanya bisa berdoa agar yang pernah menjadi bagian dalam hidupku, kelak akan kekal selamanya dalam keabadian. Apa pun cerita dan kisah yang pernah dilalui.
Enak Juga Baca Ini: Kehilangan Yang Tak Tergantikan
Pada suatu hari nanti, jika aku mencintaimu lebih dari yang tak pernah kau tahu, jujur aku akan sangat berterima akan semuanya itu. Aku akan berterima kepada masa lalumu. Aku akan berterima pada Sang Waktu yang telah dan dengan beraninya mempertemukan kita.
Pada suatu hari nanti, kau adalah amin yang selalu kusemogakan dalam aman. Nafasku selalu penuh dengan namamu. Nama yang berasal dari masa lalu. Entah mengapa aku bisa jatuh cita padamu dengan tiba-tiba.
Pada suatu hari nanti, jika kau dan aku telah menjadi kita, aku akan mengulang apa yang telah kukatakan pada awal tulisan ini. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu. Oleh karena itu, aku selalu mendoakan kebaikan dan keutuhan kita.
Pada suatu hari nanti, mari kita rayakan kebahagiaan bersama pada sebuah altar yang penuh dengan bunga-bunga doa.
2020
Fian N, menyukai lombok kecil dan kamu. Mengalami tunasastra sejak 2016. Musafir (Rose Book, 2018) dan Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) adalah dua buku kumpulan puisi tunggalnya. Kini bekerja sebagai tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

Comments
Post a Comment