Skip to main content

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza
Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N)
Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?”

Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-segan penuhi kepala kami. Saya keluarkan semua buku-buku dari kamar. Tomi dan Zeno kaget. “Kami tidak berpikir kalau ada buku sebanyak ini,” sahut Tomi yang sedang mengamati saya. Setelah buku dikeluarkan, kami memikirkan nama untuk sebuah keanehan ini.

Tanpa menunggu lama, kami sepakat untuk memberi nama komunitas literasi ini, Pondok Baca Mataleza. Dengan motto, Mange Mai, bo'o tosi. Jika diterjemahkan, Mataleza artinya Matahari dan sedangkan Mange Mai, bo'o tosi artinya datanglah saat merasa lapar, pulanglah setelah kenyang. Maksud kami adalah jika Anda butuh asupan pengetahuan, silakan datang, jika sudah memiliki sedikit dari pengetahuan itu, pergilah dan bagikan pengetahuan itu kepada siapa saja.

Kami percaya, buku bisa mengubah cara pandang siapa saja tentang hidup ini. Buku bukan hanya jendela dunia tetapi bisa menerbangkan imajinasi Anda untuk berkelana dalam dunia yang kompleks ini. Jika Anda tidak punya kesempatan mengelilingi dunia,ambilah buku dan bacalah. Di sana, Anda akan menemukan beragam manusia dan segala kehidupan sosial, politi, agama, adat, kebiasaan dan budaya yang memperarat rasa kemanusiaan dan juga antarsesama.

Untuk itu, jika Anda tidak percaya, coba ambilah buku yang paling Anda sukai, buka dan bacalah. Saya pastikan bahwa Anda akan tersenyum dan tertawa lepas. Di saat itulah, Anda sedang menjerumuskan diri Anda ke dalam dunia yang sebenarnya tidak asing dan tidak jauh dari dirimu meskipun buku itu ditulis oleh orang yang mungkin tidak Anda kenal sebelumya.

Sampai di sini, kami masih dan sedang bermimpi. Semoga, mimpi-mimpi ini menjadi kenyataan.

Tidak perlu menunggu sesuatu yang istimewa agar bisa dibagikan. Kita mulai dari hal-hal sederhana dengan cinta yang penuh kesadaran. Kami, manusia aneh yang ingin berbagi dari segala kekurangan. Dari kampung yang tidak kampungan, kami mulai perjalanan ini melalui Pondok Baca Mataleza. Namun, keterbatasan akses buku, itu yang kami alami saat ini. Jika sama saudara dan para sahabat kenalan mau berbagi kebaikan kepada kami, dengan senang hati kami siap menerimanya dan menjaga api kepercayaan itu.

Silakan kontak kami dan ini alamat kami:

Alamat: Pondok Baca Mataleza
Kelurahan Olakile
Kecamatan: Boawae
Kabupaten: Nagekeo
Provinsi: Nusa Tenggara Timur
Kode Pos: 86462
Nama: Fian N
No HP: 082144147587

(Bersambung. Nantikan kisah selanjutnya dari kami)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...