Skip to main content

Pada Suatu Hari Nanti, Jika Kita

Gambar: Dokpri

Pada suatu hari nanti, jika aku tak ada di sini, kuharap kau akan baik-baik saja dan terbiasa tanpa diriku. Aku bukan sedang berharap untuk segera pergi dan meninggalkanmu tetapi aku sedang berjaga-jaga bila waktu itu datang tiba-tiba, setidaknya dirimu telah mempersiapkan dengan baik.

Pada suatu hari nanti, aku hanya bisa berdoa agar yang pernah menjadi bagian dalam hidupku, kelak akan kekal selamanya dalam keabadian. Apa pun cerita dan kisah yang pernah dilalui.

Enak Juga Baca Ini: Kehilangan Yang Tak Tergantikan

Pada suatu hari nanti, jika aku mencintaimu lebih dari yang tak pernah kau tahu, jujur aku akan sangat berterima akan semuanya itu. Aku akan berterima kepada masa lalumu. Aku akan berterima pada Sang Waktu yang telah dan dengan beraninya mempertemukan kita.

Pada suatu hari nanti, kau adalah amin yang selalu kusemogakan dalam aman. Nafasku selalu penuh dengan namamu. Nama yang berasal dari masa lalu. Entah mengapa aku bisa jatuh cita padamu dengan tiba-tiba.

Pada suatu hari nanti, jika kau dan aku telah menjadi kita, aku akan mengulang apa yang telah kukatakan pada awal tulisan ini. Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu. Oleh karena itu, aku selalu mendoakan kebaikan dan keutuhan kita.

Pada suatu hari nanti, mari kita rayakan kebahagiaan bersama pada sebuah altar yang penuh dengan bunga-bunga doa.

2020

Fian N, menyukai lombok kecil dan kamu. Mengalami tunasastra sejak 2016. Musafir (Rose Book, 2018) dan Ada Rumah Dalam Tubuhku (Arashi Group, 2020) adalah dua buku kumpulan puisi tunggalnya. Kini bekerja sebagai tukang masak di Pondok Baca Mataleza.

Comments

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...