Skip to main content

Di Padang yang Pernah Kuceritakan dan dua puisi lainnya

Ilustrasi: Pixabay


Di Padang yang Pernah Kuceritakan

di padang yang pernah kuceritakan, bangau-bangau tua dan gerombolan angin hempas ilalang. kusisipkan sehilir anak sungai ke jurai rambutmu. bila kemarau datang membakar larik yang kaupagarkan untuk negeri. atau hujan menukar hijau dari dusun-dusun rimbun. menarilah dalam tarian yang kauliukkan ketika hari tinggal sepenggal ngeri. akan kukirimkan kalimat yang tak pernah selesai kaurangkai, "setiap hari kita lihat unggas-unggas berpergian. musim jadi menakutkan dan tuhan seolah-olah dilempar dengan doa pura-pura!" setelahnya padang itu sunyi. hanya sekali waktu kautiup jua kepedihan menyambut malam

Enak juga baca ini: Pada Suatu Hari Nanti, Jika Kita

sekian purnama kita tak bersama. begitu juga kata-kata di padang itu negeri tak lagi berpagar. selain kepedihan kian sayup hanya ilalang merisik dan kabarmu yang tak jelas "sehilir anak sungai yang kusisipkan di jurai rambutmu, apakah telah kaumuarakan menjadi beton dan angkuh kota? sementara di sini kanak-kanak terus lahir dari liuk tarian yang kautinggal"

di padang yang pernah kuceritakan. aku selalu menunggu dalam kata-kata tak sempurna.

Simalanggang, Mei 2009

Lilin

setelah berhitung malam, lilin itu kini tinggal kejap kita saling menyerahkan waktu. pada malam yang jauh kauceritakan perjalanan dari kaki bukit. sebuncah gigil yang kausung dari baris-baris kesal. "aku pernah menunggu. tapi setelah pertemuan, ucap kata kautinggal hanya membenih menjadi kobar tak termaknakan!" kemudian kita lukis liuk cahaya ke dalam gambang yang tiba-tiba berhamburan menyerbu kelam "lihat, tetes itu kini menjelma sungai. seribu gelisah berlarian ke rabu hulu. memecah kata di muara"

lalu gelap. lilin itu menelan lelehnya sendiri pada garis kesunyian ini setelah kaukembali ke bukit tempat cinta sempurna kauserahkan. aku menjalin-jalin gigil dengan puisi yang gagap. bahwa waktu yang kauserahkan telah meledak malam ini. bila kaudatang kembali, cahaya di sini benar-benar telah mati.

"lilin itu, ada sesuatu yang menghadang kita tak bisa untuk menggambarnya" Kemudian kudengar kabar di bukit itu gigilmu menjalar menjadi kata yang ngilu

Payakumbuh, Mei 2009

Usia
    kado buat jamila

bocah-bocah mengulurkan tangan ke langit. soraknya menjadi layang-layang. gerombolan awan, angin dan cuaca, mari bermain dalam rindu gerimis atau pelangi. sebab, bila senja, senyap dikirim dalam tentang rahasia. di jendela, kalender di tubuhmu ruruh gelisahnya menjalar ke ranjang. menjadi keringat waktu. usia, kausetubuhi telanjangku tiada penat. kenapa tiba-tiba aku betapa takut pada senja? gemuruh rusuh yang menujah-nujah tubuh

dan mei berkemas lunglai senantiasa dalam cemas. kaudiam juga tak menutupi jendela. sungguh, aku belum siap untuk menutup waktu bahkan antara menangis dan riang, kau berlari ke halaman mengejar bocah-bocah. ayo, kita menjadi layang-layang yang tak akan lelah untuk terbang. lalu kauulurkan selalu usia seraya berharap, wahai, akulah bocah yang ingin menganjungkan berjuta-juta senja!

ah, usia, mengapa selalu ada cemas di dalamnya. mengapa?

Payakumbuh, Mei 2009

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Musim Retak (2005) dan Dongeng-dongeng Tua (2009)

Riwayat karya: ke-tiga kumpulan puisi di atas pernah tersiar di Koran Kompas edisi Minggu 21 Juni 2009. Dan, ketiga puisi ini saya ambil dari hasil koleksi kliping sastra di Koran Kompas khusus puisi dan cerpen.

Comments

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...