Skip to main content

Tentang Luka: Kita Semua Pernah

Ilustrasi: Pixabay

Bangun pagi, masih seperti kemarin tetapi yang berubah hanya posisi tidur saja. Dan, saya mulai sadar bahwa setiap bangun pagi, saya merasakan bahwa saya sementara bernafas. Di setiap tarikan dan hembusan nafas adalah doa dan syukur yang tak pernah uzur. Seperti luka ia selalu subur bahkan tumbuh tabah di sana.

Baca Juga: Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Menyoal luka, kita semua pernah. Tetapi tidak semua kita alami itu dengan cara yang sama. Ada yang unik tetapi sangat menyakitkan. Namun, ada di antara kita yang ingin terus ada dalam luka-luka itu. Ingin pergi tetapi selalu takut akan mulut-mulut sampah yang penuh kebuasan dan menjijikan! Akan ada yang mengatakan bahwa kita bukan pribadi yang baik. Karena ketakutan itu, kita sering diam dan ada terus dalam luka.

Pernah saya menemukan sebuah tulisan, tapi saya lupa siapa penulisnya. Dia mengatakan demikian, semua orang punya hak berbicara tentang kita. Tetapi kita juga punya hak untuk tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Keluarlah dari zona penuh luka. Temukan diri kita yang sesungguhnya tanpa harus menanggung setiap luka yang datang terus-menerus.

Baca Juga: Bahagia itu tidak Sesederhana yang Dipikirkan

Berani mengambil sikap atas sesuatu yang tak pantas untuk kita terima. Temukan kelemahan dalam diri kita masing-masing dan carilah jalan keluar untuk menemukan kelebihan yang tersembunyi, Fian N

Berani untuk berkata jujur pada sesuatu yang tidak.

Fian N, 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...