Gambar: Dokpri
(Ini ekspresi apa?)
Kesedihan bisa aku lenyapkan, tetapi ketidaksabaran untuk segera menggapai kebahagiaan tidaklah mudah untuk disingkirkan. (Simon de Beauvoir)
Bicara bahagia tak ubahnya kita bicara tentang cinta dan benci. Sulit diraba tapi mudah dirasakan akibatnya. Bergerak seperti rayap. Diam-diam tetapi akibatnya, terdapat keropos pada kayu yang dirayap.
Seperti itulah bahagia. Tetapi, tidak semudah yang dipikirkan. Butuh perjuangan dan kemauan, jika hanya perjuangan tetapi tidak memiliki daya juang, maka hanya berakhir sia-sia. Kesia-kesiaan itu terkadang melahirkan banyak sakit pada hati dan depresi yang berkepanjangan. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam ketidaksanggupan bangkit dan terjebak dalam keterpurukan.
Baca Juga: Ketika Semua Tak Ada Di sini: Hanya Ada Kita Berdua
Kita melihat dan menemukan orang tertawa dan senyum, ada juga yang menangis di tengah keramaian tawa. Di saat-saat seperti itu, tidak semua tawa, senyum dan tangis menggambarkan pribadi tersebut sedang bahagia. Sebab, Pura-pura bahagia adalah sebuah seni menyembunyikan sedih. Orang tertawa, itu tampak pada air muka saja. Orang menangis itu tampak pada air muka saja. Dalam kedalaman diri, ada luka-luka yang ingin desembuhkan meski ada bekas yang membekas kekal.
Pura-pura bahagia adalah sebuah seni menyembunyikan sedih.
Jadi, jangan pernah berpikir bahwa bahagia itu sesederhana yang dibayangkan. Bahagia itu sama sulitnya dengan membalikkan telapak kaki. Orang tertawa bisa saja bahagia dan bisa saja sedang dirundung duka namun kuat untuk menyembunyikan semua duka itu. Orang yang menangis, belum tentu ia sedang terluka tetapi rasa haru yang kelebihan bahagia. Bahagia itu relatif. Sama hal kita bicara tentang cantik dan ganteng pun cinta demikian.
Terus, apa yang harus kita lakukan agar bisa bahagia? Tidak ada yang perlu dilakukan selain jalani saja semua lakon kehidupan ini apa adanya. Sandiwara seperlunya. Jangan terlalu jujur pada sesuatu yang masih menyimpan ragu.
Baca Juga: Musafir: Untuk Hidup Orang Mesti Bertanya
Lakukan yang bisa dilakukan dan jalani saja apa yang bisa dijalani. Jangan memaksakan diri untuk segera menemukan kebahagiaan. Semua kita punya porsi dan kesempatan untuk berbahagia jika tiba waktunya. Jika belum, teruslah jalani hidup ini tanpa harus banyak mengeluh. Bukan tidak perlu, tetapi mengeluh sewajarnya saja. Sebab, setiap keluhan bisa menjadi daya pacu untuk sebuah kegigihan selanjutnya.
Sampai pada titik ini, bahagialah dengan caramu. Jangan jadi mereka agar bisa bahagia. Sebab, cara menikmati dan mensyukuri bahagia pada setiap orang itu berbeda.
Mari, kita rayakan kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan, siapa tahu itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Fian N

kali ini tulisannya dalam sekali dek 😍😍😍
ReplyDeleteHahahha Terima kasih, kak.
DeleteWah selama ini belum dalam ee haha
Keren keren kak
ReplyDelete