Skip to main content

Ketika Semua Tak Ada Di sini: Hanya Ada Kita Berdua

Ilustrasi: Pixabay

Silakan masuk. Sebentar aku akan menyusulmu ke dalam. Aku melihat situasi di sekitar rumah. Ada pohon yang mulai kekeringan. Bunga yang kian layu dan banyak kotoran kambing di bawah kolong rumah.

Dia masuk ke dalam rumah. Aku menyaksikan dirinya ketika membuka pintu. Dia menanggalkan sandalnya. Tapi, buru-buru aku berkata padanya, bawakan juga sandalmu ke dalam rumah. Jangan sampai ada yang datang dan melihat model sandalmu itu. Mungkin ada yang kenal. Aku tak ingin ada orang lain yang mengetahui keberadaanmu selain diriku dan Tuhan yang kata mereka itu sedang sembunyi dari atas dan melihat kita dengan mata-Nya yang besar. Dia menuruti apa yang aku katakan lalu menutup kembali pintu itu tanpa suara.

BacaJuga: 
Panjang Umur Kegelisahan

Mataku mulai melihat-lihat keadaan di sekitar rumah. Mulai dari halaman belakang, ada lubang sampah yang tak lagi digunakan dan sumur tua yang kini tinggal katrol yang malas memainkan dirinya. Dia akan berbunyi ketika ditiup angin. Daun-daun beringin di sekitarnya terlihat berserakan. Daun-daun bambu kuning itu tampak bersenda gurau dengan kicauan burung dan gesekan antara batang bambu itu membuat gigiku terasa ngilu. Di belakang, aku menemukan masa lalu yang bertebaran di mana-mana. Tak ada lagi pohon jambu. Pohon mangga yang sering kupanjat setelah pulang sekolah, kini tak ada. Pohon nangka, pohon kopi, dan pohon lirik, kini tak ada lagi. Toilet, tersisa rangka saja.

Setelah dari belakang, aku ke halaman depan. Tak ada yang baru di halaman depan selain tanaman kesukaan ibu, pohon pepaya yang kini tak lagi bisa berbuah. Pohon jeruk sudah mengering sejak dua minggu yang lalu sebelum kedatanganku. Pagar rumah yang terbuat dari bonsai kini sudah disulap jadi pagar besi yang mulai karatan. 

Kehidupan berubah begitu cepat. Lebih cepat dari apa yang pernah diharapkan. Ada banyak kerinduan yang belum diterjemahkan tapi lekas tanpa bekas.   

Semua itu sama dengan yang ada di samping kiri dan kanan rumah. Tak ada yang lama. Semua serba baru dengan segala sesuatu yang membuatku malu bercerita bahwa aku pernah tumbuh di tempat ini tetapi tidak ada sesuatu yang tertinggal atau jejak yang menunjukkan bahwa aku pernah di sini.

Setelah melihat-lihat di sekitar rumah. Aku masuk ke dalam rumah dan menyusul dia yang sudah lama menunggu kedatanganku. Di kamar tamu, aku tak menemukan dirinya. Mencari di kamar, semua tak ada. Di lantai dua, hanya ada jemuran yang sedang dimainkan angin. Dapur adalah salah satu tempat pencarian terakhirku. Belum sempat semua badanku berada di pintu dapur, aku melihat sebuah penampakan masa kecilku. Aku melihat dia sedang memasak dan mengenakan baju yang dikenakan ibu dulu. Aku melihat ibu, ibu yang sedang tekun mengiris bumbu, memotong sayur, dan sedang menyiapkan kasih sayang untuk diriku.

Baca Juga: 
Jangan Lupa Cuci Tangan Sebelum Menulis Puisi

Aku melangkah mundur. Mencari pegangan, lalu duduk sejenak. Aku berharap ibu tak datang di saat seperti ini. Aku belum siap menerima kepergian ibu. Bukannya aku tak ingin ibu hadir di sini. Aku coba melupakan ibu dan berusaha kuat di hadapan dia. Aku tak ingin dia melihatku sedih dan tampak rapuh.

Ada apa denganmu? Tiba-tiba dia bertanya. Aku kaget bukan main. Tapi aku pura-pura bersikap biasa. Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa lelah. Dia kembali ke dapur. Aku mencium aroma bumbu dapur yang dulu pernah diracik ibu. Diam-diam, dia melihat ekspresiku.


Kau sedang teringat akan sesuatu? Dia bertanya lagi. Aku yakin ini suara ibu. Iya, aku ingat akan ibu. Dia langsung memelukku. Erat-erat. Kamu tak perlu takut. Ibu tidak benar-benar pergi meninggalkanmu. Ibu ada di hatimu. Ah, dia menguatkanku.

Semuanya sudah masak. Silakan makan. Dia mempersilakan aku makan masakannya. Dia tersenyum. Aku puas. Ini masakan ibu. Apakah ibu pernah mengajarkanmu? Tapi dirimu tak mengenal ibuku selain dari foto itu, kan? Jariku menuntun dia ke dinding pada sebuah foto yang adalah ibuku.

Dia tak menjawab. Dia kembali memeluk diriku. Aku tak kuasa menahan tangis. Tangisku pecah pada pundaknya. Aku lelaki yang terlalu rapuh di hadapan perempuan, seperti di hadapan dia saat ini. Kau lelaki, tak boleh menangis. Dia meyakinkanku.

Baca Juga: 
Musafir: Untuk Hidup Orang Mesti Bertanya

Tiba-tiba, pintu rumah berbunyi tiga kali ketukan. Ada tamu, bisikku pada dia. Aku ke kamar mandi. Mencuci muka dan sekembalinya dari kamar mandi, aku kaget, aku tak menemukan dia. Pintu terbuka dan tak ada siapa-siapa di sana.

Pogopeo, 2020


Comments

  1. Mantap abang... gaya bahasa yang sangat kangen dgn keadaan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...