Ilustrasi: Pixabay
Desember kali ini, hujan jarang sekali datang. Baru beberapa hari yang lalu hujan turun dengan lebatnya hingga got-got memuntahkan sampah-sampah ke jalanan. Namun hari ini kembali terik.
Lora duduk di bawah pohon ansono di depan sebuah gedung di kampusnya. Rumput yang tumbuh subur seperti permadani hijau menjadi tempat duduk yang nyaman. Kakinya menjulur ke depan. Ansono itu jadi tempat ia berlindung sementara dari panas yang menyengat.
Baca Juga: Sering Disakiti, Tapi Masih Juga Bertahan
Tak jauh dari tempat ia duduk, beberapa orang melintas sambil berlari kecil, tidak tahan dengan sengatan matahari. Yang lain menyembunyikan wajah mereka dengan kertas atau buku atau tas. Yang lain seolah tidak peduli dan asyik ngobrol seolah matahari sedang ramah pada mereka. Lora memperhatikan mereka yang lewat dan juga sepatu yang mereka pakai. Sesekali wajahnya terkagum-kagum dengan sepatu mereka yang bagus. Dan lalu berubah lagi dengan ekspresi biasa saja kalau-kalau sepatu yang terlihat olehnya biasa saja atau buruk sama sekali.
Wajahnya lalu kembali murung. Pandangannya jatuh kepada kedua kakinya, ke sepatu yang sedang ia pakai. Boot merah yang ia pakai itu berbahan kanvas. Tali sepatunya berwarna orange. Modelnya hampir mirip seperti sepatu Compas jadul. Tapi ini bukan Compas. Tidak ada logo apapun di situ. Ia beli delapan bulan lalu. Itupun dengan harga lima puluh ribu di pasar loak pula. Dan sekarang warna sepatu itu mulai pudar. Di sisi kiri sepatu kiri ada sobekan kecil.
Benang-benangnya kesana-kemari seperti anemon laut. Sedangkan di sepatu kanan, tepat di ibu jarinya ada sobekan juga. Kali ini seperti guratan lurus. Karena di bagian itu kainnya tipis, tidak ada benang yang ramai seperti anemon laut. Tapi jari ibunya hampir kelihatan dan guratan itu cukup muat untuk mengeluarkan ibu jarinya.
Sejak SD, Lora selalu punya masalah dengan sepatu. Padahal saat bermain lompat tali, bermain petak umpet atau lari-lari saat kelas olahraga, Lora selalu menanggalkan sepatunya. Tapi tetap saja, sepatunya akan rusak duluan dari teman-temannya sebelum libur naik kelas. Pernah sekali waktu, ada kelas olahraga. Hari itu panas sekali. Ubin di sekolah juga turut panas dan Lora dan kawan-kawannya akan bermain bola kasti. Lora melepas sepatunya saat hendak bermain. Ketika di lapangan, kakinya kepanasan. Ia tak tahan dan terpaksa keluar lapangan dan memakainya lagi. Ketika selesai kelas olahraga, mereka kembali ke kelas. Lora mendengar beberapa anak perempuan di belakang tertawa cekikan. Ia menoleh dan mendapati mereka mengamati sepatunya. Kaos kakinya yang kelebihan karena kepanjangan yang sengaja ia lipat di bawah telapak kakinya itu keluar dari telapak sepatunya yang sudah robek. Ia hanya memandangi mereka lagi, lalu berbalik dan kembali menuju kelas. Lola tahu ini belum saatnya punya sepatu baru. Ujian naik kelas masih bulan depan. Ia tak berani meminta sepatu baru dari Ibunya.
Ketika SMP, sepatu malah jadi bahan bertengkar Lora dan Ibunya. Ia mau beli sepatu mahal biar tidak cepat rusak.
“Kalau mau beli sepatu mahal, liburan itu ke kampung bapak. Pilih kemiri lalu jual.” Bentak Ibunya. Lora hanya menangis. Itu jelas tidak mungkin. Bapaknya entah ke mana. Dan Ibunya sering ngawur saat menghadapi Lora.
Lora terpaksa membeli sepatu yang sesuai uang yang diberikan ibunya. Sudah tentu Lora akan membeli sepatu yang ia tawar habis-habisan. Setidaknya sepatunya tidak buruk-buruk amat dan bisa bertahan sampai jatah beli sepatu baru datang kembali. Di SMP, tidak ada permainan lompat tali lagi. Dan ini akan membuat ia lebih banyak diam kecuali saat kelas olahraga.
