Skip to main content

Teka-teki di Balik Penambahan Emoticon di Facebook

ilustrasi: Om Google

Hallo, Sahabat catatanalfianus, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan yang sehat. Salam jumpa, salam sayang. Saya harap, semua kita masih betah untuk selalu #dirumahsaja. Saya juga berharap semoga rasa penasaran Anda tetntang sesuatu yang terjadi di luar sana, tetap tumbuh aman dan selow, biarkan saya yang menuntaskan rasa penasaran Anda melalui omong-kosong sederhana di bawah ini.

Para Sahabat catatanalfianus masih ingat tulisan tentang Syukur ada Facebook? Kalau masih ingat, syukurlah, kalau tidak silakan baca di sini Facebook dan Kenangan. Dan pada kesempatan ini, saya juga menulis lagi untuk para facebookers di tengah pandemi Covid-19. Saya hadirkan teka-teki di balik penambahan emoticon di Fcebook.

Saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan, berapa banyak sumbangan yang diberikan oleh lord Mark Eliot Zuckberg bagi para medis dan juga masyarakat yang mendapatkan dampak dari Covid-19?

Oke, secara finansial, lord Marck Eliot Zuckberg sebenarnya tidak sendirian menyumbangkan 400 M yang sudah dirupiahkan untuk mendanai penelitian tentang Covid-19 melalui yayasan The Chan-Zuckberg Initiative serta bermitra dengan Bill dan Melinda Gates (liputan6.com). Karena penasaran, saya mengajukan pertanyaan untuk Anda, sekali lagi mungkin juga berkali-kali, apakah sudah ada yang tahu penemuan dari penelitian itu ataukah jangan sampai penelitian itu tidak berjalan?
Mari, tinggalkan pertanyaan di atas, dan semoga Bill Gates tidak memblokir laman blog ini karena menyebut namanya tidak dengan hormat. Hahahaha.

Baca Juga: Seringkali Kita Takut Berkata Jujur pada Sesuatu yang Sebenarnya Tidak

Saya boleh berasumsi, bahwa hasil mitra tersebut adalah emoticon pada facebook yakni, emoticon kepedulian. Sebuah lingkaran penuh berwana kuning, ada mata, ada alis, dan tangan yang sedang memeluk hati berwarna merah. Sebuah emoticon yang menarasikan segala macam perasaan yang sedang melanda umat manusia di tengah pandemi yang mengerikan ini. Hal ini melengkapi emoticon super, sedih, dan wow.  Mengapa emoticon?

Masyarakat kita adalah masyarakat jejaring. Bentuk kepedulian digital lebih nyata dari pada kenyataan itu sendiri. Masyarakat kita adalah masyarakat ‘mode gratis’. Masyarakat yang ingin dijangkau dengan mudah serta tidak mau mepersulit diri. Ini fakta.

Mengapa demikian?

Direktur Jurnalisme University of Hongkong Pusat Studi, Prof. Kith B, Richburg, pernah berkata demikian pada sebuah kesempatan, “kami sangat antusias untuk bermitra dengan Facebook sebagai media pemberitaan untuk mempromosikan literasi berita di belahan dunia ini (Merdeka.com).”

Apa hubungannya dengan emoticon peduli pada facebook yang ditambahkan beberapa minggu yang lalu dengan pernyataan Prof. Kith? Ini hanya teka-teki di tengah pandemi Covid-19. Saya meyakini bahwa penerapan Social Distancing inilah yang bisa jadi memaksa orang-orang-nya lord Mark Eliot Zuckberg untuk memberikan peduli melalui emoticon atau fitur tambahan pada facebook. Sebab, jika kepedulian melalui barang yang nyata, bakal fatal. Proses penyebaran Covid-19 akan semakin meningkat karena semua bantuan itu pastinya diekspor.

Tanpa harus bersentuhan langsung bukan berarti orang tak saling memedulikan. Oleh karena itu, lord Mark Eliot Zuckberg masih memberikan kita kesempatan untuk berbagi kepedulian melalui emoticon peduli pada facebook. Facebook menjadi rumah sekaligus media literasi yang mengajarkan para facebookers untuk saling berbagi kepedulian. Mendidik secara digital itu lebih mengasyikkan di dunia yang serba cepat (jejaring). Masyarakat ‘dituntut’ agar mampu berjejaring secara bijak.

Baca Juga: Bagaiman Menjadi Baik untuk Diri Sendiri?

Sampai di sini, apakah emoticon peduli pada facebook masih menjadi teka-teki? Jika di catatanalfianus Anda tidak menemukan teka-teki itu, silakan bertanya pada om Google. Di sana, Anda akan digiring ke dalam gawang pencerahan yang instan demi menemukan goal hidup Anda.
Akhir kata, terima kasih. Tetap di rumah. Saya menulis untuk Anda. Cintailah diri Anda dan keluarga Anda dengan tetap jaga jarak.

Pogopeo, 2020

Comments

  1. Terima kasih, Nong. Jangan lupa nantikan tulisan selanjutnya.

    ReplyDelete
  2. Mantap kaka, sangat aktual. Ditunggu artikel terbarunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Bro. Semoga masih punya kesempatan untuk menulis lagi.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...