Ilustrasi: Pixabay
(a)
aku pelawak yang diam saat dirimu tertawa. akulah tertawa saat dirimu diam. dan, tertawa pun benar-benar tertawan di antara kita.
(b)
lahirkan tawa saat langitmu mendung. dan, itulah cara satu-satunya membuatmu pulang pada terang.
pencuri
berjalan di malam bila kau tak berjaga, segala hilang, kembali ke tiada. kau mencari dia mencuri.
air yang mengalir
: Yubili
air yang mengalir dalam tubuhku adalah namamu yang tak mampu kubendung bahkan ia sering dan selalu berenang-renang kian-kemari tanpa henti bahkan di saat aku tidur maupun terjaga ia tetap mengalir seperti biasanya tanpa kenal musim yang datang-pergi
sebuah doa
:Maria
oktober datang. aku diajak mengunjungi sunyi pada sebuah ruang paling sudut. di sana, kami menyalakan lilin, tangan saling genggam, seutas rosario di tangan kami berbisik;
Salam Maria penuh rahmat, doakanlah kami yang datang pada-Mu sebab kami dikandung dengan dosa.
di laut yang tak lagi biru
di laut yang tak lagi biru, luka-luka camar berdarah di atas kapal saudagar yang tak tahu ke mana angin membawanya berlayar dan berlabuh pun tak tahu di mana sebab gelora laut benar-benar mengamuk di atas tubuhnya yang tak lagi biru.
Ledaero, 05/10/2018
Puisi-puisi ini saya tulis di tahun 2018 saat sedang mengikuti kuliah di ruang kelas saat masih aktif kuliah di STFK Ledalero. Puisi-puisi di atas juga pernah dimuat di Harian Flores Pos.
Fian N, suka menulis dan membaca tetapi tidak pernah tuntas.

Dan saya senyum senyum disaat yg menulis ini serius๐ ๐๐
ReplyDeleteHahaha, Terima kasih yang shu senyum senyum ee
Delete