Lora mulai paham dengan tak-tik memilih sepatu. Ketika SMA, selama tiga tahun itu ia hanya punya satu pasang sepatu dan bertahan sampai ia tamat. Itu bukan sepatu mahal untuknya. Tapi telapak sepatu itu berwarna kuning. Lora meyakini ini sepatu yang kuat. Ia tidak akan menemukan lagi kaos kaki yang keluar dari sepatunya.
Tapi saat kuliah, situasinya berbeda. Lora tak mendapatkan jatah beli sepatu baru serutin dulu. Kedua adiknya yang bersekolah memangkas jatah sepatu baru untuknya. Tapi Lora paham. Ia tak butuh sepatu yang bagus atau bermerek.
Setidaknya yang bisa mengantarkannya ke kampus. Namun ia perlu memadu-padankan pakaiannya yang akan dipakai ke kampus dengan sepatu merahnya. Lora merasa tidak serasi jika memakai sepatu boot merah yang lusuh dengan rok span hitam dan kemeja krem lengan panjang atau dengan rok pink beach polos dengan kemeja coklat tua. Lora perlu sepatu flat coklat tua yang manis dengan punggung kaki yang terlihat saat ia tampil feminim dengan rok bundar yang panjang 10cm di bawah lutut. Atau mungkin dengan celana tisunya. Akan lebih manis jika ia tampil ke kampus tiap hari dengan sepatu yang berbeda. Yang senada dengan warna-warna pakaiannya yang mencolok. Tapi ia hanya bisa tampil agak tomboy dengan sepatu boot merah itu. Celana jeans dan kemeja yang kebesaran misalnya.
Lora teringat dengan beberapa foto sepatu yang sempat muncul di beranda facebooknya, postingan seorang teman yang jadi reseller online. Warnanya coklat tua dan ber-hak sekitar 2cm. Bahannya tentu saja bukan kanvas, tapi kulit mengkilap. Lora senyam-senyum sendiri. Ia membayangkan jika ia memakai sepatu itu, tapi dengan rok bundar yang menutupi hingga ke tulang keringnya. Mungkin ia akan tampak manis dan sekaligus lucu. Bergaya seperti itu seperti anak-anak hipster yang menyukai seni kontemporer dan barang-barang antik sepertu piringan hitam dan kamera yang masih memakai film. Selain itu, orang-orang akan menganggap mereka aneh karena selera fashionnya. Meskipun Lora tidak masuk kategori anak hipster, barangkali sepatu itu bisa jadu alternatif untuk dipakai saat wisudanya nanti. Harganya 300 ribu. Wisudanya masih lama, 2 tahun lagi. Jadi ia masih punya kesempatan untuk mengumpulkan uang.
Foto-foto sepatu itu terpajang di sebuah album dengan rapi, lengkap dengan keterangan bahan dan harga. Lora menyukai sepatu putih polos. Ia memiliki tinggi badan yang bagus seperti pemain voli pada umumnya jadi ia pikir ia tak perlu memakai sepatu yang memiliki hak. Sepatu ini bebas dengan kombinasi pakaian apapun yang dikenakan. Jadi Lora hanya butuh satu sepatu ini saja untuk ke kampus. Harganya lebih murah dari boot coklat tadi; 100 ribu. Tapi apakah kuat?
Hacciiii! Nada notifikasi pada hape Lora menghentikan perhatiannya. Sebuah chat masuk. Ini dari adiknya. “Isikan saya pulsa 10 ribu ya? Saya butuh kuota data untuk bikin tugas.”
Lora menarik napas panjang. “Kampret!”. Ia mendengus pelan. Ia mengarahkan pandangannya ke orang-orang yang masih lalu-lalang lalu ke atap gedung, lalu ke arah langit. Di sebelah barat, dari pohon-pohon dan gedung-gedung yang tak seberapa tinggi, gumpalan awan hitam mulai bermunculan. Sebentar lagi hujan. Sama seperti yang dirindukan oleh orang-orang kebanyakan yang terbakar terik. Dan Lora harus menjaga sepatunya agar tetap kering.
Maumere, 10 Januari 2020
Caroline Karmadina, aktif di Komunitas KAHE, Maumere.

Terima kasih K Fian. Ini cerpen yang baik, karena selesai😁. Saya baru belajar menulis fiksi. Saya tunggu kritik dan saran dari teman-teman. Terima kasih banyak. ❤
ReplyDeleteTerima kasih, Pena. Terus menulis lagi. Terus lebih baik.
Delete